Bab 1 — Utang Gorengan
Pukul setengah tujuh pagi, warung Bu Ningsih sudah seperti stasiun kecil yang tidak punya jadwal kereta tapi selalu ramai penumpang. Asap dari wajan gorengan mengepul ke udara. Bau minyak panas bercampur aroma kopi tubruk menyebar sampai ke gang sebelah. Di meja kayu panjang yang catnya sudah mengelupas di tiga tempat, empat orang duduk dengan gelas masing-masing — ada yang menyeruput, ada yang cuma bengong, ada yang pura-pura baca koran padahal korannya edisi tiga hari lalu. Di sudut warung, seekor kucing belang tidur di atas karung beras dengan posisi semewah raja.
Bu Ningsih menyebutnya Presiden. Bukan karena kucingnya pintar, melainkan karena kerjanya cuma tidur, makan, dan tidak pernah minta izin siapa-siapa.
Ujang datang pukul tujuh kurang sepuluh. Ia masih mengenakan jaket hijaunya yang sudah pudar — jaket ojek online yang dulu hijau terang, sekarang hijau lumut karena terlalu sering dijemur. Rambutnya sedikit berantakan. Ada bekas bantal di pipi kirinya.
"Bu," katanya sambil duduk di bangku paling ujung, "kopi satu. Gorengan lima."
Bu Ningsih tidak menoleh dari wajan.
"Lima?"
"Iya."
"Bayarnya?"
Ujang menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Nanti."
Satu detik hening. Dua detik. Tiga. Setelah itu, Bu Ningsih meletakkan centongnya, berbalik, membuka laci di bawah meja kasir, dan mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna merah. Sampulnya sudah lecek. Pinggirannya sudah cokelat karena sering dipegang. Di sampulnya ada tulisan spidol hitam yang sudah agak pudar:
BUKU AMANAH
Warga warung yang hadir menoleh bersamaan ke arah Ujang. Ujang memasang senyum terlebar yang ia punya.
“Bu Ningsih,” katanya, “saya sudah tiga puluh tujuh kali bilang ‘nanti’, kan? Dan saya selalu datang lagi. Berarti saya nggak pernah ingkar janji. Itu namanya pelanggan setia.”
“Itu namanya utang,” kata Bu Ningsih datar, sambil membuka buku dan mulai menulis.
Pak Darno, yang duduk di pojok sambil memegang termos sendiri, tertawa kecil.
"Pelanggan setia," ulangnya sambil menggeleng. "Setia sama utangnya maksudnya."
"Pak Darno jangan ketawa dulu," kata Bu Ningsih tanpa menoleh dari bukunya. "Nama Bapak ada di halaman delapan belas."
Pak Darno langsung batuk-batuk.
Ucup datang sepuluh menit kemudian. Langkahnya santai. Tangannya di saku celana. Ekspresinya seperti orang yang baru bangun tidur tapi sudah punya rencana besar — padahal rencananya cuma sarapan gratis.
"Bu," katanya, mengacungkan satu jari, "kopi."
Bu Ningsih langsung menatapnya.
"Bayar dulu."
Ucup berhenti melangkah.
"Lho. Saya baru datang."
"Iya. Tapi utang lama belum datang."
Ucup sempat membuka mulut, mengurungkan niatnya, lalu mencoba lagi. Ujang yang duduk di ujung meja mengangkat gorengannya ke arah Ucup seperti menyambut tamu terhormat.
"Duduk sini, Cup. Aman. Kita senasib."
"Kita beda," kata Ucup sambil tetap berdiri. "Saya bukan ngutang. Saya sedang membangun ekosistem kepercayaan."
"Ekosistem apa?" tanya Selvi yang baru keluar dari pintu salon di sebelah warung. Rambutnya dikucir dua, celemek biru di pinggang, membawa kipas kecil bergambar kupu-kupu. "Kepercayaan sama buku merah Bu Ningsih?"
"Investasi hubungan," kata Ucup, tidak menyerah. "Secara sosiologis—"
"Cup."
"Ya?"
"Duduk," kata Selvi. "Kamu berdiri di situ kayak orang mau audisi sinetron."
Ucup akhirnya duduk di sebelah Ujang. Bu Ningsih meletakkan dua kopi di meja tanpa diminta, lalu kembali ke wajan. Ia tahu keduanya akan minum. Ia juga tahu keduanya tidak akan bayar hari ini. Itu sudah masuk kalkulasinya sejak lama.
Pukul tujuh lebih dua puluh, Pak Burhan tiba. Seragam RT lengkap: kemeja putih, pin berlambang garuda kecil di dada kiri, topi dengan tulisan RT 07, dan tas pinggang cokelat yang tidak jelas isinya apa, tapi selalu ada. Ia melangkah masuk dengan gaya yang ingin terlihat berwibawa — dan berhasil, setidaknya untuk dua detik, sebelum ia tersandung keset di depan pintu.
"Selamat pagi, warga!"
"Pagi, Pak RT," jawab semua orang — malas-malasan, tapi kompak.
Pak Burhan duduk di tengah meja. Posisi strategis, selalu. Ia ingin bisa melihat semua orang dan semua orang bisa melihatnya.
"Bu, kopi."
Bu Ningsih menatapnya.
"Bayar?"
Pak Burhan tersenyum lebar. Merogoh saku kanan. Merogoh saku kiri. Merogoh saku tas pinggang. Mengeluarkan dompet cokelat lusuh, membuka dengan gaya, dan menarik selembar uang.
"Tentu."
Seluruh warung memandang dengan ekspresi yang belum pernah mereka tunjukkan untuk Pak Burhan sebelumnya: kagum.
Ujang hampir tersedak kopinya. Ucup melongo.
Pak Darno menyesuaikan kacamatanya seolah tidak percaya penglihatannya. Bu Ningsih menerima uang itu, melihatnya sebentar, lalu menatap Pak Burhan dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali.
"Lima ribu kurang."