Pendaratan pesawat Boeing 737 yang begitu dramatis ini disaksikan banyak orang yang berada di bandara. Semua berebut untuk dapat melihat jelas bagaimana nasib para penumpang yang berada di dalam pesawat. Terutama dari kerabat korban, mereka berdesak-desakan, saling dorong dengan petugas keamanan yang membuat pagar betis menghalangi orang yang tidak berkepentingan mendekati pesawat.
Suasana menjadi riuh nyaris tidak terkendali, tapi dengan penjagaan yang berlapis, sulit menembus petugas keamanan bersenjata. Demikian halnya dengan Fransiska, ia ikut berebut paling di depan agar dapat melihat Bagas, apakah sudah keluar dari dalam pesawat atau masih di dalam.
Nyatanya seperti itu, pintu pesawat belum terbuka sama sekali. Pasukan Komando Antiteror dengan baju serba hitam, menggunakan masker, dan menyandang senjata berat laras panjang mengepung pesawat dari berbagai arah. Mereka sudah siap dengan berbagai peralatan untuk mendobrak paksa pintu pesawat. Brigade armada water cannon beraksi menyemprotkan cairan sanitizer ke seluruh badan pesawat, mengantisipasi adanya virus dalam pesawat.
Cairan busa putih disemprotkan menerjang jendela-jendela pesawat. Juga hidung kokpit pesawat tidak luput dari semburan cairan busa, menerobos jendela pecah samping kopilot yang sudah tidak berdaya. Bagas sedang menghubungi Fransiska, kewalahan.
Ponsel di tangan berdering, buru-buru diangkat.
“Bagas, kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja? Kenapa belum juga keluar dari pesawat?”
Bagas tidak menjawab, menghubungkannya dengan video call, memutarkan kamera ponsel ke seluruh ruang kokpit, juga wajahnya sendiri.
Sisca terperangah tidak percaya apa yang dilihat di layar ponsel, “Gas! Kamu sedang tidak bercanda, kan? Kenapa berada di belakang kemudi pesawat? Kamu kah?”
“Ya! Bagas yang mendaratkan pesawat barusan. Semua penumpang, pramugari, dan kedua pilot pingsan semua. Salah satunya kopilot, tewas tertembak oleh pembajak. Coba lihat,” mengarahkan kamera ponsel.
Semakin terperangah takjub bercampur ngeri.
“Bagaimana kamu bisa mendaratkan pesawat sebesar itu? Memang dulu kamu pernah jadi pilot? Bagaimana dengan pembajaknya? Kamu tidak diapa-apain? Kenapa kemejamu bersimbah darah? Diapain kamu sama pembajaknya itu? Cepat turun sebelum terjadi apa-apa denganmu!”