Di rumah kami, kata nanti punya umur yang panjang. Lebih panjang dari janji. Lebih tahan dari harapan. Ia bisa bertahan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tanpa pernah benar-benar datang.
“Nanti dibelikan.”
“Nanti dibicarakan.”
“Nanti saja kalau sudah memungkinkan.”
Kata itu melayang ringan, tapi jatuhnya selalu tepat di tempat yang sama: ke lubang yang sudah terlalu penuh.
Pagi hari di rumah kami berjalan seperti mesin tua yang masih dipaksa hidup. Tidak cepat, tidak juga rusak. Cukup berfungsi. Ayah berangkat kerja dengan langkah yang sama setiap hari. Ibu membersihkan rumah dengan urutan yang sama. Bagas bersiap sekolah dengan wajah yang sama. Dan aku, seperti biasa, mengikuti arus tanpa benar-benar tahu tujuannya.
Aku sering merasa rumah ini bukan tempat tinggal, tapi ruang tunggu.
Kami menunggu banyak hal. Uang lebih. Keadaan membaik. Om Bowo berubah. Ayah lebih lunak. Ibu lebih berani. Tapi tidak ada yang benar-benar menunggu dengan cara aktif. Semua hanya duduk, berharap waktu bekerja sendiri.
Aku pernah menempelkan pengumuman lomba di kulkas. Kertasnya putih, tulisannya hitam, judulnya dicetak tebal. Lomba menggambar tingkat kota. Batas pendaftaran masih dua minggu.
Aku menempelkannya tanpa bicara. Seperti kebiasaan baru yang kupelajari: tidak mengganggu.
Ibu melihatnya sore itu.
“Oh,” katanya. “Ini apa?”
“Lomba,” jawabku. Singkat. Aku tidak ingin terdengar terlalu berharap.
“Kalau mau ikut, nanti kita lihat dulu ya.”
Di luar rumah, aku bernapas lebih panjang.
Bukan karena udaranya lebih bersih, tapi karena aku tidak harus menjaga nada suara. Tidak perlu memilih kata. Tidak perlu menimbang apakah kalimatku akan membuat suasana berubah. Di luar rumah, aku boleh berbicara tanpa takut merusak keseimbangan yang rapuh.
Sekolah tidak istimewa. Bangunannya biasa. Catnya mulai pudar. Lapangannya berdebu. Tapi di sana, aku punya nama. Bukan hanya posisi.
“Rak,” panggil Dimas dari bangku belakang. “Pensil warna lo masih ada?”
“Ada,” jawabku.
Sederhana. Tapi cukup untuk membuatku merasa dibutuhkan.
Aku duduk di bangku dekat jendela. Dari sana, aku bisa melihat langit yang sering berubah warna. Guru menerangkan pelajaran dengan suara yang kadang membosankan, tapi aku mendengarkan setengah-setengah. Tanganku sibuk mencoret-coret pinggir buku. Wajah-wajah. Bentuk-bentuk. Garis yang tidak rapi tapi terasa benar.
Di sekolah, aku tidak pintar. Tidak juga bodoh. Nilai-nilaiku cukup untuk tidak dipanggil, tapi tidak cukup untuk dibanggakan. Dan anehnya, itu tidak masalah. Tidak ada yang menungguku menjadi apa-apa.
Saat jam istirahat, aku duduk di koridor, menggambar. Dimas jongkok di sampingku, mengunyah roti.
“Lo jago gambar,” katanya, sambil melirik bukuku.
“Biasa aja.”
“Biasa apanya. Ini mirip banget sama Pak Rudi.”
Aku tersenyum. Senyum yang keluar tanpa izin. Tanpa perhitungan.
Di rumah, pujian sering terasa berbahaya. Seperti undangan untuk berharap. Di sekolah, pujian hanya berhenti sebagai pujian. Tidak ada beban setelahnya.
Aku pernah ikut menggambar mural kecil di dinding belakang kelas. Tidak resmi. Tidak ada lomba. Hanya coretan bersama. Catnya dipinjam. Waktunya dicuri dari jam kosong. Tapi di situ, aku merasa hidup.
“Kenapa nggak ikut ekskul seni?” tanya Dimas.
Aku diam sebentar. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya panjang.
“Nanti,” kataku akhirnya.
Dimas mengangguk. Tidak mengejar. Kata nanti terdengar biasa di sekolah. Tidak mengancam. Tidak seperti di rumah.
Sepulang sekolah, langkah kakiku melambat mendekati pagar rumah. Seperti ada garis tak terlihat yang memisahkan dua dunia. Di luar, aku anak yang bisa tertawa. Di dalam, aku kembali menjadi kursi sisa.
Ibu menyambut dengan pertanyaan rutin.
“Sudah makan di luar?”
“Belum.”
“Nanti makan ya.”
Nanti lagi.
Ayah belum pulang. Bagas sudah di kamar. Rumah sunyi, tapi bukan sunyi yang nyaman. Sunyi yang menunggu.
Aku membuka buku gambarku. Menatap satu halaman kosong. Tanganku ragu. Di sekolah, tanganku bebas. Di rumah, ia seperti lupa caranya bergerak. Aku menggambar pelan, hati-hati. Seperti takut ketahuan sedang menjadi diriku sendiri.
Aku ingin menunjukkan gambarku ke Ibu. Aku benar-benar ingin. Tapi bayangan percakapan itu berhenti di kepalaku.
“Bagus.”
“Nanti saja.”
“Sekarang bukan waktunya.”
Aku menutup buku.
Sore itu, Bagas keluar kamar sebentar, mengambil air minum. Ia melirik bukuku.
“Gambar lagi?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Bagas berhenti sejenak. “Kalau lo suka, terusin aja.”
Kalimat itu pendek. Tidak dramatis. Tapi aku membawanya lama. Bagas jarang bicara begitu. Mungkin karena ia sendiri tidak pernah punya pilihan untuk terusin aja.
Ayah pulang saat magrib. Rumah kembali penuh. Tapi kepalaku justru terasa sempit. Seperti semua yang kubawa dari luar harus ditinggal di depan pintu.
Di meja makan, aku hampir bercerita tentang mural. Tentang Dimas. Tentang cat yang menempel di tanganku. Aku hampir.