Meja makan kami tidak pernah berpindah tempat. Dari aku kecil sampai sekarang, posisinya tetap di sana, menempel ke dinding yang catnya mulai mengelupas di bagian bawah. Kayunya sudah kusam, ada bekas goresan pisau yang entah dari kapan, dan satu kaki meja sedikit lebih pendek dari yang lain. Kalau piring ditaruh di tengah, kadang bergetar pelan. Tapi tidak pernah ada yang mengeluh. Meja itu, seperti kami, sudah terbiasa menahan.
Setiap pagi dan malam, kami duduk di kursi yang sama. Bukan karena ada aturan tertulis, tapi karena tidak ada yang pernah berpikir untuk mengubahnya. Ayah selalu di ujung meja, menghadap langsung ke pintu dapur. Ibu di samping kirinya, dekat kompor. Bagas di seberang Ayah. Dan aku—aku duduk di kursi sisa, yang dekat tembok, berhadapan dengan kalender lama yang masih menggantung meski tahunnya sudah lewat.
Kalender itu selalu mengingatkanku pada hal-hal yang terlambat diganti.
Ritual makan di rumah kami berjalan tanpa aba-aba. Ibu akan memanggil satu kali, “Makan.” Tidak keras, tidak juga lembut. Nada yang datar, seperti pengumuman stasiun yang tidak berharap ada penumpang yang benar-benar mendengar. Ayah datang duluan. Ia menarik kursinya, duduk, lalu membuka tudung saji tanpa berkata apa-apa. Bagas biasanya menyusul sambil masih menatap layar ponselnya. Aku datang terakhir, bukan karena terlambat, tapi karena tidak ada yang menungguku.
Sendok dan garpu mulai bergerak. Suara piring beradu pelan. Tidak ada doa bersama. Dulu pernah, waktu aku masih SD. Sekarang, entah sejak kapan, doa menjadi urusan masing-masing. Atau mungkin sudah tidak dianggap perlu.
“Makannya dihabisin,” kata Ayah, tanpa menoleh.
“Iya,” jawab kami hampir bersamaan.
Jawaban itu seperti refleks. Tidak perlu berpikir. Tidak perlu merasa.
Aku menyendok nasi perlahan. Telur dadar dipotong rapi, tempe goreng diambil satu. Porsiku selalu cukup. Tidak pernah kurang, tidak pernah lebih. Seimbang, kata orang. Tapi keseimbangan di rumah ini sering berarti tidak menonjol, tidak menuntut, tidak terlihat.
Bagas masih memegang ponselnya. Layarnya menyala terang, memantul di wajahnya yang kelihatan lelah meski baru bangun. Ayah melirik sebentar.
“Jangan main HP,” katanya.
Bagas menurunkan ponselnya, meletakkannya di samping piring. Tidak membantah. Tidak juga terlihat kesal. Seperti sudah tahu, ini bagian dari makan. Seperti nasi dan lauk.
Ibu tidak ikut bicara. Ia sibuk memastikan sambal tidak habis duluan. Tangannya cekatan, tapi matanya jarang terangkat. Kalau pun terangkat, hanya sebentar, lalu turun lagi. Aku sering berpikir, Ibu takut kalau ia melihat terlalu lama, ia akan melihat sesuatu yang tidak siap ia hadapi.
Aku menatap kalender di depanku. Angkanya besar, gambarnya pemandangan gunung. Di sudut kanan bawah ada logo perusahaan yang entah sudah tutup atau masih ada. Aku menghitung hari secara acak, hanya untuk mengisi kepala. Kadang aku lupa sedang makan apa. Yang aku ingat hanya posisi kami.
Ayah di ujung. Seperti pemimpin rapat yang tidak pernah benar-benar membuka diskusi. Ibu di samping, sebagai penyeimbang. Bagas di seberang, fokus ke depan. Dan aku di kursi sisa, menghadap dinding, seperti penonton yang tidak punya tiket.
Tidak ada yang bertanya bagaimana hariku. Tidak ada yang bercerita tentang pekerjaan. Bahkan keluhan kecil pun jarang muncul di meja makan. Seolah-olah meja ini bukan tempat untuk membawa masalah. Padahal justru di sinilah semua masalah berkumpul, duduk rapi, dan pura-pura tidak saling mengenal.
Aku pernah mencoba bicara. Dulu. Tentang sekolah. Tentang lomba yang hampir kuikuti. Tapi kalimatku selalu berhenti di tengah. Bukan karena aku dipotong, tapi karena aku tahu tidak ada ruang untuk menaruhnya. Seperti mencari tempat di meja yang sudah penuh meski masih ada kursi kosong.
“Tambah?” tanya Ibu, mengangkat piring nasi sedikit.
Aku menggeleng. “Nggak.”
Ia mengangguk. Tidak bertanya kenapa. Tidak menawarkan lagi. Di rumah ini, penolakan kecil tidak perlu dibahas.
Ayah menghabiskan makannya lebih cepat. Ia berdiri, membawa piring ke dapur, lalu kembali mengambil tas kerjanya. Semua dilakukan tanpa suara berlebih. Seperti takut mengganggu keseimbangan yang rapuh.
“Ayah berangkat,” katanya.
“Iya,” jawab Ibu.
Bagas tidak menoleh. Aku mengangguk kecil, meski Ayah sudah membelakangi.
Pintu ditutup. Suara motor menyusul. Meja makan terasa lebih lengang, tapi juga lebih ringan. Seperti ada beban yang pergi, meski tidak ada yang mengakuinya.
Bagas kembali ke ponselnya. Ibu mulai membereskan sisa makanan. Aku masih duduk, menatap piringku yang setengah kosong. Aku tidak lapar lagi, tapi juga tidak ingin berdiri duluan. Ada perasaan aneh setiap kali aku menjadi yang terakhir di meja. Seperti aku harus memastikan tidak ada yang tertinggal, padahal yang sering tertinggal justru aku.
Aku memperhatikan kursi-kursi itu. Tidak ada yang berubah. Posisi kami terlalu akrab dengan kayu dan lantai. Kami mungkin lebih hafal jarak antar kursi daripada jarak antar perasaan.
Aku tahu kalau suatu hari aku duduk di kursi lain, orang-orang akan sadar. Bukan karena rindu, tapi karena ada yang tidak sesuai pola.
Itulah yang kami jaga setiap hari: pola.
Aman, kata Ayah. Stabil, kata Ibu. Normal, kata orang luar. Tapi bagiku, pola ini seperti jalan lurus yang tidak pernah memperlihatkan pemandangan. Tidak buruk, tapi juga tidak membuat ingin berhenti dan melihat.
Aku berdiri, membawa piring ke dapur. Ibu menoleh sebentar.
“Nanti jangan lupa berangkat sekolah,” katanya.
“Iya,” jawabku.
Itu saja. Tidak ada “hati-hati”. Tidak ada “semangat”. Mungkin karena semua itu dianggap otomatis. Atau mungkin karena kata-kata seperti itu terasa berlebihan di rumah yang terbiasa menahan.
Aku melangkah keluar dapur. Meja makan sudah bersih. Kursi-kursi kembali rapi. Tidak ada bekas percakapan, karena memang tidak pernah ada.
Dan besok, kami akan duduk di kursi yang sama.
Dengan piring yang sama.
Dengan kata-kata yang sama.
Hambar, tapi stabil.
Aman, tapi kosong.
Aku sering merasa kalimat di rumah ini seperti barang pecah belah. Semua orang tahu ada, semua orang takut menjatuhkannya. Jadi lebih aman disimpan. Di lemari. Di kepala. Di dada.
Pagi itu aku bangun dengan satu kalimat yang sudah siap di lidahku. Tentang sekolah. Tentang pengumuman yang ditempel di papan mading kemarin sore. Tentang hal kecil yang seharusnya tidak penting, tapi entah kenapa membuatku ingin bercerita. Aku mengulanginya pelan di kamar mandi, sambil menggosok gigi. Supaya tidak salah ucap. Supaya tidak terdengar bodoh.
Kalimat itu kubawa sampai ke meja makan.
Aku duduk di kursi sisa, seperti biasa. Piring di depanku masih kosong. Ibu menuang nasi. Ayah membuka tudung saji. Bagas datang terakhir, matanya setengah terbuka, tangannya sudah menggenggam ponsel.
Aku menarik napas. Ini waktunya, kataku pada diri sendiri. Sekarang atau tidak sama sekali.
“Di sekolah tadi—”
Ayah berdehem. Bukan untuk menghentikanku. Tapi cukup untuk membuatku berhenti. Tangannya mengambil tempe, memindahkannya ke piring Bagas.
“Makannya yang banyak,” katanya ke Bagas. “Jangan telat berangkat.”
“Iya,” jawab Bagas.
Kalimatku menggantung. Tidak jatuh. Tidak juga diteruskan. Seperti layangan yang talinya dilepas tapi tidak ada angin.
Aku mencoba lagi. Lebih pelan.
“Di sekolah ada—”
“Raka,” kata Ibu, tanpa menatapku. “Nasinya nanti dingin.”
“Iya,” jawabku.
Aku menyendok nasi. Kalimat itu masuk kembali ke kepalaku, duduk rapi, dan menunggu giliran yang tidak pernah datang. Aku mengunyah sambil berpikir, mungkin memang bukan waktunya. Atau mungkin memang tidak ada waktu yang tepat di rumah ini.
Aku mulai belajar membaca tanda-tanda. Ayah kalau sudah membuka koran, artinya jangan bicara. Ibu kalau sudah sibuk dengan sambal, artinya jangan menambah topik. Bagas kalau sudah menatap layar, artinya jangan berharap didengar. Dan aku, kalau sudah membuka mulut lalu menutupnya lagi, artinya aku seharusnya tahu diri.
Ada banyak kata yang tidak jadi diucapkan di meja makan. Kata “capek” dari Ayah. Kata “takut” dari Ibu. Kata “bingung” dari Bagas. Dan kata “aku” dariku.
Semua diganti dengan kalimat aman.
“Nggak apa-apa.”
Kalimat itu seperti plester. Ditempel di mana saja. Di luka kecil, di luka besar. Di luka yang sudah bernanah. Tidak menyembuhkan, tapi cukup untuk menutup agar tidak terlihat.
“Ayah capek?” tanya Ibu suatu malam.
“Nggak apa-apa,” jawab Ayah.
“Uangnya cukup?” tanya Ibu di lain hari.
“Nggak apa-apa,” jawab Ayah lagi.
Aku pernah jatuh dari sepeda, lututku berdarah. Ibu membersihkannya cepat, lalu bertanya, “Sakit?”
“Nggak apa-apa,” jawabku. Padahal perihnya sampai ke tulang.
Sejak itu, aku tahu. Di rumah ini, rasa sakit tidak perlu diuraikan. Cukup diberi label.
Aku memperhatikan Ayah dari sela-sela piring. Wajahnya jarang berubah. Kalau marah, ia diam. Kalau senang, ia juga diam. Ekspresinya paling jelas hanya kalau bicara soal Bagas—tentang nilai, tentang masa depan, tentang rencana yang disusun rapi seperti jadwal kereta.
Bagas mendengarkan, mengangguk, sesekali menjawab singkat. Aku tidak tahu apakah ia benar-benar ingin semua itu, atau hanya terlalu lelah untuk membantah. Tapi setidaknya, Bagas diberi kalimat. Diberi ruang.
Aku? Aku diberi sisa.
Aku sering membayangkan, bagaimana kalau aku bicara terus saja. Tidak berhenti meski tidak ditanggapi. Bagaimana kalau aku ceritakan semuanya, sekaligus. Tentang lomba, tentang rasa iri, tentang rasa takut. Tapi bayangan itu selalu berakhir sama: meja makan jadi sunyi. Ibu cemas. Ayah kesal. Dan aku menyesal.
Jadi aku memilih diam. Lebih aman.
Diam adalah cara tercepat untuk kembali ke keseimbangan.
Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya ke Ibu, setelah Ayah pergi.
“Bu,” kataku pelan. “Kalau aku cerita, Ibu dengar nggak?”
Ibu terdiam sebentar. Tangannya berhenti mengelap meja.
“Ibu dengar,” katanya akhirnya. “Tapi sekarang makan dulu, ya. Jangan dibiasakan bicara berat di meja.”
Aku mengangguk. Lagi-lagi waktu tidak tepat. Lagi-lagi nanti.