Kamu Adalah Apa Yang Kamu Pikirkan

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #10

Myday

Tanpa panduan, bagaimana kalau nanti bertabrakan dengan pesawat lain yang sama-sama menuju bandara? Bukankah semua pesawat yang akan mendarat dan tinggal landas sudah diatur ketinggiannya satu sama lain agar tidak saling bersinggungan?

Bagaimana kalau ada pesawat dalam ketinggian dan jalur yang sama dengan pesawat lain? Pasti akan terjadi tabrakan hebat di udara. "Kebayang enggak sih?"

Seperti itu yang ditakutkan oleh Bagas, belum berani menyentuh apa pun, hanya memeloti hamparan instrumen panel yang berada di depan layar.

Di depan kokpit, ada dua layar monitor EFIS (Electronic Flight Instrument System). Indikator menandakan posisi pesawat, ditandai dengan warna biru di atas dan warna cokelat di bawah, menandakan batas garis langit dan daratan.

Di dalam layar monitor EFIS tersebut berisi informasi navigasi ketinggian (altitude), kecepatan (speed), turun naik hidung pesawat (pitch), pesawat berguling (roll), kemudian arah tujuan (heading).

Ketika pesawat akan mendekati landasan dengan kecepatan 140 knot, ketinggian juga diturunkan dan diatur pada ketinggian 30 ribu kaki. Sudut sirip pesawat (flap) diatur 30 derajat supaya pesawat dapat melambat perlahan di udara.

Menentukan arah tujuan dilakukan dengan cara mengetik di panel samping bawah yang berbentuk seperti komputer tablet, menggunakan kode tersendiri.

Setelah mendekati landasan, rem kecepatan (speed brake) diturunkan. Tuas roda pesawat dikeluarkan setelah mendekati daratan. Autopilot dimatikan, digantikan dengan cara manual untuk mengarahkan sendiri pesawat tersebut.

Mengendalikan pesawat dilakukan dengan cara memegang kemudi. Namun, bentuknya tidak bulat melainkan terpotong separuh. Untuk berbelok ke kiri dan ke kanan, kemudi tinggal digoyangkan seperti mengendalikan mobil.

Kemudi itu juga berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan hidung pesawat. Dengan mendorong dan menarik kemudi ke depan dan ke belakang, pesawat nantinya akan turun, naik, dan berbelok dengan sendirinya.

Itu yang terlintas dalam pikiran Bagas semua yang pernah dipelajari dalam berkas di laptop. Kenyataannya berbeda dengan yang dilihat sesungguhnya sekarang.

Begitu banyak panel instrumen bertebaran di hadapannya, membuat kepala pusing seakan mau muntah akibat tekanan batin yang mendera.

Bagas membiarkan pesawat ini mengendalikan diri. Gagang kemudi masih bergoyang dengan sendirinya, seperti halnya kemudi di depan Kopilot Rio Sudibyo yang sudah kaku terbujur menjadi mayat. Bagas merasakan suasana horor yang menakutkan, melebihi dari yang pernah dilihat di layar bioskop.

Situasi sekarang seperti permainan Russian Roulette (berjudi dengan maut), di mana seseorang memegang sepucuk pistol yang telah diisi satu peluru, kemudian ditodongkan ke kepala sendiri dan silindernya diputar acak.

Setelah diputar acak, pelatuknya ditarik. Bila tidak ada peluru di dalam, orang itu selamat. Namun, apabila pas terisi peluru saat pelatuk ditarik... bayangkan saja sendiri apa jadinya!

Dalam kondisi terdesak pasti ada jalan keluarnya, Bagas tidak menyerah begitu saja. Laki-laki ini mencoba memperbaiki peralatan komunikasi yang telah dicongkel paksa oleh pembajak. Banyak kabel berwarna terjuntai ke bawah, terpotong semua.

Dengan tangan gemetaran, Bagas menyambungkannya kembali sesuai dengan warna kabel masing-masing, siapa tahu dapat berfungsi normal kembali. Sebenarnya hal itu sudah akan dilakukan sejak tadi, tetapi keburu ditinggal kabur oleh kedua pesawat jet tempur yang mencegatnya.

Setelah tersambung semua, Bagas menekan tombol Push to Talk untuk berbicara dengan menara pengawas... Namun, tidak seperti yang diharapkan, tidak ada jawaban sama sekali! Hening seperti dalam kuburan. Berpikir positif, mungkin posisinya masih di luar jangkauan sehingga tidak ada salahnya untuk mencoba terus.

Lihat selengkapnya