Kamar Tidur

N'zyna
Chapter #22

Oma...

Sejak pulang dari acara pernikahan Ridwan dan Ayla, ada satu kebiasaan baru yang entah sejak kapan kami lakukan.

Bergadang.

Kadang kami hanya menonton televisi sampai larut malam. Kadang oma bercerita tentang masa mudanya. Kadang aku yang bercerita tentang kampus, teman-temanku, atau hal-hal tidak penting yang sebenarnya bisa diceritakan besok pagi.

Tapi entah kenapa, kalau sudah duduk berdua, waktu seperti tidak pernah cukup.

Begitu pula malam tadi.

Aku bahkan tidak tahu pukul berapa kami akhirnya tidur.

Yang aku ingat, oma masih tertawa ketika aku menceritakan sesuatu tentang Aditya. Setelah itu aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.

Sampai pagi datang.

Aku membuka mata ketika cahaya matahari sudah memenuhi kamar.

Aku menoleh ke arah oma.

Ia masih tidur.

“Oma…”

Tidak ada jawaban.

Aku duduk di tepi ranjang dan menggoyangkan bahunya pelan.

“Oma, bangun. Sarapan.”

Oma menggerakkan tubuh sedikit sebelum menarik selimut lebih tinggi.

“Nanti…”

Aku terkekeh.

“Ayo bangun.”

“Ngantuk.”

“Ya karena siapa semalem?”

Oma membuka mata sedikit.

“Ayka.”

Aku langsung tertawa.

“Loh, oma juga yang ngajak cerita.”

“Ayka yang ngajak.”

“Enggak.”

“Iya.”

“Enggak.”

Oma kembali memejamkan mata.

“Oma mau tidur.”

Aku menghela napas.

“Ya udah.”

Aku berdiri dan membiarkannya tidur lagi.

Toh, sesekali tidak apa-apa.

Beberapa jam kemudian, aku kembali masuk ke kamar.

Sudah hampir waktunya makan siang.

Sarapan pun terlewat.

Aku membuka pintu perlahan.

Oma masih dalam posisi yang sama.

Aku mendekat.

“Oma…”

Tidak ada jawaban.

Aku tersenyum kecil.

Tidurnya lelap sekali.

Wajah oma terlihat sangat tenang.

Cantik.

Entah kenapa aku tiba-tiba berpikir ia seperti bayi yang sedang tidur setelah kenyang.

Aku duduk di sampingnya.

Tanganku mengusap rambutnya perlahan.

“Oma…”

Tetap tidak bergerak.

Aku mulai mengerutkan dahi.

Biasanya oma akan mengomel kalau aku membangunkannya berkali-kali.

Biasanya dia akan bilang, "Berisik banget sih, Ayka."

Tapi kali ini tidak.

Aku menunggu beberapa detik.

Kemudian senyumku perlahan menghilang.

Ada sesuatu yang terasa berbeda.

Aku menatap tubuh oma.

Tidak bergerak.

Sama sekali.

Lihat selengkapnya