Kami Baik-Baik Saja (Katanya)

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #1

Keluarga Kami Baik-Baik Saja

Di rumah kami, “nggak apa-apa” itu bukan jawaban.

Itu kalimat ajaib.

Kalau misal ada piring pecah, “nggak apa-apa.”

Atau gaji Ayah telat, “nggak apa-apa.”

Kalau Om Bowo datang tanpa kabar dan pulang bawa beras satu karung, “nggak apa-apa.”

Kalau Ibu nangis di dapur sambil nyuci piring jam sebelas malam, itu juga “nggak apa-apa”, asal nangisnya pelan.

Aku tahu kalimat itu bahkan sebelum tau perkalian.

Aku belajar dari cara Ibu ngomong, dari nada Ayah, dari diamnya kakaku Bagas.

Oya aku lupa memperkenalakan diri, Nama aku Raka. Anak kedua.

Kalau di rumah, aku jarang dipanggil nama lengkap. Paling sering cuma, “Loe,” atau “Dek,” atau kadang nggak dipanggil sama sekali.

Pagi di rumah kami selalu dimulai dengan suara sendok ketemu piring. Bukan suara ceria. Lebih ke suara kewajiban. Ibu bangun paling pagi, Ayah paling akhir bicara, Bagas paling banyak mikir, dan aku… paling sering memperhatikan.

Meja makan kami kecil. Kayunya sudah mulai mengelupas di sudut, bekas digigit rayap atau mungkin bekas ditaruh setrika, aku nggak tahu. Di tengah meja ada tudung saji plastik warna hijau yang tutupnya retak. Isinya hampir selalu sama: tempe goreng, sambal, dan nasi. Kadang telur dadar kalau minggu gajian.

Pagi itu Ayah duduk paling ujung, punggungnya lurus tapi bahunya berat. Bagas di sebelahnya, kemeja rapi, tas kerja sudah siap. Ibu mondar-mandir, nyendokin nasi, ngecek kompor, ngecek kami, seperti kalau dia lengah sedikit saja, semuanya bisa runtuh.

Aku duduk paling dekat pintu. Biar gampang kabur kalau suasana tiba-tiba aneh.

“Bagas kamu hari ini mau presentasi ya?” tanya Ibu.

“Iya bu,” jawab Bagas singkat.

“Yang kemarin sudah siap?”

“Sudah siap bu.”

Ayah mengangguk pelan. Bangga, tapi disimpan. Bangga di rumah ini bukan sesuatu yang diumbar. Nanti dikira sombong.

Aku makan pelan. Bukan karena sok sopan. Lebih karena aku tahu, kalau aku cepat selesai, nggak ada lagi yang bisa aku lakukan selain duduk dan dengar.

“Raka,” kata Ayah tanpa lihat ke aku, “nanti pulang sekolah langsung ke rumah.”

“Iya yah.”

“Nggak usah keluyuran nggak jelas.”

“Iya yah.”

“Jangan ngelakuin hal nggak jelas.”

“Iya yah.”

Aku bisa jawab itu sambil tidur. Tiga “iya yah” tanpa makna, tapi cukup untuk bikin Ayah tenang. Dan ketenangan Ayah itu penting. Kalau Ayah tenang, rumah kami aman. Kalau Ayah capek, rumah ini bisa jadi medan perang tanpa suara.

Ibu duduk akhirnya, menghela napas sebentar sebelum makan. “Nanti siang Om Bowo mau ke sini,” katanya pelan.

Sendok Ayah berhenti sebentar di udara. “Lagi?”

“Katanya mau pinjam motor bentar.”

Ayah diam. Diam yang artinya banyak hal. Bisa marah, bisa pasrah, bisa capek. Aku belum jago membedakannya, tapi Bagas kelihatan tahu. Dia menunduk, pura-pura fokus ke nasi.

“Ya sudah,” kata Ayah akhirnya. “Nggak apa-apa.”

Nah, itu dia. Kalimat andalan keluar.

Aku melirik Ibu. Wajahnya nggak kaget. Seperti sudah tahu akhir ceritanya sejak awal. Aku ingin bertanya, kenapa selalu nggak apa-apa? Tapi pertanyaan itu terlalu besar buat meja makan sekecil ini.

Sekolah buat aku tempat yang lebih jujur. Guru bilang aku biasa saja, dan itu diucapkan tanpa rasa bersalah. Teman-teman juga begitu. Aku bukan yang pintar, bukan yang bodoh. Aku ada, tapi nggak menonjol. Rasanya mirip seperti di rumah.

Siang itu aku pulang lebih cepat. Panas, seragam lengket, dan perut lapar lagi. Dari jauh aku sudah dengar suara motor berhenti di depan rumah. Motor Ayah.

Om Bowo.

Dia selalu datang seperti itu. Tanpa pesan, tanpa rencana, tapi dengan senyum lebar seolah rumah ini memang tempat singgah resminya.

“Dek!” katanya waktu lihat aku. “Tambah gede ya sekarang.”

Aku senyum. Senyum yang sama setiap kali. Aman. Netral. Tidak menolak, tidak menyambut berlebihan.

Ibu keluar dari dapur, lap tangan pakai celemek. “Sudah makan, Om?”

“Belum,” jawab Om Bowo cepat. “Tapi nggak apa-apa.”

Aku hampir ketawa. Bahkan dia pun pakai mantra itu.

Mereka duduk di ruang tamu. Ruangan itu sempit, sofa tua, dan foto keluarga di dinding. Foto itu diambil waktu aku masih SD. Aku pakai seragam kebesaran, Bagas berdiri tegak di samping Ayah. Aku ingat hari itu. Ayah bilang Bagas kelihatan calon orang sukses. Aku kelihatan… ya, kelihatan.

“Aku pinjam motor ya, Mas,” kata Om Bowo ke Ayah yang baru pulang. “Buat ngurus sedikit urusan.”

“Urusan apa?” tanya Ayah.

“Ah, itu… kerjaan.”

Aku tahu arti kata “kerjaan” versi Om Bowo. Artinya panjang, berantakan, dan jarang selesai.

Ayah menghela napas. Lama. Lalu berdiri, ambil kunci motor. “Jangan lama-lama.”

“Pasti.”

Ibu berdiri di belakang Ayah, tangannya menggenggam ujung celemek. Mulutnya ingin bicara, tapi tidak jadi. Seperti biasa.

“Nggak apa-apa, Bu,” kata Ayah, seolah membaca pikiran Ibu.

Aku masuk kamar. Kamar aku kecil, dindingnya penuh coretan pensil. Bukan coretan sembarangan. Aku suka gambar. Garis, bentuk, wajah orang. Aku nggak pernah bilang ke Ayah. Pernah sekali aku gambar Ayah lagi duduk di meja makan. Ayah lihat, diam, lalu bilang, “Belajar yang bener. Jangan kebanyakan main.”

Sejak itu aku simpan semua di buku, ditutup, diselipkan di bawah kasur.

Aku rebahan, dengar suara TV dari ruang tamu. Berita siang, lalu iklan pinjaman online. Aku dengar Ibu batuk kecil, batuk yang ditahan. Batuk yang nggak mau jadi masalah.

Sore hari, Bagas pulang. Wajahnya capek, tapi rapi. Dia selalu rapi. Bahkan capek pun kelihatan teratur di wajahnya.

“Presentasinya gimana?” tanya Ibu.

“Lumayan bu,” jawab Bagas.

Ayah mengangguk. “Bagus nak.”

Satu kata itu cukup bikin Bagas tersenyum sedikit. Sedikit saja, tapi aku lihat.

Om Bowo belum pulang. Motor Ayah juga belum kembali.

“Nggak apa-apa,” kata Ayah waktu Ibu mulai gelisah. “Paling juga sebentar lagi.”

Malam turun pelan. Lampu ruang tamu menyala. Motor baru terdengar jam sembilan. Om Bowo masuk dengan wajah santai.

“Makasih ya, Mas,” katanya. “Besok aku balikin.”

Ayah hanya mengangguk. Ibu menyiapkan teh hangat. Tidak ada yang bertanya apakah motor itu dipakai buat apa. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang menyebut kata lelah.

Di kamar, aku menatap langit-langit. Retaknya membentuk garis seperti peta. Aku mengikuti garis itu dengan mata, membayangkan jalan keluar dari rumah ini. Bukan untuk pergi jauh. Cuma ingin tahu rasanya hidup tanpa harus selalu bilang “nggak apa-apa”.

Aku dengar Ayah dan Ibu bicara pelan di ruang tamu. Tidak jelas kata-katanya, tapi aku tahu ujungnya. Selalu sama.

“Nggak apa-apa.”

Dan malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, rumah kami kembali tenang.

Tenang yang rapuh.

Tenang yang dipelajari.

Aku memejamkan mata, sambil berpikir:

kalau semua selalu nggak apa-apa, kenapa rasanya sesak?

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar, mungkin yang tidak baik-baik saja bukan rumah ini.

Tapi kami.

Aku mulai sadar ada yang salah dengan rumah kami bukan dari pertengkaran besar, bukan dari pintu dibanting atau suara piring dilempar. Tapi dari hal-hal kecil yang diulang terus, sampai terasa normal.

Seperti cara Ibu selalu menunggu Ayah tidur dulu baru dia berani ke kamar mandi lama-lama.

Atau cara Bagas selalu pulang tepat waktu, meski teman-temannya masih nongkrong.

Atau caraku menghilang pelan-pelan dari obrolan, seolah kehadiranku hanya formalitas.

Pagi berikutnya, Ayah bangun lebih siang. Aku tahu dari cara langkahnya terdengar berat, diseret sedikit, seperti lantai rumah ini menahan kakinya. Ibu sudah di dapur, lagi. Dapur adalah wilayah aman Ibu. Tempat dia bisa sibuk tanpa ditanya.

Aku bantu ngupas bawang. Tanganku perih, mataku panas, tapi aku nggak bilang apa-apa. Di rumah ini, rasa perih bukan hal penting.

“Raka,” kata Ibu sambil mengaduk sayur, “nanti pulang sekolah jangan lupa beli gas ya.”

“Iya, Bu.”

“Uangnya di dompet ada Ayah.”

Aku mengangguk. Dompet Ayah selalu diletakkan di lemari kecil dekat TV. Aku tahu persis posisinya, tapi setiap kali ambil, rasanya seperti masuk wilayah terlarang. Ayah tidak pernah marah soal uang kecil, tapi aku tetap deg-degan.

Ayah keluar kamar, pakai kaus dalam, rambut acak-acakan. Dia lihat aku di dapur, mengangguk singkat. “Raka Sekolah yang bener kamu ya.”

“Iya yah.”

Aku ingin bilang aku ingin ikut ekskul seni di sekolah. Guru seni bilang gambarku lumayan. Kata “lumayan” diucapkan dengan senyum, bukan iba. Tapi kata-kata itu berhenti di tenggorokanku. Di rumah ini, “lumayan” hanya berlaku untuk nilai rapor. Bukan untuk hal-hal yang nggak kelihatan menghasilkan uang.

Bagas keluar kamar terakhir. Dia selalu kelihatan siap, bahkan sebelum dunia benar-benar siap menerimanya. Kemejanya licin, sepatunya bersih. Aku kadang mikir, kalau rumah ini runtuh, Bagas yang bakal pertama kali berdiri menopang.

“Rak,” katanya sambil pakai jam tangan, “nanti jangan lupa makan.”

Aku mengangguk. Bagas selalu ingat hal-hal kecil tentang aku. Kadang aku merasa dia satu-satunya orang yang benar-benar melihatku. Tapi melihat saja tidak cukup. Dia terlalu sibuk jadi harapan.

Di sekolah, aku duduk di bangku belakang. Dari sana aku bisa melihat semuanya tanpa harus terlihat. Guru menjelaskan, murid mencatat, dan aku menggambar di pinggir buku. Garis-garis kecil, wajah orang yang aku kenal. Ayah, Ibu, Bagas. Aku selalu gagal menggambar wajah Ibu dengan mata terbuka. Setiap kali aku coba, matanya seperti mau menangis.

Waktu istirahat, Mila duduk di sebelahku. Rambutnya diikat asal, seragamnya selalu agak kusut. Dia satu-satunya yang pernah bilang gambarku bagus tanpa embel-embel.

“Lu pernah kepikiran jadi apa nanti?” tanyanya sambil ngunyah gorengan.

Aku mengangkat bahu. “Belum.”

“Boong,” katanya cepat. “Orang yang gambar kayak gini pasti mikir.”

Aku tersenyum kecil. “Mikir doang. Nggak berani.”

“Kenapa?”

Aku ingin jawab karena rumahku tidak memberi ruang. Tapi itu terdengar terlalu dramatis buat jam istirahat.

“Orang rumah,” jawabku akhirnya.

Mila mengangguk, seolah paham tanpa perlu penjelasan. “Iya sih. Orang rumah tuh kadang bukan jahat. Cuma… ya gitu.”

Kata ya gitu itu terasa pas. Menggantung. Tidak selesai.

Sore aku pulang, beli gas, dan menemukan Ayah duduk di ruang tamu sendirian. TV mati. Itu jarang terjadi. Ayah biasanya menyalakan TV hanya untuk mengisi sunyi.

“Kamu habis dari mana?” tanyanya.

“Sekolah.”

“Langsung pulang?”

“Iya.”

Ayah mengangguk. “Bagus.”

Aku menyerahkan gas ke Ibu. Dia tersenyum kecil, seperti mengucapkan terima kasih tanpa suara. Aku masuk kamar lagi, menggambar lagi. Kali ini aku gambar rumah kami. Dari luar. Terlihat utuh. Tapi aku tahu di dalamnya, ada banyak retakan kecil.

Malam itu, keluarga besar datang. Dadakan, seperti biasa. Sepupu-sepupu berlarian, suara mereka memenuhi rumah. Nenek datang terakhir, dibantu Om Bowo. Nenek duduk di kursi paling nyaman, seperti ratu yang pulang ke istana kecilnya.

“Sari, kok kurus?” kata Nenek begitu melihat Ibu. Nada suaranya bukan khawatir. Lebih ke penilaian.

Ibu tersenyum. “Ya biasa, Bu.”

Lihat selengkapnya