Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #18

Merajuk

Ruang makan kembali ramai, seolah-olah kejadian beberapa puluh menit yang lalu tidak pernah terjadi. Piring-piring kembali memenuhi meja, suara sendok beradu dengan mangkuk terdengar lagi, bahkan tawa beberapa orang mulai memenuhi ruangan. Mungkin memang begitulah keluarga. Sekacau apa pun keadaan beberapa menit sebelumnya, selama semua orang masih bisa duduk bersama di meja yang sama, selalu ada cara untuk kembali bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.

Tapi aku tidak.

Aku masih kesal. Sangat kesal. Aku bahkan sengaja memilih kursi paling jauh dari Om Ridwan dan Kak Ayla. Padahal kalau mengingat apa yang terjadi beberapa menit sebelumnya, seharusnya akulah orang yang paling senang melihat Om Ridwan pulang. Dalam bayanganku, ketika laki-laki itu akhirnya muncul dari ujung jalan, aku akan langsung berlari memeluknya, memukul-mukul lengannya sambil menangis karena lega, mungkin bahkan mengatakan kalau aku sangat merindukannya.

Tapi kenyataannya? Aku malah melemparinya sepatu.

Memalukan.

Aku menunduk, pura-pura sibuk dengan makanan di hadapanku. Padahal sejak tadi aku bahkan tidak benar-benar makan. Nasi di piring hanya kuaduk-aduk menggunakan sendok. Aku tahu Om Ridwan tidak salah. Aku tahu dia tidak mungkin sengaja membuat kami khawatir. Aku juga tahu ponselnya tidak aktif karena sesuatu terjadi dalam perjalanan. Namun entah kenapa, kali ini aku memilih mengikuti perasaanku sendiri. Aku ingin marah. Jadi, ya sudah. Aku marah.

“Kalau pestanya jadi bulan depan, kira-kira sempat gak ya?” tanya Tante Ratna.

“Sempat lah,” jawab ibu. “Tapi kalau mau adat Sunda, kan harus disiapin dari jauh-jauh hari.”

“Aku sih penginnya sederhana,” kata Om Ridwan.

Aku langsung meliriknya sebentar. Laki-laki itu terlihat santai sekali, seolah tadi aku tidak menangis sampai sesak karena mengira dia meninggal. Aku segera memalingkan wajah lagi.

“Yang penting sah,” lanjut Om Ridwan.

“Ya jangan sederhana-sederhana amat,” sahut Tante Indri. “Ini kan pernikahan pertama kamu.”

“Pertama dan terakhir,” celetuk Naya.

Beberapa orang langsung tertawa. Aku tidak. Aku masih sibuk memindahkan potongan ayam dari satu sisi piring ke sisi lainnya.

“Ayka, kamu kenapa diam terus?” tanya Kayla.

Aku mengangkat bahu. “Ngantuk.”

“Ngantuk apanya? Dari tadi mukanya kayak orang mau ngebunuh orang.”

Aku menatapnya tajam.

Kayla langsung terkekeh. “Oke, aku diam.”

Percakapan di meja terus berjalan tanpa melibatkanku. Mereka membicarakan gedung, dekorasi, baju, undangan, bahkan makanan yang akan disajikan. Aku hanya diam sampai makanan di piringku benar-benar tidak tersisa. Setelah itu aku berdiri.

“Aku cuci piring dulu.”

Tidak ada yang melarang. Aku membawa piring ke tempat cucian dan membuka keran. Air mengalir membasahi tanganku, sementara aku mencuci piring perlahan. Entah kenapa, suara air terasa lebih menenangkan daripada suara orang-orang di ruang makan. Setelah selesai, aku mengeringkan tangan lalu berjalan menuju teras.

Aku hanya ingin udara. Mungkin juga ingin sedikit menjauh dari keributan.

Aku duduk di kursi teras sambil menatap halaman. Angin sore menyentuh wajahku dan aku menghela napas panjang. Seharusnya aku sudah berhenti marah. Tapi setiap kali teringat kejadian tadi, dadaku kembali terasa sesak. Aku benar-benar mengira Om Ridwan sudah mati, dan sekarang laki-laki itu malah duduk santai membicarakan pernikahannya.

Menyebalkan.

Lihat selengkapnya