Sore itu rumah oma kembali ramai. Entah siapa yang pertama kali punya ide untuk berkumpul, tapi seperti biasa, kalau sudah ada satu orang yang datang, yang lain akan ikut berdatangan. Ruang tengah yang biasanya terasa cukup luas mendadak terasa sempit. Sofa penuh. Kursi tambahan dikeluarkan. Beberapa orang bahkan memilih duduk di lantai sambil membawa makanan masing-masing.
Aku sendiri duduk di salah satu sudut sofa sambil sesekali ikut tertawa mendengar pembicaraan mereka. Sudah lama rasanya aku tidak melihat semua orang berkumpul seperti ini. Ada ibu. Ada ayah. Ada Afan. Keluarga tante Indri, keluarga tante Ratna, Naya, Kayla, kak Rosa, dan beberapa anggota keluarga lainnya. Oma juga ada di sana, duduk di tempat favoritnya sambil sesekali ikut menyela pembicaraan.
Keadaan oma memang sudah jauh lebih baik. Setidaknya sekarang dia sudah bisa duduk sendiri, berjalan perlahan, dan bahkan kembali mengomeli orang-orang di rumah. Yang terakhir itu mungkin justru tanda paling jelas kalau oma sudah sehat.
Aku mengambil ponsel dari atas meja. Entah kenapa tiba-tiba teringat Om Ridwan. Hari ini, harusnya dia tidak bekerja. Aku menekan tombol panggilan video. Tidak membutuhkan waktu yang lama, wajah laki-laki itu muncul di layar.
“Halo.”
“Om!”
“Hm?”
“Lagi apa?”
“Nonton.”
Aku tersenyum.
“Tumben nonton, sendirian?”
“Iya.”
“Kasian banget.”
“Kenapa kasian?”
“Ya karena sendirian.”
“Memangnya kalau di rumah harus selalu ramai?”
“Harus.”
Om Ridwan terkekeh.
“Kamu lagi di rumah oma, ya?”
Aku memindahkan kamera depan menjadi kamera belakang untuk menunjukkan keramaian rumah oma hari ini. Tidak ada yang sadar jika aku sedang menelpon om Ridwan.
“Lagi pada ngumpul.”
“Oh.”
Om Ridwan terlihat mengangguk, “Oma sehat?”
“Sehat. Lagi gosipin tukang cukur rambut,” kataku, membuat om Ridwan tertawa kecil.
Baru saja aku memindahkan kamera kembali ke wajahku ketika Om Ridwan tiba-tiba bertanya,
“Aditya gimana?”
Aku refleks mengernyitkan dahi, “Apaan sih?”
“Ya gimana?”
“Gak gimana-gimana.”
“Masih ganggu?”
“Masih.”
Om Ridwan tertawa kecil, “Berarti masih berjuang.”
Aku mendengus, “Apanya yang berjuang,” cibirku. “Kenapa tiba-tiba nanyain dia?”
“Gak kenapa-kenapa.”
“Curiga.”
“Curiga apaan?”
“Pokoknya curiga.”
Om Ridwan tersenyum. Lalu tiba-tiba dia berkata, “Om mau nikah.”
Aku diam. Benar-benar diam. Aku sampai tidak yakin apakah aku mendengar kalimatnya dengan benar.
“Apa?”
“Om mau nikah.”
Aku menatap layar, lebih tepatnya melihat ekspresi om Ridwan. Mungkin saja dia sedang bercanda sekarang, “Serius?”
“Serius.”
“Sama siapa?”
“Ya sama dia.”
“YA SIAPA?” aku refleks meninggikan suara.
Beberapa kepala yang tadinya sibuk dengan percakapan masing-masing langsung menoleh ke arahku. Aku tidak peduli, “Mana orangnya?”