“Ay, oma masuk rumah sakit!”
Satu kalimat yang ibu katakan, berhasil memporak-porandakan hidupku dalam sekejap. Aku bahkan tidak sempat membereskan barang-barang di kamar. Begitu mendapat kabar oma jatuh di kamar mandi dan dibawa ke rumah sakit, aku meraih koper dan memasukan barang yang terlihat, lalu pergi.
Tidak ada waktu untuk berpikir. Tidak ada waktu untuk bertanya terlalu banyak. Yang ada di kepalaku hanya satu. Oma.
Sepanjang perjalanan, air mataku tidak berhenti. Aku bahkan tidak peduli ketika supir taksi yang ku naiki terus melihat lewat spion dan sesekali menatapku. Air mataku terus mengalir, memburamkan pandangan sepanjang jalan yang terasa begitu panjang.
Tangan ini berkali-kali membuka ponsel. Tidak ada pesan baru. Tidak ada kabar terbaru. Aku mencoba menelepon ibu. Tidak diangkat. Menelepon tante. Tidak diangkat juga. Aku bahkan tidak tahu kondisi oma sekarang seperti apa.
Apakah masih sadar?
Apakah lukanya parah?
Apakah—
Pikiranku berhenti pada satu kemungkinan yang paling tidak ingin kubayangkan. Bagaimana kalau oma pergi sebelum aku sempat bertemu dengannya lagi?
Bagaimana kalau orang terakhir yang oma lihat bukan aku? Bagaimana kalau beberapa hari yang lalu adalah kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya?
Aku menutup mulut dengan tangan. Tangisku semakin pecah.
“Jangan, jangan…”
Aku tidak tahu aku sedang berbicara kepada siapa. Mungkin kepada diriku sendiri. Mungkin kepada Tuhan. Atau mungkin kepada oma yang bahkan tidak bisa mendengarku.
Aku ingin bertemu oma. Aku belum sempat meminta maaf. Aku belum sempat mengatakan bahwa sebenarnya aku tidak bermaksud meninggalkannya. Aku bahkan belum sempat bertemu oma sejak pulang dari glamping. Bahkan kata-kata terakhirku di telepon sangat buruk pada oma. Aku berbicara dengan nada tinggi. Ucapan yang tidak pantas pada orang yang telah menyayangiku dengan tulus.
Ya Tuhan.
Kalau aku kehilangan oma sekarang, aku harus bagaimana?
“Mbak, sudah sampe, biar saya bantu turunkan koper ya?” ucap pria paruh baya itu, lalu turun dari mobil.
Aku mengusap sisa-sisa air mata di pipiku dengan kasar. Aku bahkan tidak tahu bagaimana kakiku bisa membawaku sampai ke depan ruang perawatan. Rasanya begitu lemas tanpa tenaga.
“Ayka!”
Kayla, sepertinya dia sedang menungguku. Perempuan dengan piyama doraemon itu berlari ke arahku. Matanya sembab, hidungnya merah, khas orang yang sudah lama menangis. Pikiran burukku kembali menyerang. Apa terjadi sesuatu pada oma?
“Oma gimana?” tanyaku, memegang kedua lengannya.
“Oma masih belum sadar,” ucap Kayla lesu.
Tanpa memikirkan apapun, aku berlari dengan sisa tenagaku. Beberapa kali kakiku hampir tersandung, tapi sebisa mungkin aku harus sampai di ruangan oma dengan cepat. Aku takut. Benar-benar takut.
Hingga akhirnya aku sampai di depan ruangan oma. Begitu pintu terbuka, aku langsung melihat banyak orang.
Ibu.
Tante Ratna.
Tante Indri.
Om-om.
Sepupu-sepupuku.
Hampir semua anak dan cucu oma ada di sana. Kecuali Om Ridwan. Aku segera mencari wajah ibu. Begitu melihatnya, langkahku terhenti. Ibu sedang menangis. Aku tidak pernah suka melihat ibu menangis. Apalagi seperti itu. Aku berjalan mendekat.
“Bu…”
Ibu segera memelukku, dan saat itulah aku kembali menangis.
“Oma…”
Ibu tidak menjawab. Ia hanya menggeleng sambil menangis. Aku melihat pintu itu masih tertutup rapat. Mungkin dokter masih melakukan tindakan di dalam sana. Lalu bagaimana dengan oma? Apakah aku bisa melihatnya lagi? Apakah aku bisa mendengar suaranya lagi? Apakah aku bisa tidur dengan pelukan oma lagi? Apakah aku bisa?