Bandara selalu punya cara sendiri untuk membuat seseorang merasa sedang menunggu sesuatu yang besar. Entah itu kepulangan, kepergian, atau seseorang yang sudah lama tidak ditemui. Aku duduk di salah satu kursi ruang tunggu sambil sesekali melihat layar ponsel. Sudah hampir satu jam sejak aku tiba, tetapi orang yang kutunggu belum juga muncul. Padahal jadwal penerbangan mereka seharusnya sudah tiba sejak tadi. Aku kembali membuka chat Om Ridwan dan mengetik pesan singkat.
Om udah sampai?
Tidak ada balasan. Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatu ke lantai sambil sesekali melirik ke arah pintu kedatangan. Sebenarnya aku memang sedang berada di Jakarta untuk mengurus beberapa urusan terakhir magang. Tinggal sedikit lagi semuanya selesai. Setelah itu aku bisa kembali ke Bandung dan mulai menjalankan hidup seperti biasa. Atau setidaknya, hidup yang baru. Karena setelah magang selesai, aku sudah berjanji akan kembali tidur di rumah oma. Dan sekarang aku sedang menunggu orang yang membuat keputusan itu terasa jauh lebih ringan. Om Ridwan.
Aku kembali melihat ke arah pintu kedatangan. Satu per satu penumpang mulai keluar. Beberapa orang langsung disambut keluarga, sebagian lainnya berjalan terburu-buru sambil menyeret koper. Aku bahkan sempat berdiri beberapa kali hanya untuk memastikan apakah sosok tinggi dengan koper hitam yang baru keluar itu benar-benar om Ridwan atau bukan. Ternyata bukan. Aku kembali duduk, sedikit kesal karena laki-laki itu bahkan belum juga membalas pesanku. Sampai beberapa menit kemudian, seorang perempuan berjalan ke arahku sambil menarik koper kecil berwarna hitam. Aku langsung mengenalinya.
“Kak Ayla!”
Dia tersenyum dan melambaikan tangan. “Ayka!” Kami langsung berpelukan. Begitu kami melepaskan pelukan, mataku otomatis mencari orang lain di belakangnya. Tidak ada om Ridwan. Aku langsung mengerutkan dahi. “Om mana?” tanyaku. Kak Ayla menghela napas sebelum menjawab. “Ridwan gak ikut penerbangan ini.” Aku menatapnya tidak percaya. “Hah?”
“Ada kerjaan mendadak yang harus dia urus sebelum resmi resign,” jelasnya. “Dia ketinggalan pesawat.”
Aku memejamkan mata sebentar. “Ya ampun.”
“Dia udah pesan tiket lagi.”
“Kapan berangkat?”
“Penerbangan berikutnya.”
Aku menatap Kak Ayla beberapa detik, memastikan tidak ada informasi lain yang terlewat. “Berarti kita nunggu lagi?”
Ayla mengangguk kecil. “Kayaknya.”
Sudah bisa kuduga. Om Ridwan memang seperti itu. Bahkan setelah bertahun-tahun menunggu kepulangannya, setelah akhirnya dia benar-benar memutuskan untuk kembali ke Indonesia, masih saja ada sesuatu yang membuatnya terlambat. Aku menghela napas panjang, lalu akhirnya mengangkat bahu. Menunggu di bandara selama beberapa jam rasanya juga tidak akan membuat pesawatnya terbang lebih cepat.
“Ya udah,” kataku akhirnya. “Makan dulu yuk.”
Kak Ayla mengangguk. Kami meninggalkan bandara dan menuju salah satu restoran di Jakarta. Begitu duduk, aku langsung memesan makanan tanpa banyak berpikir. Perutku sudah sejak tadi protes karena hanya diisi kopi dan makanan ringan. Kak Ayla bahkan sempat tertawa melihatku.
“Lapar?”
“Banget.”
“Pantes dari tadi mukanya bete.”
“Bukan bete. Laper.”
“Sama aja.”
Aku memutar mata, lalu kembali memperhatikan menu. Setelah makanan datang, suasana menjadi lebih santai. Awalnya kami hanya membicarakan hal-hal kecil seperti perjalanan, penerbangan, pekerjaan, sampai rencana setelah sampai Bandung. Namun semakin lama, rasa penasaranku mulai muncul. Aku meletakkan sendok dan menatap perempuan di hadapanku itu. Ada satu pertanyaan yang sebenarnya sudah lama ingin kutanyakan sejak pertama kali tahu mereka akan menikah.
“Kak Ayla.”
“Hm?”
“Aku mau nanya sesuatu.”
Dia menatapku. “Apa?”
“Kamu suka apa dari Om Ridwan?”
Ayla langsung tertawa kecil. “Kok langsung ke situ?”
“Penasaran.” Aku menyandarkan tubuh ke kursi. “Soalnya aku gak ngerti.”
“Gak ngerti apa?”
“Kenapa kamu mau sama dia.”