Bagas dalam kebimbangan dibalut rasa ketegangan luar biasa, ditambah suara gemuruh pesawat yang mengintimidasinya.
Memandang gorden yang memisahkan dirinya dengan seorang pembajak di belakang kemudi pesawat, seolah melihat kain kafan putih siap membungkus dirinya.
Apakah menyerang lebih dahulu dengan mengandalkan tabung APAR? Seandainya berhasil melumpuhkan, apa mampu mengendalikan pesawat sebesar ini? Apa tidak lebih baik membiarkan saja pembajak itu menguasai pesawat kemudian mendaratkannya di suatu tempat?
Bukankah dia lebih mahir mengemudikan pesawat dibanding dirinya? Soal nanti harus bertarung dengan pembajak itu, lain masalah. Yang penting pesawat sudah berhasil mendarat dan nyawa terselamatkan.
Biasanya nanti pasukan komando antiteror akan menanganinya. Mereka sudah menunggu di darat, siap menyerbu ke dalam pesawat untuk membebaskan seluruh penumpang, termasuk dirinya.
Tapi apa jadinya jika bukan itu maksud pembajak mendaratkan pesawat Boeing 737 ini, kemudian meminta tebusan sejumlah ratusan juta rupiah atau pertukaran pembebasan penumpang yang disandera dengan tokoh tahanan politik?
Tapi yang lebih gila lagi, bagaimana jika berencana dengan sengaja menabrakkan pesawat pada sebuah gedung tertinggi atau gedung pusat pemerintahan di Jakarta?
Seperti yang pernah terjadi di benua lainnya, di mana pesawat yang dibajak sengaja ditabrakkan pada sebuah gedung menara kembar.
Tidak ingin mati konyol, Fransisca sedang menunggu cemas kehadirannya. Seandainya tidak datang atau sudah berselimutkan kain kafan? Sungguh menyesakkan membayangkan kemungkinan yang terjadi.
Tidak berlama-lama menghayal yang tidak-tidak, nyatanya mimpi buruk mulai terjadi di saat pembajak mulai meninggalkan tempat duduk ingin mengambil sesuatu di belakang!
Begitu berjalan dua-tiga langkah, pembajak itu mendapati seseorang sedang duduk memegang sesuatu. Seketika itu juga, kedua pasang mata saling beradu berpandangan.
Kaget!... Pembajak langsung berbalik masuk kembali ke dalam kokpit. Bagas bertindak cepat dengan keberanian yang dipaksakan. Terlanjur kepergok duluan, sebelum pembajak itu meraih sesuatu, entah pisau atau sebuah pistol.
Ternyata sepucuk pistol diraihnya dalam tas, berbalik dengan cepat sambil mengokang revolver. Tidak kalah sigap, Bagas memburu masuk ke dalam, mengayunkan tabung APAR sekeras-kerasnya ke arah tangan yang menggenggam pistol.
Tepat mengenai gagang pistol sebelum sempat menyalak, terlempar ke samping bangku kopilot, jatuh di kolong sempit bawah bangku yang sulit dilihat dan dijangkau kembali.
Tidak mau membuang waktu mencari pistol yang tersembunyi, Bagas sudah bersiap mengayunkan tabung untuk kedua kalinya. Kali ini diarahkan ke wajah sang pembajak.
Dengan cepat musuh bereaksi meraih pisau komando yang terselip dalam jaketnya, menerjang dirinya. Bagas kelabakan. Belum sempat menghantamkan tabung ke wajah, Bagas terhuyung mundur ke belakang menangkis tebasan pisau yang datang bertubi-tubi. Tabung APAR digunakan sebagai perisai.
Menghadapi lawan tangguh berbadan kekar dan sudah sangat terlatih, Bagas kewalahan. Bagas tidak menyadari seorang pilot tergeletak di bawah lantai depan pintu toilet. Tak ayal lagi, kaki tersandung tubuh pilot dan tersungkur jatuh ke lantai.
Tabung APAR terlempar jatuh dekat tubuh pramugari di lorong kabin.
Tidak disia-siakan, pembajak terus menghujamkan pisau di saat dirinya tidak berdaya telentang. Namun, Bagas tidak menyerah begitu saja meskipun bayangan kematian sudah di depan mata.
Safety shoes, sepatu proyek yang kedua ujungnya dibalut dengan besi yang dikenakan, mampu menahan tebasan pisau. Bagas terus merangkak mundur sambil menendang asal-asalan, berusaha keras meraih kembali tabung APAR.
Tidak ada seorang pun dari 178 penumpang di dalam kabin yang membantunya. Bagas sedang menghadapi ajal dari serangan brutal membabi buta sang pembajak.
Satu-satunya harapan adalah dapat meraih kembali tabung besi yang tergeletak di lantai. Bila berhasil, Bagas akan melemparkannya dengan sekuat tenaga ke wajah pembajak. Apa daya, tabung masih belum bisa diraih.
Bagas terus bertahan sekuat tenaga menendang sebisanya, namun tenaga sudah terkuras habis. Ayunan tendangan kaki mulai melemah, dengan mudah disekap dengan tangan kiri lawan.
Tangan kanan pembajak menggenggam pisau komando, dengan leluasa menghujamkan ujung pisau ke ulu hati. Tangan kiri Bagas dijadikan perisai.
Ayunan pisau tajam berkali-kali mengenai tangan dan betis, merobek daging. Darah muncrat menodai pakaian yang dikenakan. Keringat sebesar biji jagung menetes deras, nyaris tanpa harapan menyelamatkan nyawa sendiri.
Terbayang wajah Fransisca, menggenapi firasat merasa tidak enak di saat keberangkatannya.
Dalam kesakitan luar biasa yang dirasakan, Bagas terus beringsut mundur mendekati tabung. Jaraknya sama dekatnya dengan ujung pisau yang sudah mengarah ke jantungnya, siap dihujamkan!
Pada saat itu juga, telapak tangan merasakan dingin tabung yang tergenggam. Ini harapan terakhir untuk dapat berjumpa kembali dengan Fransisca sekaligus menyelamatkan nyawanya.
Kali ini, Bagas akan melemparkan tabung APAR sekuatnya dengan sisa tenaga yang masih ada ke wajah sang pembajak.
Berhasil!... Namun, tidak seperti yang diharapkan. Tabung APAR yang terbuat dari besi baja padat seberat lima kilogram berisi cairan serbuk antiapi itu meleset, tidak mengenai sasaran.
Bagas dalam kebimbangan dibalut rasa ketegangan luar biasa, ditambah suara gemuruh pesawat yang mengintimidasinya.
Memandang gorden yang memisahkan dirinya dengan seorang pembajak di belakang kemudi pesawat, seolah melihat kain kafan putih siap membungkus dirinya.
Apakah menyerang lebih dahulu dengan mengandalkan tabung APAR? Seandainya berhasil melumpuhkan, apa mampu mengendalikan pesawat sebesar ini?