Kampung Bahagia

A.A.Pusung
Chapter #2

Bab 2 — Salon Perang

Bab 2 — Salon Perang

Kabar itu datang pada hari Selasa pagi, dibawa oleh Kang Asep.

Kang Asep adalah tukang sayur yang gerobaknya setiap pagi melewati gang utama Kampung Bahagia pukul enam tepat — lebih tepat dari jadwal bus TransJakarta, kata orang-orang. Ia tahu segalanya tentang kampung ini bukan karena ia suka mencari tahu, tapi karena semua orang suka bercerita padanya. Ada yang bilang suara gerobak Kang Asep itu seperti bel sekolah — begitu terdengar, semua orang keluar dan mulai bicara.

Pagi itu, Kang Asep berhenti di depan warung Bu Ningsih dengan ekspresi orang yang menyimpan berita besar.

"Bu Ningsih," katanya, setengah berbisik padahal tidak ada yang perlu dirahasiakan, "di ujung gang mau buka salon baru."

Bu Ningsih tidak langsung bereaksi. Ia sedang menggoreng tahu.

"Salon siapa?"

"Katanya dari kota. Namanya..." Kang Asep mengeluarkan ponselnya, membuka foto, lalu memperlihatkannya kepada Bu Ningsih. "Glow Studio."

Bu Ningsih menatap foto itu sebentar. Fasad salon modern, dinding putih bersih, huruf-huruf emas berkilat, tanaman hias di depan pintu yang tampaknya lebih mahal dari kursi makan Bu Ningsih.

"Hmm," kata Bu Ningsih.

Itu satu-satunya komentarnya.

Tapi jam delapan pagi, ketika Mawar datang ke warung dengan tas rotan dan kacamata tortoiseshell-nya, Bu Ningsih yang menyampaikan berita itu — bukan karena ia suka bergosip, tapi karena menurutnya Mawar berhak tahu.

Mawar mendengarkan sambil memegang cangkir kopinya. Setelah itu, ia meletakkan cangkirnya.

Senyum muncul di wajahnya.

Bukan senyum Mawar yang biasanya — hangat dan sedikit geli. Kali ini lebih tipis. Selvi, yang duduk di sebelahnya, sampai diam-diam menggeser duduknya sedikit menjauh.

"Glow Studio," ulang Mawar pelan.

"Iya," kata Kang Asep, yang masih belum pergi karena penasaran dengan reaksinya.

"Dari kota."

"Iya."

"Di ujung gang kita."

"Iya."

Mawar mengangguk satu kali. Ia meminum kopinya sampai habis, meletakkan cangkir dengan tenang, berdiri, merapikan roknya, lalu berkata:

"Baik."

Lalu ia pergi ke salonnya.

Selvi menatap punggungnya sampai hilang di balik pintu, lalu berbisik ke Bu Ningsih:

"Bu, itu tanda bahaya."

Bu Ningsih kembali ke wajan.

"Saya tahu."

Salon Mawar Indah sudah berdiri sebelas tahun di Kampung Bahagia. Bukan salon mewah. Tiga kursi, dua meja rias, satu wastafel yang krannya harus diputar dua setengah kali baru airnya keluar dengan benar. Dindingnya berwarna mint — cat ulang terakhir tiga tahun lalu, sekarang sudah mulai memudar di sudut-sudut. Di depan pintu ada gantungan angin berbentuk gunting dari akrilik, hadiah dari Selvi di ulang tahun salon yang kesepuluh.

Tapi setiap kursi di salon itu selalu penuh. Mawar hafal nama semua pelanggannya. Hafal model rambut yang mereka inginkan. Hafal cerita di balik setiap permintaan — siapa yang mau kondangan, siapa yang baru putus, siapa yang mau wawancara kerja dan gugup sampai tangannya gemetar waktu duduk di kursi.

Mawar tidak pernah sekadar menggunting rambut. Ia mendengarkan cerita mereka, mengingatnya, lalu entah bagaimana hasil rambut yang ia kerjakan selalu terasa lebih bagus dari yang diminta. Itu yang tidak bisa dibeli dengan dinding putih dan huruf emas.

Setidaknya, itu yang Mawar percaya.

Glow Studio buka resmi hari Kamis. Papan bunga ucapan selamat berjejer di depan pintu. Ada tiga — satu dari distributor produk rambut, satu dari seseorang yang tidak dikenal, dan satu lagi yang membuat Mawar menatapnya agak lama waktu ia lewat:

"Selamat Buka, tetangga baru! Semoga sukses. — Mawar Indah"

Selvi yang mengirimnya, atas nama salon, tanpa bilang ke Mawar dulu.

"Kamu kirim karangan bunga ke musuh?" tanya Mawar ketika tahu.

"Bukan musuh, Kak. Kompetitor."

"Beda tipis."

"Tapi penting," kata Selvi. "Ini strategi. Kita kelihatan ramah, mereka jaga jarak. Klasik."

Mawar menatap Selvi sebentar.

"Kamu belajar itu dari mana?"

"YouTube. Channel tentang bisnis UKM."

"Berapa subscriber-nya?"

"Empat ratus."

Mawar menghela napas.

Hari pertama Glow Studio buka, dua pelanggan lama Mawar tidak datang ke Mawar Indah.

Tidak banyak. Tapi Mawar tahu siapa mereka. Bu Teti—tetangga yang rumahnya paling bagus, tapi selalu merasa hidupnya paling susah—dan Mbak Reni dari gang belakang yang sudah tujuh tahun tidak pernah absen keriting rambut setiap bulan.

Sore itu, ketika Selvi membereskan meja rias sambil menggulir ponsel, ia menemukan sesuatu.

"Kak," katanya pelan.

"Hmm."

"Bu Teti upload foto di Instagram."

Mawar tidak menjawab.

"Di Glow Studio."

Hening dua detik.

"Sambil nulis caption..." Selvi membaca dengan hati-hati, "'Akhirnya nemu salon yang beneran ngerti vibes aku. Aesthetic banget. Recommended!'"

Mawar meletakkan sisirnya.

"Vibes," ulangnya datar.

Lihat selengkapnya