Kamu Adalah Apa Yang Kamu Pikirkan

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #3

Saatnya Tinggal Landas

Menjelang keberangkatan, semakin ramai calon penumpang berdatangan di ruang tunggu. Riuh rendah suaranya.

"Sini, Adik, jangan lari-lari, nanti jatuh."

"Arigato gozaimasu!"

"Annyeonghaseyo!"

"Horas, Bah!"

"Liebe dich!"

"Kamsia ... kamsia!"

"Hai, how are you? Where are you going?" ("Hai, apa kabar? Mau ke mana?")

Celetukan sapaan dari para calon penumpang dari berbagai daerah dan mancanegara ramai terdengar bersahut-sahutan, saling berinteraksi satu sama lain.

Dari yang berpasangan suami istri, sepasang kekasih, rombongan keluarga, bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak muda, sampai remaja muda-mudi dengan berbagai corak ragam busana yang dikenakan meramaikan ruang tunggu keberangkatan.

Di Kalimantan ini memang gudangnya perusahaan besar berkelas internasional, mulai dari perusahaan pertambangan, perminyakan, sampai gas alam dan pupuk. Makanya, tidak heran banyak pekerja asing (ekspatriat) di sini.

Sayang sekali obrolan yang begitu cair dan bersahabat dengan kedua pasangan ini harus diakhiri ketika panggilan yang ditujukan kepada para penumpang yang akan menuju Jakarta kembali terdengar.

Semua penumpang berdiri mengantre dengan tertib untuk diperiksa oleh petugas guna mencocokkan boarding pass yang dibawanya. Kemudian, mereka diarahkan menuju lorong garbarata tembus pandang untuk sampai di depan pintu pesawat.

Andreas dengan Tina rupanya sudah berada di depan antrean. Bagas berada di belakangnya dengan tas jinjing bersandar di bahunya.

Ketika memasuki pintu pesawat, mereka sudah disambut oleh dua orang pramugari yang menghitung satu per satu penumpang yang masuk ke dalam pesawat dengan sebuah alat kecil yang digenggam di tangannya. Alat itu digunakan untuk mencocokkan jumlah penumpang sesuai dengan dokumen manifes penerbangan.

Beberapa pramugari lainnya sibuk melayani penumpang.

"Selamat siang ... nomor berapa, Bapak?"

Nomor tempat duduk ditempai Bagas tertulis 21F, berada di belakang. Berjalan lambat di lorong sempit dalam pesawat bersama antrean penumpang yang lain harus bersabar.

Masing-masing penumpang sibuk dengan bagasi yang dibawanya untuk ditempatkan di laci atas tempat duduknya. Pramugari dengan sigap membantunya.

Rupanya Andreas bersama Tina duduk di barisan keempat dari depan, sempat menyapa,

"Mas Bagas, di mana duduknya?"

"Saya di belakang, Mbak, nomor 21F."

"Sampai ketemu lagi di bandara nanti," Andreas menambahi.

"Baik, Mr. Andreas, semoga penerbangan kita baik-baik saja," jawaban Bagas terus berjalan menuju ke belakang.

Sesuai yang diharapkan, nomor bangku yang didudukinya berada di samping jendela pesawat, posisi paling disukainya setiap naik pesawat agar bisa leluasa melihat pemandangan di luar. Tapi sebenarnya tidak safe duduk di pojok dua baris bangku penumpang di sampingnya seandainya terjadi situasi emergency sulit untuk keluarnya nanti.

Dua orang penumpang di sampingnya sepertinya belum datang. Memposisikan duduk paling nyaman, mulai merebahkan diri di bangku pesawat. Sayang sekali Fransisca tidak berada di sampingnya, mungkin sudah tertidur dalam pesawatnya sendiri.

Lihat selengkapnya