Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #10

Pulang ke rumah oma

Bau tumisan bawang putih sudah memenuhi seluruh dapur ketika aku masuk sambil menggulung kedua lengan bajuku.

Di atas meja sudah ada beberapa wadah berisi sayuran yang telah dipotong, ayam yang sudah dibumbui, dan beberapa bungkus makanan yang belum sempat dimasukkan ke dalam kotak. Sementara ibu berdiri di depan kompor dengan celemek yang menjadi pakaian wajibnya ketika berada di dapur.

Hari ini sebenarnya bukan jadwalku membantu ibu. Aku bahkan sudah berniat menghabiskan waktu di kamar lantai dua setelah pulang dari rumah sakit. Sudah cukup lama aku tidak benar-benar menikmati kamar itu tanpa dibebani tugas, pekerjaan, atau sesuatu yang membuatku harus pergi lagi.

Namun ternyata ada pesanan dadakan. Bu Winda, orang yang biasanya membantu ibu ketika pesanan sedang banyak, hari ini tidak bisa datang. Jadilah aku di sini.

“Yang itu masukin kotak ya,” ucap ibu sambil menunjuk beberapa lauk yang sudah selesai dimasak.

“Yang ini?”

“Iya.”

Aku mengambil salah satu wadah, kemudian mulai memindahkan makanan ke dalam kotak catering satu per satu.

Sebenarnya aku sudah cukup terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini. Sejak kecil, dapur rumah ini bukan tempat yang asing untukku. Bahkan kalau mengingat masa kecil, mungkin aku justru lebih sering melihat ibu memasak daripada duduk santai di ruang keluarga.

Ibu memang sibuk.

Bisnis katering yang dikelolanya membuat waktu ibu hampir selalu terbagi. Pagi-pagi setelah mengurus aku dan ayah, ibu lanjut menyiapkan pesanan, siang mengurus pengantaran, lalu malam masih harus membereskan banyak hal.

Itulah salah satu alasan kenapa sejak kecil aku tidak pernah benar-benar bisa tinggal di satu rumah saja. Aku memang tinggal di rumah oma setiap malam. Namun bukan berarti aku bisa menetap di sana sepenuhnya. Aku punya rumah sendiri. Ada ibu. Ada ayah. Juga ada adikku.

Usia kami bahkan terpaut tujuh tahun. Ketika aku mulai cukup besar untuk sekolah, adikku masih kecil dan tentu saja membutuhkan banyak perhatian ibu. Sementara pekerjaan katering tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Jadi, mau tidak mau aku tetap harus pulang. Bahkan saat akhir pekan. Bahkan ketika besoknya sekolah dan aku sebenarnya ingin tidur lebih lama.

Aku tetap harus kembali ke rumah ibu untuk membantu, menemani adikku, atau sekadar berada di rumah karena memang di sanalah keluargaku tinggal. Begitu terus selama bertahun-tahun. Malam di rumah oma. Pagi di rumah ibu. Lalu kembali lagi ke rumah oma.

Kalau dipikir-pikir, mungkin sejak kecil aku memang tidak pernah benar-benar memiliki satu tempat untuk menetap. Aku selalu punya dua rumah. Namun disaat yang sama, kadang rasanya seperti tidak sepenuhnya memiliki keduanya.

“Ayka.”

Aku mengangkat kepala, “Iya bu?”

Ibu sedang memasukkan lauk ke dalam wadah lain, “Kamu yakin mau balik nginep sama oma?”

Tanganku berhenti sebentar. Pertanyaan sederhana. Namun entah kenapa langsung membuatku terdiam. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku sambil menghela napas, “Kenapa emangnya?”

“Gapapa, ibu nanya aja,” Ibu mematikan kompor, lalu menatapku. “Kamu kan suka banget sama kamar itu.”

Aku ikut menoleh ke arah ibu. Aku tahu kamar yang dimaksud. Kamar di lantai dua. Kamar yang selama bertahun-tahun hanya menjadi ruangan kosong. Kamar yang dulu bahkan tidak bisa kutempati karena belum diperbaiki. Kamar yang berkali-kali kubayangkan akan menjadi tempat tidur impianku suatu hari nanti.

Lalu akhirnya, kamar itu benar-benar ada. Ayah memperbaikinya. Aku ikut menentukan letak barang-barangnya. Memilih warna, menata meja, memasang beberapa hiasan kecil, sampai memastikan posisi tempat tidur mendapatkan sorot matahari pagi yang menurutku paling sempurna. 

Sebuah ruangan dengan nuansa pink. Cermin tepat di depan tempat tidur. Meja belajar dan meja rias yang diletakkan bersampingan. Rak kecil untuk novel-novelku. Semuanya terasa seperti benar-benar milikku.

“Suka banget,” jawabku.

“Terus?”

Aku menghela napas, “Ya berat lah, Bu.”

Ibu diam. Aku menatap lauk di hadapanku, “Ayka pengen banget tidur di sana.”

Kalimat itu keluar begitu saja, “Apalagi baru beberapa minggu selesai. Ayka juga belum sempat benar-benar menikmati kamarnya.”

Aku tersenyum kecil, “Tapi oma juga gak bisa ditinggal.”

Ibu kembali diam.

“Jadi ya udah. Ayka cuma gak tidur di kamar itu, bukan berarti kamarnya hilang, kan?” aku terkekeh.

Lihat selengkapnya