Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #15

Ayla datang

Begitu mobil berhenti di depan rumah oma, aku sudah bisa melihat beberapa kendaraan terparkir berantakan di halaman. Bahkan sebelum sempat membuka pintu mobil sepenuhnya, suara orang-orang dari dalam rumah sudah terdengar. Ramai. Terlalu ramai untuk ukuran rumah oma. Aku menoleh ke arah Kak Ayla yang duduk di sebelahku. Ia baru saja melepaskan sabuk pengaman sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan setelah perjalanan.

“Siap?” tanyaku.

Kak Ayla tertawa kecil. “Harus siap, ya?”

“Banget.” Aku membuka pintu mobil. “Keluarga aku kalau sudah ngumpul bisa lebih heboh dari pasar.”

Kak Ayla ikut turun. Dan benar saja. Begitu kami masuk ke dalam rumah, hampir semua kepala langsung menoleh. Beberapa orang bahkan berdiri dari tempat duduk masing-masing begitu menyadari kedatangan kami.

“Nah! Datang!”

Suara itu langsung disusul beberapa suara lain yang saling bersahutan. Kak Ayla bahkan belum sempat mengatakan apa-apa ketika orang-orang sudah mengerumuninya. Ada yang memujinya cantik, ada yang bertanya kapan sampai, ada yang menanyakan perjalanan, bahkan ada yang mengatakan wajahnya mirip dengan foto yang selama ini dikirim Om Ridwan. Kak Ayla tertawa sambil berusaha menjawab satu per satu.

Aku sendiri hanya berdiri beberapa langkah di belakangnya. Mataku mengikuti perempuan itu yang sekarang dikelilingi hampir seluruh anggota keluargaku. Awalnya ia terlihat sedikit gugup. Sesekali ia tersenyum malu, sesekali tertawa kecil, lalu menjawab setiap pertanyaan dengan sopan. Tidak dibuat-buat dan tidak berlebihan. Ia hanya ramah, dan entah kenapa aku langsung merasa nyaman melihatnya berada di tengah keluargaku.

Rasanya aneh melihat seseorang yang baru kukenal beberapa jam lalu langsung mendapatkan tempat di sana. Tapi aku tidak merasa terganggu sedikit pun. Justru aku bahagia. Aku senang karena perempuan yang selama ini hanya kukenal dari cerita Om Ridwan sekarang benar-benar berdiri di hadapanku. Senang karena sebentar lagi Kak Ayla akan menjadi bagian dari keluarga ini. Dan mungkin yang paling membuatku bahagia adalah melihat wajah orang-orang yang sejak tadi penasaran seperti apa perempuan yang akhirnya berhasil membuat Om Ridwan memutuskan untuk pulang.

Aku ikut tertawa ketika Tante Indri menarik tangan Kak Ayla untuk duduk di sebelahnya. Namun kemudian mataku beralih pada satu orang yang sejak tadi tidak bergerak sama sekali. Oma. Ia masih duduk di tempatnya, tidak ikut berdiri, tidak menghampiri, bahkan tidak banyak bicara. Padahal aku tahu persis seperti apa ekspresi wajahnya ketika sedang bahagia. Sudut bibirnya sedikit terangkat dan matanya terlihat lebih hidup. Tapi kali ini oma berusaha mati-matian menyembunyikannya.

Gengsi. Benar-benar gengsi.

Aku berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya. “Oma.”

“Hm?”

“Kenapa oma gak nyamperin Kak Ayla?”

Oma masih menatap kerumunan orang di depannya. “Ngapain?”

“Ya kenalan.”

“Dia yang datang ke sini, bukan oma yang datang ke rumah dia.”

Aku menahan tawa. “Oma…”

“Biarlah anak itu yang menghampiri oma duluan.”

Aku menatap wajahnya, lalu tanpa sadar tersenyum. “Gengsi banget sih.”

Oma langsung melirikku. “Siapa yang gengsi?”

“Gak ada.”

Aku buru-buru duduk lebih nyaman di sampingnya. “Tapi oma seneng, kan?”

Lihat selengkapnya