Mau tidak mau, nantinya ia akan dipaksa mengendalikan dan mendaratkan pesawat guna menyelamatkan seluruh penumpang dan awak pesawat yang masih hidup, karena tidak ada orang lain lagi selain dirinya sendiri yang masih sadar.
Padahal, ia sama sekali tidak pernah belajar menjadi seorang pilot penerbang. Jangankan menerbangkan pesawat berbadan besar sekelas Boeing 737, pesawat sekecil apa pun belum pernah diterbangkannya.
Mimpi itu yang membuat Fransiska saat ini khawatir hal itu akan terjadi sungguhan! Entah akan terjadi kepada dirinya atau Bagas yang mengalaminya sendiri. Firasat buruk menghinggapi dirinya.
"Kita sarapan dulu, yuk. Mau makan apa? Tidak usah dipikirkan yang tadi."
Fransiska tidak suka makan jenis roti-rotian, maunya yang ada nasinya. Begitulah seleranya sejak dulu selama diajak makan di restoran.l
"Habis itu Bagas mau ke supermarket di dalam bandara ini. Bagas lupa beli tablet CTM kemarin, siapa tahu ada di sini."
"Memang untuk apa tablet CTM itu?"
"Nggak tahu ini, belakangan badan gatal-gatal semua, apalagi kalau terkena hawa dingin. Penyakit biduran Bagas kambuh lagi sepertinya."
"Kalau nggak salah, tablet CTM itu bisa membuat kita mengantuk. Fransiska kayaknya pernah nyobain, deh."
"Iya, sih, bisa membuat kita mengantuk. Tidak apa-apa, biar enak tidurnya di pesawat nanti. Tadi itu jam empat subuh Bagas berangkat dari Bontang, jadi kurang tidur."
Selama naik pesawat sendirian, Bagas lebih suka tidur di dalam pesawat. Masalahnya, naik pesawat itu sebenarnya tidak enak. Duduk terlalu lama di bangku pesawat terasa tidak nyaman dan membosankan, apalagi sampai berjam-jam lamanya. Pesawat akan terbang lurus, hampir tidak pernah berbelok ke kiri atau ke kanan. Sejauh mata memandang, hanya awan putih saja membentang luas di cakrawala.
Tidak akan pernah berhenti di lampu merah, apalagi di rest area tempat biasa kita beristirahat untuk makan di saat mengendarai mobil. Tidak ada guncangan sama sekali, kecuali dalam kondisi turbulensi di mana pesawat menabrak awan, baru terasa ada guncangan.
Makanya lebih suka tidur dalam pesawat, biar begitu terbangun sudah sampai ke bandara yang dituju. Paling menjengkelkan bila sudah tidur nyenyak dibangunkan oleh pramugari ketika memberikan kotak kardus makanan yang biasa disajikan dalam pesawat. Bila sudah dibangunkan, akan susah tidur kembali
Panggilan yang ditujukan kepada penumpang yang akan berangkat menuju Jakarta menggema seantero gedung bandara. Pesawat Fransiska sepertinya sudah bersiap tinggal landas.
"Adik sudah dipanggil duluan itu, siap-siap saja berangkat. Nanti tungguin Bagas di tempat pengambilan bagasi, atau kalau masih mau makan, makan saja duluan."
"Coba kita barengan berangkatnya," Fransiska masih saja merasa tidak enak berangkat sendiri dalam pesawat.