Gedung itu sudah ramai sejak pagi. Orang-orang berlalu-lalang membawa berbagai macam barang, mulai dari dekorasi, bunga, makanan, sampai perlengkapan acara. Hari ini adalah hari pernikahan Om Ridwan dan Kak Ayla, jadi seharusnya aku ikut sibuk bersama yang lain. Namun sejak tadi pikiranku justru tertuju pada satu orang: oma.
Aku sudah mencarinya hampir ke mana-mana. Kamar hotelnya kosong, ruang persiapan juga tidak ada. Bahkan ketika aku bertanya kepada ibu, Tante Indri, dan beberapa sepupu, tidak ada satu pun yang tahu oma sedang di mana. Aku mulai khawatir. Oma memang tidak lagi muda, dan berada di tengah suasana seramai ini membuatku waswas. Aku akhirnya berjalan menyusuri salah satu lorong gedung sampai menemukan pintu kaca yang mengarah ke balkon.
Langkahku berhenti ketika melihat sebuah taman kecil buatan di sana. Bunga-bunga ditata mengelilingi balkon, sementara beberapa kursi dan meja kecil diletakkan di tengahnya. Tempat itu jauh lebih tenang dibandingkan bagian gedung lainnya. Dan di sanalah mereka berada.
Oma, Om Ridwan, dan Kak Ayla duduk bertiga. Oma bahkan sedang tertawa, bukan sekadar tersenyum. Om Ridwan sampai menundukkan kepala karena ikut tertawa, sementara Kak Ayla menutup mulutnya dengan tangan. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi melihat mereka seperti itu membuat langkahku tertahan. Aku tidak ingin mengganggu. Ada sesuatu yang terasa hangat ketika melihat oma bisa tertawa bersama anaknya setelah selama bertahun-tahun lebih sering kulihat sendirian, duduk di depan televisi atau menungguku datang setiap malam.
Aku memilih berdiri di dekat pintu dan cukup melihat dari jauh. Sayangnya, aku ternyata tidak cukup pintar untuk bersembunyi. Om Ridwan tiba-tiba menoleh dan langsung melambaikan tangan.
“Ayka!”
Aku menunjuk diriku sendiri sebelum akhirnya berjalan menghampiri mereka. “Ngapain sih?”
“Ngobrol,” jawab Om Ridwan santai.
“Ngobrolin apa?”
Aku baru saja menarik kursi ketika oma menjawab dengan santainya, “Ngomongin kamu sama Adit.”
Aku langsung menoleh. “Hah?”
Om Ridwan dan Kak Ayla tersenyum. Aku memandang mereka satu per satu dengan heran. “Kok bertiga ngomongin aku sama Adit?”
“Kenapa? Gak boleh?” tanya oma.
“Ya… bukan gak boleh. Tapi aneh aja.”
Oma malah terkekeh. “Gimana sama Adit?”
Aku menghela napas. “Ya gak gimana-gimana.”
“Masih sering chat?”
“Kadang.”
“Masih suka?”
“Gak tahu.”
Oma menatapku cukup lama sebelum berkata santai, “Undang Adit ke sini.”
Aku langsung mengerutkan dahi. “Hah?”
“Suruh datang.”
“Oma, dia gak perlu datang.”
“Kenapa?”
“Ya… gak perlu aja.”
“Undang.”
Aku menatap wajah oma. Aku tahu tatapan itu. Kalau sudah seperti itu, berdebat hanya akan menghabiskan tenaga. Akhirnya aku mengambil ponsel dan mulai mengetik pesan.
Kak Adit, kalau sempat datang ke gedung pernikahan Om Ridwan ya.