Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #16

Kecelakaan

Meja makan oma memang selalu menjadi tempat paling ramai ketika seluruh keluarga berkumpul. Bentuknya panjang, bahkan terlalu panjang kalau hanya digunakan oleh dua atau tiga orang, tetapi entah bagaimana meja itu selalu terasa pas setiap kali anak-anak oma, menantu, dan cucu-cucunya duduk mengelilinginya. Malam itu hampir seluruh kursi terisi. Piring-piring tersusun di atas meja, lauk berpindah dari satu tangan ke tangan lain, sementara suara sendok yang beradu dengan piring bercampur dengan tawa dan percakapan yang saling tumpang tindih.

Aku duduk di samping Kak Ayla. Sementara topik pembicaraan malam itu hanya ada satu: pernikahan Om Ridwan. Padahal orangnya sendiri belum sampai rumah.

“Kalau menurut aku, mending adat Sunda aja,” kata Tante Ratna. “Biar sekalian lengkap.”

“Kalau adat Sunda dari awal sampai akhir kelamaan,” sahut Tante Indri.

“Ya jangan dari awal sampai akhir juga.”

“Terus?”

“Akadnya Sunda, resepsinya modern.”

“Modern indoor atau outdoor?”

“Outdoor bagus.”

“Kalau hujan?”

“Kan bisa pakai tenda.”

Aku menahan tawa. Mereka benar-benar sedang merencanakan sebuah pesta yang bahkan pengantinnya sendiri belum datang. Namun ketika aku melirik Kak Ayla, perempuan itu ternyata tidak ikut tertawa. Sejak tadi tangannya tidak pernah benar-benar jauh dari ponsel. Layarnya berkali-kali menyala, dibuka, ditutup, lalu dibuka lagi. Alisnya sesekali mengerut dan bibirnya terkatup rapat. Bahkan ketika seseorang tertawa cukup keras di sebelahnya, ia hanya tersenyum kecil tanpa benar-benar mendengarkan.

“Kak Ayla.”

Tante Ratna memanggilnya, tetapi tidak ada jawaban.

“Menurut kamu lebih bagus indoor atau outdoor?”

Kak Ayla masih menatap layar ponselnya. Aku melirik Tante Ratna, lalu kembali menatap Kak Ayla yang sepertinya bahkan tidak sadar kalau hampir semua orang di meja sudah menunggu jawabannya. Aku akhirnya menyenggol lengannya pelan.

“Kak Ayla.”

Ia tersentak dan mengangkat kepala. “Hah?”

Aku menahan senyum. “Ditanya.”

Kak Ayla mengedip beberapa kali sebelum menyadari semua orang sedang menatapnya. “Kenapa?”

Aku tertawa kecil. “Tadi Tante Ratna nanya, Kak Ayla lebih suka pestanya indoor atau outdoor.”

“Oh…” Kak Ayla melihat sekeliling meja. “Maaf, aku gak dengar.”

“Kenapa dari tadi lihat HP terus?” tanya Tante Indri.

Kak Ayla tersenyum tipis. “Gak apa-apa.” Ia kembali menunduk melihat ponselnya. “Kalau soal tempat… aku tanya Om Ridwan dulu aja.”

Aku mengangguk. “Iya, mending nanti Om Ridwan yang jawab.”

“Betul,” sahut seseorang dari ujung meja. “Yang mau nikah juga dia.”

Tawa kecil terdengar, tetapi Kak Ayla tidak ikut tertawa. Ia hanya kembali menatap layar ponselnya. Aku mulai merasa tidak nyaman. Entah kenapa, ada sesuatu dari ekspresi wajahnya yang membuat perutku terasa sedikit mengeras.

“Udah deh,” kataku akhirnya. “Ngomongin yang lain aja dulu.”

Beberapa orang langsung mengalihkan pembicaraan. Mereka mulai membahas pakaian yang akan dipakai saat pernikahan nanti, warna seragam keluarga, sampai siapa yang akan menjadi penerima tamu. Aku membiarkan percakapan itu berjalan sambil kembali memperhatikan Kak Ayla.

Lihat selengkapnya