Seseorang di dalam kokpit sedari tadi terus berteriak lantang beberapa kali memanggil menara pengawas setelah melihat perkembangan mengejutkan di dalam pesawat, di mana Kapten Pilot, pramugari, dan seluruh penumpang berangsur-angsur mulai sadar kembali walaupun belum sepenuhnya.
Terus menekan tombol Push to Talk berharap ada seseorang menerima panggilan di seberang sana, tanpa menyadari beberapa menit yang lalu pesawat ini hampir ditembak jatuh oleh dua pesawat jet tempur Sukhoi Su-27 seandainya tidak ada perintah membatalkannya.
Setelah berulang kali mencoba, akhirnya panggilan terjawab. Kapten Senior Bambang Pamungkas diberi tugas memandu. Terdengar suara lantang menggelegar melalui pengeras suara dalam ruang kokpit Boeing 737.
"Your emergency call is accepted. Please provide your identification."(Panggilan darurat Anda diterima. Sebutkan identitas Anda.)
Tiga kali diulang.
Rasa lega menghilangkan dahaga, hampir tidak percaya ini akan berhasil. Keyakinan untuk bisa mendaratkan pesawat kian melambung menjadi asa berlimpah akan mampu menyelamatkan semua penumpang. Mencoba memahami suara sebelum menjawab dengan bahasa Inggris seadanya.
Bagas: "I am the passenger, is not real pilot. All the pilot, crew, passenger are unconscious. Please guide me to land this plane."(Saya bukan pilot aslinya. Semua penumpang, awak pesawat, pilot tidak sadarkan diri. Pandu saya mendaratkan pesawat ini.)
ATC: "Fine, with Captain Bambang here. I'll try to guide you, but good cooperation between us."(Baik, dengan Kapten Bambang Pamungkas di sini. Saya akan mencoba memandu Anda, butuh kerja sama yang baik di antara kita.)
Bagas: "Well understand. What should I do? How about we use Indonesian next?"(Baik, apa yang harus saya lakukan? Bagaimana kalau selanjutnya kita menggunakan bahasa Indonesia?)
Berpacu dengan waktu!
Bambang: "Saya akan memandu Anda, ikuti instruksi saya dengan hati-hati. Jangan panik, jangan sentuh apa pun sebelum saya instruksikan."
Bagas: "Dimengerti, lanjut!"
Bambang: "Cari tombol AP1, tekan tombol itu. Bacakan!"
Bagas: "Ketemu Kapten, terbaca 220, 221."
Bagas mulai berkeringat dingin, baru pertama kali ini berbicara dengan menara pengawas layaknya pilot sungguhan. Bukan obrolan biasa, tetapi usaha untuk mendaratkan pesawat yang menegangkan urat saraf.
Bambang: "Berapa ketinggian sekarang, Altitude (ALT)?"
Bagas: "10.000, Kapten!"
Bambang: "Sekarang berapa terbaca Heading?"
Bagas: "Hmm... apa tadi? Heading... 18, Kapten."
Bambang: "Di panel atas ada tombol, putar ke NAV."
Bagas: "Sebentar dicari dulu, Kapten... Sudah!"
Bambang: "Di atasnya ada tombol Range, putar ke 80!"
Bagas: "Range... range diputar ke 80. Oke!"
Bambang: "Sekarang turunkan ketinggian, ada tulisan Altitude, Heading, Speed, putar ke 300!"
Bagas: "Huff!.. mana nih? Ini dia, putar ke 400. Ups salah, 300. Lanjut, Kapten!"
Bambang: "Kalau sudah, tombol itu bisa ditarik. Tarik sekarang!"
"Klik!"