Malam akhirnya tiba. Lampu-lampu di seluruh gedung menyala terang, membuat tempat itu terlihat jauh lebih indah dibandingkan siang tadi. Musik terdengar pelan dari arah panggung, sementara para tamu mulai memenuhi meja yang telah disiapkan. Sebagian masih sibuk berfoto, sebagian lainnya mengobrol sambil sesekali melirik ke arah pelaminan. Malam ini, Om Ridwan dan Kak Ayla resmi menjadi sepasang suami istri.
Aku berdiri di samping Kak Adit. Entah bagaimana ceritanya laki-laki itu bisa berada di sini setelah tadi siang oma tiba-tiba memintaku mengundangnya. Aku bahkan belum sempat bertanya apa yang sebenarnya dilakukan oma terhadapnya. Bukan karena takut pada Kak Adit, melainkan karena aku justru takut pada oma. Aku tahu persis seperti apa kalau oma sudah punya keinginan. Aku melirik Kak Adit dari samping. Ia terlihat biasa saja, tidak menunjukkan ekspresi aneh atau terlihat seperti seseorang yang baru saja diinterogasi. Mungkin dia memang pandai menyembunyikannya. Aku tidak tahu.
“Kenapa lihat-lihat?” tanyanya tiba-tiba.
Aku langsung memalingkan wajah. “Enggak.”
“Tadi lihat aku.”
“Geer.”
Kak Adit tertawa kecil. Aku mengabaikannya dan kembali menatap ke arah pelaminan. Kak Ayla benar-benar terlihat cantik malam ini. Gaun yang dikenakannya membuatnya terlihat seperti seseorang yang sengaja Tuhan kirim untuk Om Ridwan. Aku tersenyum kecil. Aku benar-benar bahagia untuk mereka.
Om Ridwan juga terlihat berbeda. Laki-laki yang dulu kukenal sebagai kutu buku paling membosankan di dunia itu kini berdiri mengenakan tuxedo putih yang senada dengan gaun Kak Ayla. Gagah, tampan, dan yang paling menyebalkan, dia terlihat sangat bahagia. Aku bahkan sempat berpikir bahwa mungkin memang seperti inilah wajah seseorang ketika akhirnya menemukan rumah di dalam diri orang lain.
Oma duduk di pelaminan bersama mereka. Wajahnya terlihat jauh lebih bahagia dibandingkan beberapa bulan terakhir. Aku menatapnya cukup lama. Dulu aku selalu takut meninggalkannya sendirian, tetapi sekarang aku justru melihatnya dikelilingi begitu banyak orang yang menyayanginya. Mungkin aku tidak perlu merasa bersalah sebanyak itu.
“Duduk yuk.”
Suara Kak Adit membuatku menoleh. “Hm?”
“Kita duduk.”
Aku mengikuti langkahnya menuju meja yang sudah disiapkan. Baru saja aku duduk, Kak Adit sudah berdiri lagi.
“Tunggu di sini.”
“Mau ke mana?”
“Ambil makanan.”
“Aku bisa ambil sendiri.”
“Duduk aja.”
Aku mendengus. Laki-laki itu kemudian pergi dan tidak lama kembali membawa beberapa makanan serta minuman. Namun ada satu benda yang langsung menarik perhatianku: es krim strawberry.
Aku membelalakkan mata. “Ini…”
Kak Adit meletakkannya di depanku. “Katanya kamu suka.”
Aku menatap es krim itu, kemudian beralih kepadanya.
“Om Ridwan yang siapin,” katanya.
Aku tersenyum kecil. “Makasih.”
Kak Adit duduk di depanku, sementara aku mulai memakan es krim itu perlahan. Rasanya manis dan dingin, entah kenapa cukup untuk membuat suasana hatiku sedikit lebih baik. Namun rasa penasaran masih mengganggu pikiranku. Aku menatap Kak Adit.
“Tadi oma ngapain aja sama kamu?”
Kak Adit tersenyum. “Ngobrol.”
“Ngobrol apa?”