Di dalam pesawat yang mengalami perubahan peralihan pendaratan, seorang wanita muda sedang duduk mengenakan gaun terusan hitam kebiruan. Wanita itu tampak semakin gelisah. Termenung seorang diri, baru saja terbangun dari tidur dan tidak bisa lagi melanjutkan istirahatnya.
Wanita muda bernama Fransisca itu berucap tanpa sengaja, merasa tidak enak hati karena memiliki insting kuat bahwa akan terjadi sesuatu dengan Bagas, temannya. Saat ini sedang menyusul di belakang dengan pesawat yang lain.
Pesawat ditumpangi sudah mulai berbelok perlahan mengarah menuju Bandara Halim. Menghubungi Bagas melalui telepon selulernya, tetapi aturan belum memperbolehkan ponsel dinyalakan. Fransisca tidak bisa menutupi rasa kegelisahannya, apalagi setelah sempat melihat dua pesawat jet tempur bermoncong tajam terbang beriringan dari balik jendela pesawat.
Fransisca tidak menyadari bahwa kedua pesawat jet tempur baru saja dilihatnya adalah pesawat yang akan menembak jatuh pesawat ditumpangi oleh Bagas.
Pesawat yang ditumpangi akhirnya mendarat dengan mulus dan menepi ke ujung landasan. Beberapa orang kru darat mendorong tangga ke pintu keluar pesawat. Pramugari mulai membuka pintu keluar bagian depan dan belakang. Para penumpang saling berebut karena tidak sabar untuk lebih dulu keluar. Mereka ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sampai penerbangan harus dialihkan. Banyak penumpang yang menggerutu, tetapi ada juga yang senang karena bandara ini dekat dengan rumah tinggal mereka.
Fransisca terdiam, tidak ingin ikut berebut mencoba menenangkan pikiran sambil membuka ponsel untuk menghubungi Bagas kembali, tetapi panggilan itu belum juga tersambung. Akhirnya memutuskan untuk turun bersama penumpang lainnya. Begitu menjejakkan kaki di landasan, terkejut melihat begitu banyaknya orang tergopoh-gopoh keluar dari pesawat berlari menuju gedung terminal.
Suasana bandara tampak seperti pasar malam. Bagaimana tidak, seluruh penerbangan dalam negeri dialihkan ke sini semua. Beberapa pesawat turun dalam waktu yang berdekatan, sementara sebagian lagi berputar-putar di atas langit bandara menunggu giliran diizinkan mendarat.
Dengan langkah gontai, Fransisca ikut bersama penumpang lain menuju gedung terminal. Ponselnya disandingkan di telinga kiri, berharap seseorang akan segera menghubunginya.
Tampilan layar monitor di dalam gedung terminal menampilkan informasi kedatangan pesawat dari berbagai maskapai penerbangan dalam negeri. Berderet panjang tidak seperti biasa. Tidak terbayang bagaimana sibuknya bandara saat ini. Fransisca menyimak dengan saksama, apakah pesawat yang ditumpangi oleh Bagas akan mendarat di sini juga?
Mata tajam menatap ke layar. Namun, maskapai penerbangan yang ditumpangi Bagas tidak terlihat di layar monitor. Fransisca mengatupkan kedua tangan di wajah, tidak tahu harus berbuat apa. Di sela kepanikan itu malah mendengar berita dari beberapa penumpang bahwa sebuah pesawat Boeing 737 sedang dibajak di udara sedang meluncur deras menuju bandara Jakarta.
Bagai disambar petir mendengar berita itu, Fransisca mencoba meyakinkan diri dengan melihat aplikasi berita di ponselnya. Ternyata, informasinya sama persis. Dapat dipastikan Bagas tidak akan mendarat di sini, saat ini sedang mengalami musibah pesawat yang ditumpanginya dibajak dan kemungkinan akan dipaksa mendarat di sana.
Bukan Fransisca namanya kalau tidak cepat tanggap. Ditempa kehidupan keras di kampung halamannya, terbiasa tegar menghadapi segala sesuatu. Segera bangkit merasakan temannya saat ini sangat membutuhkan kehadirannya. Setelah mengambil koper, segera memesan taksi online menuju bandara Jakarta. Fransisca mendapat informasi dari sopir taksi yang dipesannya bahwa jalan menuju bandara di sana ditutup total. Namun bersikeras untuk tetap menuju ke sana.
Petualangan memicu adrenalin dimulai!
"Maaf, Pak, bisa lebih cepat?"
"Informasi dari beberapa teman, bandara ditutup, Neng," jawab sopir taksi.
"Memang ada apa, Pak?"