Di dalam pesawat lainnya sama-sama terbang menuju Jakarta, tampak seorang gadis duduk dengan gelisah. Biasa tertidur di dalam pesawat, kali ini tidak bisa dilakukannya.
Berkali membaca majalah tersedia di depan bangkunya, tetap saja tidak bisa tertidur. Sampai-sampai seorang ibu-ibu duduk di sampingnya menegurnya.
"Ada apa, Dik? Dari tadi Ibu melihat Adik terlihat gelisah terus. Apa ada saudaranya yang meninggal atau sakit, barangkali?"
"Tidak ada, Bu. Tidak ada saudara saya yang meninggal atau sakit," jawab gadis itu.
"Jadi, kenapa Adik terlihat murung dan gelisah sejak tadi? Atau ditinggal pacar, mungkin? Ceritakan saja kepada Ibu, siapa tahu Ibu bisa menolong Adik."
Ibu itu terlihat berempati terhadap Fransisca, sampai bersedia membantu bilamana ada masalah dihadapinya.
"Terima kasih, Bu. Saya belum punya pacar, tapi sedang memikirkan teman saya dalam pesawat yang lain, sama-sama menuju ke Jakarta," berterus terang.
"Ada apa dengan temanmu itu, Dik... Dengan Adik siapa, kalau Ibu boleh tahu?"
"Fransisca, Bu, nama saya."
"O, dengan Dik Sisca? Saya Ibu Endang. Tapi masa gadis secantik ini belum punya pacar? Jangan-jangan memang pacar Dik Sisca sendiri, jangan bohong sama Ibu."
"Bukan, Bu. Cuma teman dalam pekerjaan saja."
"Lalu, kenapa Dik Sisca begitu mengkhawatirkannya? Diselingkuhi, ya?" Ibu itu terus menggoda Fransisca.
Sisca jadi tertawa geli mendengarnya, tapi ditahannya. Dalam hati, "Lucu juga Ibu ini rupanya."
"Bukan, Bu. Cuma teman biasa saja, tapi Fransisca punya firasat akan terjadi apa-apa terhadap dia nantinya."
"Nyebut, Dik. Tidak baik berkata seperti itu, mungkin perasaan Dik Sisca sendiri. Ya, sudah, Ibu tidak akan menyebut pacar lagi, temanmu yang ada dalam pesawat lain itu. Tapi kalau sama-sama pergi ke Jakarta, kenapa tidak barengan satu pesawat saja?"
"Tadinya memang berencana satu pesawat perginya, tapi tiket dipesannya sudah penuh bilangnya. Teman Sisca itu tugas di Bontang, sedang Sisca dari Tarakan berangkatnya, Bu."
"O, Allah, seperti itu, toh, ceritanya. Berdoa saja, Dik Sisca. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Ibu jadi penasaran dengan teman Dik Sisca itu. Nanti kenalin sama Ibu, ya."
Ibu itu malah jadi penasaran dengan temannya Sisca itu.
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya, doakan saja, ya, Bu."
"Nah, itu lebih baik daripada memikirkan sesuatu belum tentu ada benarnya. Memang, Dik Sisca berasal dari mana?"
"Saya dari Tanjung Selor, Bu. Lahir di sana."
"Ternyata benar juga, ya, bilang teman Ibu, kalau gadis Kalimantan itu cantik-cantik semua. Buktinya Dik Sisca ini sendiri."
"Ibu terlalu berlebihan memuji Sisca. Memang Ibu dari mana, mau ke mana?"