Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #9

Kapan nikah?

Malam ini giliranku menjaga oma.

Sudah hampir satu minggu oma dirawat di rumah sakit. Selama itu pula, anak-anak dan cucu-cucunya bergantian menjaga. Ada yang datang pagi sampai siang, ada yang mengambil giliran sore, dan ada juga yang menjaga oma sepanjang malam. 

Aku senang karena sejak aku berbincang dengan oma, entah kenapa tidak ada di antara saudara-saudaraku yang menyalahkan atau menyangkut pautkan sakitnya oma dengan aku. Lalu, aku juga bersyukur karena mereka bisa meluangkan waktu untuk menjaga oma bergantian. 

Selama oma sakit, sebetulnya baru kali ini aku menjaga oma lagi. Karena aku baru bisa pulang Jumat malam, dan hanya bisa menjaga oma sepanjang akhir pekan. Hari itu ketika aku baru kembali ke Bandung setelah mendengar kabar oma sakit, keesokan paginya aku kembali ke Jakarta dengan persetujuan oma tentunya. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan dalam rangkaian kegiatan magang ku ini. Lagi pula minggu depan waktu magangku sudah selesai. 

Kayla dan Naya berjanji akan menjaga oma selama aku masih magang. Rupanya peristiwa ini memberikan hikmah untuk kami semua. Kami berhenti saling menyalahkan dan berusaha untuk saling mengisi. Karena seperti kataku, semua orang punya kewajiban yang sama untuk menjaga oma.

Saat ini, aku duduk di sofa kecil yang berada tidak jauh dari tempat tidur oma. Laptop terbuka di atas meja, menampilkan wajah Om Ridwan dengan background kamar rapinya itu.

Entah kenapa, meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu, wajahnya masih saja terasa seperti wajah yang sama.  Kacamata. Rambut yang selalu terlihat terlalu rapi. Dan ekspresi sok serius yang sebenarnya sudah mulai berkurang sejak dia menjadi orang yang lebih banyak tersenyum.

Sementara tidak jauh di depanku, oma sedang asyik menonton acara televisi kesukaannya. Aku bahkan tidak tahu acara apa yang sedang ditonton. Sejak tadi oma tertawa sendiri beberapa kali, kemudian mengomentari orang-orang yang ada di layar seolah-olah mereka bisa mendengar omelannya.

“Kata ibu, besok oma udah boleh pulang,” kataku.

Wajah Om Ridwan langsung berubah cerah, “Serius?”

Aku mengangguk.

“Iya. Katanya kalau malam ini kondisi oma tetao stabil, besok udah boleh pulang.”

“Syukurlah,” om Ridwan tersenyum lebar.

Aku juga bersyukur. Aku tidak menyangka akan sampai pada titik dimana aku justru merasa tenang karena bisa berada di dekat oma. Padahal beberapa minggu lalu, aku masih berusaha mencari alasan supaya tidak perlu menginap di rumahnya.

Lucu juga.

Kadang manusia memang baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah takut kehilangannya. Aku menatap oma sebentar. Ia masih fokus pada televisi. Sepertinya tidak memperhatikan percakapanku dengan Om Ridwan. Tadi mereka sempat mengobrol selagi aku mandi. Entahlah apa yang mereka bicarakan hingga oma merasa ia tidak perlu lagi berbincang dengan anak bungsunya itu.

Namun sebelum aku masuk ke kamar mandi, aku sempat dengar om Ridwan lagi-lagi meminta maaf karena tidak bisa menjenguk ibunya itu. Selain jarak, pekerjaannya juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Oma mengerti dan tidak mempermasalahkan itu. Namun sebagai gantinya, Ridwan harus membelikan oma kursi pijat baru. Lucu juga ketika mendengar oma merengek meminta kursi pijat baru karena yang lama sudah usang. 

Oma bukan tipe orang yang banyak meminta pada anak atau cucu-cucunya. Namun sekali meminta, rasanya semua harus terkabul tanpa kecuali. Gaya merengeknya pun, aku pikir lebih terlihat seperti anak kecil yang meminta mainan pada orangtuanya. Ya, omaku memang lucu, sepertiku hahaha.

Merasa sudah cukup lama mendiamkan om Ridwan, aku kembali menatap layar laptop, “Eh, Om.”

“Hm?”

“Ayka kemarin pulang sama Aditya.”

Ekspresi wajah Om Ridwan langsung berubah.

“Siapa?”

Aku menahan tawa.

“Aditya.”

“Yang kating kamu itu?”

“Iya.”

“Kenapa pulang sama dia? Anak itu magang juga?”

“Engga, dia sengaja jemput aku.”

“Di mana?”

“Jakarta.”

Om Ridwan mengerutkan kening, “Dia ke Jakarta?”

Aku mengangguk.

“Iya.”

“Dari Bandung?”

“Iya.”

“Ngapain?”

Aku tertawa kecil.

“Ya jemput aku.”

Aku sendiri sebenarnya masih heran kalau mengingatnya. Aku magang di Jakarta, sedangkan Aditya sebetulnya masih disibukkan dengan skripsinya. Aku bahkan tidak pernah meminta dia datang. Namun entah kenapa, laki-laki itu sepertinya punya terlalu banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak pernah kuminta.

Kemarin, siang harinya dia bilang kangen aku. Lalu, dia bilang lagi kalau dia mau nyamperin aku ke Jakarta. Aku pikir itu hanya bagian dari pernyataannya yang asal bunyi. Ternyata, ketika aku keluar dari gedung, aku terkejut karena melihatnya tengah menungguku.

“Jemput gimana sih? dia tahu kamu mau pulang ke Bandung?”

“Iya,” ucapku sembari memasukkan jeruk ke dalam mulut, “Aku sempat ngira dia cuma bercanda. Ternyata engga om. Dia benar-benar datang ke Jakarta. Apakah aku bisa mengusirnya seperti waktu itu? oh tentu tidak. Om tahu apa yang dia lakukan setelah datang jauh-jauh?”

“Apa? dia macem-macem?”

“Aishh engga! Dia minta anter ke toko buku. Helow, memangnya di Bandung tidak ada toko buku? aneh kan tuh orang emang.”

“Terus?”

“Ya terus aku dibeliin buku. Aku udah nolak, tapi dia maksa, ya udah aku ambil aja. Lagian itu buku emang pengen aku beli. Terus abis itu kita makan deh. Untung tuh orang cukup peka aku udah kelaparan banget.”

“Terus balik naik apa?”

“Whoosh.”

“Dibayarin?”

“Udah dibeliin tiket, cuma barusan aku balikin, aku transfer ke dia. Terus dia agak ngomel sih. Cuma denger suara oma, jadilah dia diam hahaha.”

Aku tidak tahu apakah itu bentuk usaha yang romantis atau justru tindakan yang hanya buang-buang waktu. Karena kalau aku menjadi dia, aku mungkin akan berpikir dua kali sebelum pergi sejauh itu hanya untuk mengantar seseorang yang sudah berkali-kali menolak. Aditya? dia masih gas aja. Aku benar-benar tidak paham jalan pemikirannya. Bahkan setelah sampai Bandung, dia masih mengantarku sampai ke rumah sakit.

“Kenapa?” tanya Om Ridwan.

“Dia kena roasting oma,” tawaku kembali pecah saat mengingatnya.

Om Ridwan tertawa kecil.

“Oma gak setuju?”

Aku sedikit mendongak, melihat pada oma. Masih menonton televisi.

“Kayaknya iya.”

“Terus?”

“Dia bilang gak suka. Soalnya rambut dia dicat warna coklat,” aku terkekeh.

“Apa hubungannya?” tanya om dengan kening yang berkerut.

“Mana aku tahu, apakah om pernah paham alasan oma? kan engga.”

Om Ridwan mengangguk-angguk sambil tersenyum. Oma lebih protektif daripada kedua orangtuaku. Orang ibu dan ayah yang tadi ada disini juga tidak mengatakan apapun. Justru menyambut cukup hangat dan berterimakasih karena sudah menjemputku. Namun oma tidak terkesan dengan hal seperti itu. 

Aku tidak tahu sejak kapan oma menjadi begitu protektif terhadapku. Khususnya soal laki-laki. Dulu saja ketika SMA, aku bahkan harus pacaran secara sembunyi-sembunyi dari oma. Meskipun ibu tahu semuanya. Untunglah ibu bisa diajak kompromi dengan tidak memberitahu oma. Jika tidak, bisa habis aku.

Lihat selengkapnya