Malam sudah cukup larut ketika akhirnya aku memutuskan untuk tidur di kamar oma. Padahal sebenarnya aku punya kamar sendiri di hotel ini, lengkap dengan semua barang yang kubawa. Bahkan tadi sempat terpikir untuk tidur di sana agar oma bisa beristirahat lebih leluasa. Tapi entah kenapa, kakiku justru membawaku ke kamar oma. Mungkin karena aku memang sudah terlalu terbiasa. Atau mungkin karena setelah semua yang terjadi hari ini, aku hanya ingin berada di dekatnya.
Oma masih menonton TV ketika aku masuk. Acara televisi yang bahkan tidak benar-benar kuperhatikan karena lima menit setelah berbaring, mataku sudah mulai berat. Aku merapatkan tubuh ke oma dan melingkarkan tangan di pinggangnya. Nyaman. Aneh memang, di usia dua puluh satu tahun aku masih suka tidur sambil memeluk oma. Tapi aku tidak peduli. Ada beberapa hal yang tidak perlu dibuat dewasa hanya karena usia bertambah. Salah satunya adalah rasa nyaman.
Aku tidak tahu berapa lama tertidur. Namun ketika membuka mata lagi, lampu kamar masih menyala dan suara televisi masih terdengar pelan. Aku mengangkat kepala dan mendapati oma masih terjaga. “Oma…”
“Hm?”
“Kok masih bangun?”
Oma menoleh kepadaku. “Gak bisa tidur.”
Aku mengucek mata. “Kenapa?”
Oma tersenyum kecil. “Kelewatan bahagia.”
Aku langsung mengerutkan hidung. “Ih, oma.”
Oma tertawa kecil. Aku ikut tersenyum, kemudian menggeser tubuh hingga kepalaku berada di pangkuannya. Sekarang posisi kami saling berhadapan, meskipun wajahku jauh lebih rendah karena masih berbaring di kasur. Oma mengusap rambutku perlahan. Entah kenapa, gerakan sederhana itu selalu berhasil membuat pikiranku tenang.
Aku menatap wajahnya cukup lama. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan sejak tadi.
“Oma…”
“Hm?”
“Oma masih mau Ayka temenin gak?”
Tangannya berhenti sebentar di rambutku. “Maksudnya?”
“Kan sekarang udah ada Om Ridwan.” Aku menelan ludah. “Ada Kak Ayla juga.”
Oma kembali mengusap rambutku. “Ya masih lah.”
Aku tersenyum. “Beneran?”
“Iya.”
Oma menatapku cukup lama sebelum berkata, “Oma pengen ditemenin Ayka terus.”
Senyumku semakin lebar. “Sampai kapan?”
“Sampai selamanya.”
Aku tertawa kecil. “Serius?”
“Serius.”
Ada rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi dadaku. Mungkin aku memang masih dibutuhkan. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya memiliki hidupku sendiri, sampai lupa bahwa ada seseorang yang merasa hidupnya jauh lebih lengkap ketika aku berada di dekatnya.
Oma kemudian balik bertanya, “Kalau Ayka gimana?”
Aku mengerutkan dahi. “Gimana apanya?”
“Ayka masih mau tidur di rumah ibu?”
Pertanyaan itu membuatku diam. Aku menatap wajah oma. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Sebenarnya aku tahu jawabannya. Hanya saja, mungkin selama ini aku tidak pernah benar-benar berani mengatakannya.
“Sebenarnya…” Aku menarik napas. “Ayka pengen punya kamar sendiri.”
Oma diam.
“Kamar yang bener-bener Ayka tempatin. Bukan cuma kamar yang ada nama Ayka di dalamnya.” Mataku beralih ke langit-langit kamar. “Kayak kamar Ayka di rumah ibu.”
Aku tersenyum kecil ketika membayangkan kamar itu. Kamar dengan nuansa serba pink, tempat tidur yang kupilih sendiri, barang-barang yang kutata sesuai keinginanku, cermin yang tepat berada di depan tempat tidur, dan jendela dengan pencahayaan pagi yang selalu kusukai. Kamar impianku.
“Tapi…” Aku kembali menatap oma. “Mungkin sebenarnya Ayka cuma suka suasananya.”
“Kenapa?”
“Soalnya setiap tidur sendiri, Ayka selalu inget oma.” Aku menghela napas. “Kayak ada yang kurang.”