Semakin cair percakapan antara keduanya, Caroline merasakan permasalahan yang dihadapinya tidak sebanding dengan Fransiska. Membayangkan betapa hebatnya perjuangan temannya yang bukan pilot sungguhan telah menyelamatkan kedua orang tuanya, Caroline berjanji akan mendampingi Fransiska sebelum berjumpa dengan Bagas yang saat ini masih berada dalam pesawat.
Menginginkan juga Siska dan Bagas ikut menghadiri pernikahan calon ibu barunya dengan ayahnya yang akan dilakukan di kampung halaman tempat Caroline dilahirkan, bisa berangkat bersama-sama sebagai rasa terima kasih dan penghargaan kepada temannya, nantinya akan diceritakan kepada ayahnya.
“Bagaimana bisa terjadi kalian tidak dalam satu pesawat?” Caroline penasaran kenapa keduanya terpisahkan.
“Kami berdua berbeda tempat. Rencananya akan berangkat bersama dalam satu pesawat, tapi pesawat yang ditumpangi Bagas sudah penuh semua ketika dipesan, jadi menggunakan pesawat lain.”
“Mungkin sudah takdirnya begitu. Seandainya kamu berada dalam pesawat tersebut, Caroline tidak bisa membayangkannya.”
“Itulah, sebelum berangkat Siska sudah merasa tidak enak seperti ada firasat akan terjadi sesuatu. Ternyata benar terjadi!”
“Kalian memang pasangan luar biasa,” Caroline berharap temannya dapat mengeluarkan kedua orang tuanya keluar dari dalam pesawat dengan selamat.
“Saya juga berharap begitu. Bukan hanya kedua orang tuamu, tapi seluruh penumpang dapat diselamatkan. Saya dengan Bagas hanya berteman saja, sudah lama kami saling mengenal.”
“Percayalah, setelah kejadian ini kedekatan kalian akan berubah menjadi cinta kasih yang tidak dapat terpisahkan.”
Kesibukan luar biasa di landasan pacu bak bencana tsunami. Ratusan tenaga medis menggunakan pakaian hazmat lengkap dengan sepatu bot bersiaga di samping puluhan kendaraan mobil ambulans yang sudah berada di radius seratus meter dari pesawat berhenti. Tentara militer bersenjata laras panjang menjaga seluruh lingkaran bandara, melarang siapa pun yang tidak berkepentingan memasuki wilayah bandara. Beberapa penduduk berbondong-bondong nekat melihat kejadian melalui pagar terminal lima ratus meter dari pesawat Boeing 737 yang baru saja mendarat.
Armada water cannon menyingkir dari pesawat setelah menyelesaikan tugas menyiram seluruh badan pesawat dengan cairan disinfektan, meninggalkan buih-buih kotor berserakan di sekeliling pesawat. Unit pemadam kebakaran bersiaga dari kejauhan, sepertinya tidak diperlukan karena pesawat tidak mengalami kebakaran sama sekali. Satuan militer pasukan komando anti teror mengelilingi pesawat, akan menyerbu ke dalam perut pesawat, tinggal menunggu perintah menyerbu dari komandannya.
Di tengah hiruk-pikuk suasana bandara, tiba-tiba terjadi sesuatu dalam pesawat. Semua penumpang terlihat sudah mulai sadar kembali secara bersamaan. Nampak semua penumpang mulai membuka matanya, menggeliat, menoleh ke sana kemari kebingungan. Pramugari yang tergeletak di lantai berangsur pulih, menggerakkan tubuhnya, berusaha untuk duduk.