"Dengarkan, saya mau bicara!"
Awalnya Bagas tidak tahu apa maksudnya, tetapi akhirnya dia menyadari pilot tersebut ingin berkomunikasi dengan menggunakan headset.
Ini dia yang dimaksud. Tidak sulit dicari, benda itu tergantung di bawah kemudi. Tapi begitu terpasang di kedua telinga, tidak terdengar suara apa-apa.
Sekali lagi, pilot menunjuk gagang kemudi berkali-kali. Bagas baru sadar, ternyata di kemudi sebelah kanan bawah ada tulisan Push to Talk. Tidak sulit menerjemahkannya: Tekan untuk Bicara. Pantas saja tidak bisa terdengar dari tadi.
Bagas langsung menekan tombol itu sambil berteriak, "Halo! Halo!" Tidak ada respons sama sekali. Pilot yang berada dalam kokpit jet tempur berusaha terus berkomunikasi. Namun apa daya, ucapannya hanya bisa didengar sendiri.
Bagas mulai curiga sepertinya alat ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seakan sengaja dimatikan. Benar saja, Bagas melihat alat ini sudah dirusak. Terlihat dicongkel dengan paksa, kemudian diputus kabelnya.
Bisa jadi pembajak itu sengaja melakukannya. Merusak alat komunikasi karena tidak ingin berhubungan dengan dunia luar. Aneh juga kenapa dia mesti melakukan ini.
Bagas ingin sekali berkomunikasi dengan pilot, menceritakan apa yang terjadi di dalam pesawat, kemudian meminta dipandu agar dapat mendaratkan pesawat ini.
"Huh! Sialan, orang ini bikin susah saja. Apa maksudnya merusak alat ini?" Bagas mengumpat kesal.
Kedua pilot jet tempur itu sepertinya tidak memercayai masalah yang dihadapi oleh Bagas, malah menunjukkan gestur raut muka kesal.
Beberapa kali kedua pesawat jet bergerak maju-mundur, memeriksa di balik jendela kokpit dengan menggunakan alat peneropong, kemudian merekam dengan kamera zoom.
Cukup lama kedua pesawat jet tempur F-16 Fighting Falcon mengapit dengan ketat. Terlihat keduanya saling berbicara. Nampaknya mereka sedang melaporkan situasi yang dihadapi kepada komandan skuadron di base pangkalan pesawat tempur.
Bagas sendiri juga kebingungan, kesal, dan marah. Bagaimana mau menjelaskan apa yang dialami pesawat Boeing 737 ini? Bahwasanya seluruh penumpang dalam pesawat ini tidak sadarkan diri, termasuk kedua pilot. Salah satunya tewas tertembak.
Baru saja terjadi pergumulan dengan pembajak, sekarang dirinya yang mengambil alih burung besi raksasa ini.
Bagas butuh bantuan siapa saja tentang bagaimana cara mengemudikan pesawat ini. Pesawat ini tiga kali lebih besar daripada kedua pesawat yang sedang mengapitnya.
Bagas sudah berusaha juga dengan memberikan isyarat tangan, tetapi percuma saja karena kedua-duanya tidak memahami.
Berkemungkinan kedua pilot jet tempur menyadari ini bukan pesawat musuh. Mereka pasti sudah melihat jelas identitas pesawat ini yang terbaca jelas di kedua sisi lambungnya. Sebuah pesawat terbang komersial yang sedang membawa banyak penumpang dan sedang mengarah ke bandara tujuan.