Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #11

Tiga laki-laki

Aku baru saja masuk kamar setelah membantu ibu menyelesaikan pesanan katering. Huh, cukup melelahkan. Tiga ratus pesanan dalam waktu beberapa jam, dan hanya ada aku dan ibu. 

Rasanya seperti baru saja selesai mengikuti lomba masak tingkat nasional. Padahal cuma membantu memasukkan makanan ke dalam kotak. Namun tetap saja, berdiri berjam-jam di dapur, mencium bau bawang, ayam, sambal, dan segala macam makanan sejak siang membuat tubuhku lelah. Ditambah lagi tadi aku harus berhadapan dengan satu manusia berusia empat belas tahun yang entah kenapa semakin besar justru semakin sulit disuruh.

Afan. Adikku satu-satunya.

Selisih usia kami tujuh tahun. Jadi kalau sekarang aku dua puluh satu, dia baru empat belas. Harusnya sudah cukup besar untuk membantu ibu. Harusnya. Namun kenyataannya, menyuruh Afan mengantar ibu saja rasanya seperti meminta seseorang membangun gedung dalam waktu satu hari.

Aku hampir melempar sendok waktu itu ketika Afan justru menjawabku dengan nada tinggi padahal aku memintanya baik-baik. Itulah akibatnya jika bermain game terlalu lama. Meski pada akhirnya, laki-laki itu itu setuju setelah ibu yang meminta. Setelah akhirnya ibu pergi bersama Afan untuk mengantar pesanan, aku bisa duduk sendirian di kamar.

Aku menjatuhkan tubuh ke kasur. Nyaman. Sangat nyaman. Aku bahkan sempat berpikir untuk tidur sebentar. Namun kemudian mataku menangkap laptop yang masih berada di atas meja.

Oh iya.

Aku belum menghubungi Om Ridwan.

Hari ini hari Minggu. Di Inggris sekarang masih pagi. Sekitar pukul delapan. Artinya, kemungkinan besar dia tidak bekerja. Tidak mungkin dia ada date sepagi ini kan? Setidaknya itu yang kuharapkan. Aku mengambil laptop, kemudian membuka aplikasi video call.

Tidak sampai satu menit, wajah Om Ridwan muncul di layar. Tampaknya dia baru saja mandi. Bisa dilihat dari rambutnya yang ia biarkan basah. Tidak punya pengering kah? dan juga seperti biasa, ruangan yang rapi. Kali ini dia tidak sedang berada di dalam kamar, melainkan berlatar dapur. Sepertinya dia sedang duduk di meja makan. breakfast? yah, mungkin aku sudah mengganggu waktunya. Ah sudahlah, bukan hal yang baru.

“Kenapa?”

Aku langsung mendengus.

“Om tau gak, Afan tuh nyebelin banget.”

Om Ridwan tertawa kecil.

“Masih pagi ini, Ayka.”

“Di tempat Om pagi. Disini udah siang, ya.”

“Ya tetap aja.”

Aku memutar bola mata malas. Sebelum akhirnya melanjutkan ceritaku.

“Tadi Ayka udah bantu ibu masak dari pagi. Capek banget. Terus ibu mau nganter pesanan, aku suruh Afan nemenin. Susah banget disuruh.”

“Terus?”

“Terus dia pergi sambil marah-marah.”

“Kamu nyuruhnya baik-baik?”

Aku terdiam.

“Ya…”

“Ayka.”

“Ya baik-baik lah.”

Om Ridwan mengangkat alis.

Aku mendengus, “Sedikit.”

“Pantes.”

“Om tuh harusnya belain Ayka.”

“Om gak lihat kejadiannya.”

“Pokoknya salah Afan.”

“Iya, iya.”

Aku akhirnya tersenyum penuh kemenangan. Entah kenapa, bicara dengan Om Ridwan selalu membuatku merasa lebih ringan. Mungkin karena sejak dulu aku memang terbiasa menjadikannya tempat bercerita. Meskipun dulu dia adalah orang paling tidak seru, paling menyebalkan, paling tidak peka yang pernah kukenal, sekarang justru dia menjadi salah satu orang pertama yang kucari ketika ada sesuatu yang ingin kuceritakan.

“Om.”

“Hm?”

“Ayka mau bilang sesuatu.”

Om Ridwan menatapku lebih serius, “Apa?”

Aku menarik napas, “Ayka udah mutusin.”

“Mutusin apa?”

“Setelah magang selesai, Ayka bakal balik tidur di rumah oma.”

Om Ridwan diam sebentar, “Yakin?”

Aku mengangguk, “Yakin.”

“Beneran?”

“Iya.”

Aku tersenyum kecil, “Kali ini Ayka gak mau ingkar janji lagi.”

Sebenarnya jika harus jujur, masih berat rasanya untuk memutuskan ini. Bukan karena aku tidak ingin kembali. Namun karena aku tahu, begitu kembali ke rumah oma, kamar di lantai dua itu mungkin akan kembali jarang kutempati.

Namun tidak apa-apa. Aku berusaha meyakini diriku sendiri bahwa kamar itu tetap milikku. Apapun yang terjadi.

“Naya sama Kayla nanti gantian jagain oma dulu sampai Ayka selesai magang,” lanjutku. “Jadi oma gak sendirian.”

Om Ridwan mengangguk.

“Kamu gak keberatan?”

Aku menggeleng, “Enggak.”

“Yakin?”

“Om, serius. Tekad Ayka udah bulat.”

Om Ridwan masih diam.

“Ayka cuma bersyukur oma kembali ke rumah dan sembuh.”

Beberapa detik kemudian, Om Ridwan tersenyum.

“Ya udah, om pasti dukung semua keputusan kamu.”

“Nah.”

“Tapi jangan sampai kamu merasa harus melakukan semuanya sendirian lagi.”

“Iya.”

Aku baru saja akan melanjutkan pembicaraan ketika ponselku bergetar. Satu pesan masuk.

Aditya:

Bisa telepon?

Lihat selengkapnya