Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #13

Di usia lima belas tahun

2019

Usiaku baru lima belas tahun ketika untuk pertama kalinya aku mulai merasa bahwa tidur di kamar oma bukan lagi sesuatu yang kuinginkan. Bukan karena aku tidak nyaman bersamanya. Justru sebaliknya, aku sudah terlalu terbiasa tidur di samping oma sejak kecil. Hanya saja, semakin besar, semakin sering aku merasa membutuhkan ruang sendiri. Aku ingin memiliki tempat yang benar-benar bisa kusebut milikku. Tempat untuk menaruh barang-barangku, menata sesuatu sesuka hati, membaca buku sampai larut malam tanpa takut membangunkan siapa pun, atau sekadar berbaring sambil menatap langit-langit kamar tanpa harus berbagi kasur dengan orang lain.

Keinginan itu sebenarnya sederhana. Setidaknya menurutku. Rumah oma juga tidak kekurangan kamar. Ada beberapa kamar yang biasanya digunakan ketika keluarga besar berkumpul, bahkan ada kamar yang hampir tidak pernah disentuh. Namun entah kenapa, malam itu aku justru mengincar kamar Om Ridwan. Bukan tanpa alasan. Tata letaknya memang paling kusukai. Jendelanya besar dan menghadap langsung ke kebun oma. Aku sudah beberapa kali membayangkan bagaimana rasanya bangun pagi di sana, membuka tirai, lalu melihat cahaya matahari menyentuh dedaunan dari balik kaca. Rasanya seperti kamar yang memang seharusnya menjadi milikku.

Malam itu rumah sudah cukup sepi. Televisi di ruang tengah masih menyala dengan volume kecil, sementara oma duduk di atas kasur sambil melipat beberapa pakaian. Aku berdiri di ambang pintu kamar, memainkan ujung baju tidur yang kukenakan. Sempat beberapa kali aku ingin mundur karena tiba-tiba merasa tidak enak untuk meminta, tetapi kalau tidak sekarang, kapan lagi? Akhirnya aku menarik napas panjang dan memberanikan diri.

“Oma.”

“Hm?”

“Ayka mau nanya.”

Oma masih sibuk melipat pakaian. “Nanya apa?”

“Kalau…” Aku berhenti sebentar. “Kalau Ayka boleh gak pakai kamar Om Ridwan?”

Gerakan tangan oma langsung terhenti. Ia mengangkat wajah dan menatapku. Aku buru-buru melanjutkan sebelum pertanyaan itu terdengar seperti sesuatu yang lebih besar daripada yang sebenarnya kumaksud.

“Cuma buat tidur aja. Ayka gak bakal ngubah apa-apa, serius. Barang-barangnya juga gak bakal Ayka pindahin. Paling kasurnya Ayka rapihin sedikit.”

“Buat apa?”

“Ayka pengen punya kamar sendiri.” Aku tersenyum kecil, kemudian menunjuk ke arah pintu kamar yang berada tidak jauh dari tempat kami. “Kamar Om Ridwan bagus. Jendelanya gede. Dari sana juga bisa lihat kebun oma. Terus kalau pagi pasti kena matahari.”

Aku sudah membayangkan oma akan mempertimbangkannya. Mungkin ia akan bertanya apakah aku benar-benar tidak akan memindahkan barang-barang Ridwan. Mungkin ia akan bilang boleh, asal aku menjaga semuanya tetap seperti semula. Namun ekspresi oma justru berubah. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat senyumku perlahan menghilang.

“Gak boleh.”

Aku terdiam. “Kenapa?”

“Itu kamar Ridwan.”

“Tapi Om Ridwan kan gak ada.”

“Dia nanti pulang.”

“Kapan?”

“Ya nanti.”

Jawaban itu membuatku mengerutkan dahi. Lagi-lagi nanti. Entah kenapa orang dewasa selalu menggunakan kata itu seolah-olah nanti adalah waktu yang pasti.

“Tapi kan Om masih di luar negeri.”

“Tetap gak boleh.”

Nada suara oma terdengar sedikit lebih keras. Aku yang awalnya masih berusaha tersenyum akhirnya menundukkan kepala. Sebenarnya aku tidak mengerti apa salahnya. Aku hanya ingin menggunakan sebuah kamar yang sudah lama tidak dipakai pemiliknya. Aku bahkan tidak meminta mengubahnya menjadi kamar milikku sepenuhnya. Aku hanya ingin tidur di sana.

“Kalau Ayka gak ubah apa-apa?”

“Gak boleh.”

“Kalau Ayka cuma pakai kasurnya?”

“Ayka.”

Aku langsung diam.

Oma kembali melipat pakaian di tangannya. “Ridwan gak akan suka kalau kamarnya diubah.”

Aku menoleh ke arah kamar itu. Pintunya tertutup. Di balik sana masih ada barang-barang milik Ridwan yang entah sejak kapan tidak disentuh. Seolah-olah pemiliknya memang hanya pergi sebentar dan suatu hari nanti akan membuka pintu itu lagi. Ada sesuatu yang aneh dari cara oma menjaga kamar tersebut. Bahkan setelah bertahun-tahun Ridwan pergi, semuanya masih dipertahankan seperti semula.

“Tapi Om Ridwan sendiri pernah bilang…”

“Tetap gak boleh.”

Kali ini aku tidak membantah. “Ya udah.”

Aku berbalik, tetapi baru beberapa langkah aku berhenti. Kalau oma tidak mau menjawab pertanyaanku, mungkin Ridwan sendiri bisa memberikan jawaban. Aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, mencari namanya di daftar kontak, dan langsung menekan tombol hijau untuk menelpon. Tidak lama kemudian panggilan tersambung.

“Kenapa, Ay?”

“Om.”

“Hm?”

“Ayka boleh gak tidur di kamar Om?”

Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya om Ridwan kembali bersuara, “Kamar Om?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Ayka pengen punya kamar sendiri.”

Aku duduk di ujung kasur oma sambil menunggu jawabannya. Ada sedikit harapan yang muncul karena setidaknya Ridwan tidak langsung melarang.

“Ya udah, tidur aja sama oma.”

“Bukan itu," ucapku, setelah sebelumnya sempat mendengus kesal.

“Terus?”

“Ayka pengen kamar sendiri.”

“Kenapa gak di rumah ibumu?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Rumah ibu memang rumahku juga. Bahkan aku sendiri memang punya kamar disana, tetapi bukankah aku harus tetap menemani oma? Lucu sekali rasanya. Padahal aku tidak akan mengatakan ini jika sejak awal aku boleh hanya tinggal di rumah ibu.

Lihat selengkapnya