Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #17

Dia datang

Setelah Naya mengatakan itu, tidak ada seorang pun yang langsung menjawab. Rasanya seperti seluruh suara di rumah oma mendadak menghilang. Padahal televisi masih menyala, kipas angin masih berputar, bahkan dari dapur masih terdengar suara piring yang sesekali beradu. Namun entah kenapa, semuanya terasa begitu jauh. Kami akhirnya sepakat untuk menunggu satu jam lagi. Mungkin Om Ridwan memang terjebak macet. Mungkin kecelakaan itu membuat jalanan lumpuh, mungkin ponselnya mati, atau mungkin ada alasan sederhana yang saat ini belum kami ketahui. Aku terus mengulang kata mungkin di dalam kepala, seolah dengan begitu aku bisa membuat jantungku berhenti berdegup secepat ini.

Satu jam. Hanya satu jam. Setelah itu, kalau Om Ridwan belum juga datang, kami akan mencari tahu.

Aku duduk di sofa sambil menggigit kuku, kebiasaan buruk yang bahkan sudah berkali-kali dilarang ibu. Kali ini aku tidak peduli. Mataku terus tertuju pada pintu depan. Setiap kali terdengar suara kendaraan berhenti di halaman, kepalaku langsung terangkat. Setiap kali terdengar langkah kaki dari luar, jantungku seperti berhenti sesaat. Namun selalu bukan dia. Sampai satu jam berlalu. Lebih dari satu jam, sebenarnya, dan Om Ridwan tetap tidak muncul.

Aku sudah tidak sanggup duduk diam. Tanganku dingin, kuku yang sejak tadi kugigit bahkan mulai terasa sakit. Aku berdiri.

“Aku mau keluar.”

Semua orang menoleh.

“Keluar ke mana?” tanya ibu.

Aku berusaha terdengar biasa saja. “Mau jalan-jalan sebentar sama Kayla.”

Kayla yang duduk tidak jauh dariku langsung mengangguk. Padahal beberapa menit sebelumnya aku sudah mengirim pesan kepadanya.

Kay, temenin aku cari Om Ridwan.

Dia tahu persis maksudku, tetapi sekarang kami berdua harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

“Iya,” katanya santai. “Sekalian cari angin.”

Aku mengambil tas. “Om Ridwan nanti juga pulang,” kata Tante Indri.

Aku mengangguk. “Iya.”

“Kalau dia pulang, langsung kami kabari,” lanjut ibu.

“Iya.”

Aku tersenyum, atau setidaknya mencoba tersenyum, karena aku tahu hampir semua orang di ruangan itu sedang berusaha melakukan hal yang sama. Berpura-pura baik-baik saja.

Aku melihat oma. Ia masih duduk diam di kursinya, tidak banyak bicara, tetapi aku bisa melihat kekhawatiran yang berusaha disembunyikannya. Matanya berkali-kali melirik ke arah pintu. Tante Indri kemudian duduk di sampingnya dan mulai mengajak oma berbicara tentang sesuatu yang bahkan tidak bisa kudengar. Ibu ikut menyahut, disusul Tante Ratna. Mereka sengaja membuat percakapan, sengaja tertawa, sengaja bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Padahal aku tahu. Oma tahu. Semua orang tahu. Kami sedang menunggu sesuatu yang bahkan tidak berani kami pikirkan.

Aku baru hendak keluar ketika Kak Ayla berdiri.

“Aku ikut.”

Aku menoleh. “Kak Ayla?”

Ia mengangguk. “Iya.”

Aku tidak punya alasan untuk melarangnya. “Ya udah.”

Kayla sudah berjalan lebih dulu menuju mobil, sementara aku menyusul. Sebelum masuk, aku menoleh ke arah Naya dan Kak Rosa.

“Kalian coba cari tahu soal kecelakaannya.”

Naya mengangguk. “Iya.”

“Cari tahu korbannya siapa aja.”

“Iya.”

Aku mengangguk, lalu masuk ke mobil. Kayla duduk di kursi kemudi, sementara aku di sampingnya. Kak Ayla masih berdiri di luar, hendak masuk setelah kami.

Aku baru saja menutup pintu ketika tiba-tiba terdengar suaranya.

“Ayka!”

Aku menoleh.

Kak Ayla berlari. Bukan ke arah mobil, bukan pula ke arah kami, melainkan ke arah lain.

Aku langsung membuka pintu dan keluar. “Kak Ayla?”

Lalu aku melihat seseorang di ujung jalan.

Langkahku berhenti.

Duniaku seolah ikut berhenti.

Lihat selengkapnya