Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #8

Rumah sakit

“Karena ini salah om!”

Untuk sejenak, kami sama-sama diam. Sebelum akhirnya aku kembali bersuara,  “Kenapa jadi nyalahin diri om sendiri?”

“Karena om yang pergi ninggalin ibu,” suara Om Ridwan terdengar berat dari seberang telepon. “Dulu oma berkali-kali minta om untuk tidak pergi. Tapi om tetap pergi tanpa peduli perasaan oma.”

Aku mengusap air mata yang terus jatuh. Beberapa saat, kami sama-sama menahan suara. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Namun, untuk pertama kalinya sejak om Ridwan memutuskan untuk pergi, baru kali ini dia mengatakan hal seperti itu.

Terkadang, aku pun sempat menyalahkan om Ridwan. Karena gara-gara ia tinggal di luar kota, oma jadi sendirian tinggal di rumah. Padahal, momen itu terjadi dengan berbagai kebetulan. Kebetulan om Ridwan pergi, kebetulan aku yang tidak bisa tidur sendiri. Dan ya, semua berawal bukan dari paksaan. Namun dari kehendak hati masing-masing. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, semua orang bisa memiliki keinginan baru. 

Aku tidak bisa menyalahkan siapapun dalam kondisi ini, selain diriku sendiri. Tentu saja karena oma memang ingin aku hadir disana. Aku pun senang bisa sering bercengkrama dan menjadi orang yang oma butuhkan. Satu hal yang membuatku terkadang kehilangan rasa syukur. Aku ingin bebas. Aku ingin melakukan apapun yang aku mau. Aku ingin punya ruang sendiri yang layak.

“Ayka…”

“Hm?”

“Maaf karena om gak ada, maaf karena kamu harus menanggung semuanya sendirian.”

Aku menggeleng cepat, “Jangan ngomong gitu. Itu bukan salah om”.

“Tentu saja itu pun bukan salah kamu Ayka. Walaupun kamu ada disana, jika takdirnya oma harus tetap masuk rumah sakit, itu akan tetap terjadi Ayka. Kita hanya perlu berdoa, doa yang terbaik untuk kesembuhan oma.”

Aku menarik nafas panjang. Doa. Om Ridwan benar. Bahkan sejak tadi aku hanya sibuk memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada oma. Aku lupa jika yang dibutuhkan oma sekarang adalah doa. 

“Udah lebih tenang?”

Aku mengangguk, meski aku tahu om Ridwan tidak mungkin melihatnya.

“Om udah denger dari kak Indri. Soal kak Ratna, om pikir dia juga merasa bersalah karena tidak hadir untuk ibu. Mungkin rasa bersalah itu membuatnya mencari orang lain yang bisa menyangkal perasaannya. Kebetulan kamu yang lebih dekat dengan oma ada disana, jadi dia lemparkan semuanya ke kamu. Jangan terlalu diambil hati, Ayka.”

Aku terdiam. Kalimat itu membuatku tidak tahu harus menjawab apa. Lagi pula itu bukan kali pertama tante Ratna mengatakan itu. Aku hanya, terlalu sering mendengarnya dari orang-orang. 

Belum sempat aku menanggapi ucapan om Ridwan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa menuju ke arahku.

“Ayka!”

Refleks menoleh. Disana, Kayla berdiri beberapa meter dariku dengan nafas terengah-engah. Nafasku mulai memburu. Mungkinkah terjadi sesuatu pada oma?

“Ada apa?”

“Oma…”

DEG. Aku refleks berdiri, “Kenapa oma?”

Lihat selengkapnya