Di saat bersamaan, pasukan komando telah menyerbu ke dalam pesawat melalui pintu belakang ekor pesawat, juga membaur di antara penumpang yang sudah turun memeriksa identitas seluruh penumpang. Selain itu, mencari sosok orang yang ada dalam foto di genggaman masing-masing anggota pasukan. Foto itu menampilkan wajah seorang sedang berada di belakang kemudi pesawat Boeing 737, diabadikan dengan kamera beresolusi tinggi oleh kedua pilot jet tempur F-16 Fighting Falcon di saat mencegat pertama kali.
Semua penumpang sudah berhasil keluar dari dalam pesawat, kecuali empat pramugari dan kapten pilot masih berada dalam pesawat. Masih ada dua orang tergeletak bersimbah darah, salah satunya Kopilot Rio Sudibyo sudah tidak bernyawa tertembak di bagian dadanya, sedangkan satu orang lagi dengan wajah membengkak hitam membiru dalam keadaan sekarat belum diketahui identitas orang tersebut.
Kapten Pilot Adi Nugroho juga tidak bisa menjelaskan kenapa kopilot tewas dengan mengenaskan, kemudian satu orang lagi terluka parah. Juga tidak merasa mendaratkan pesawat, tahu-tahu begitu sadar pesawat sudah berada di landasan. Sama halnya dengan Dewi, Anita, Gita, dan Deby, keempat pramugari itu tidak bisa menjelaskan kejadian sebenarnya.
Pasukan komando mendapati sepucuk pistol dan laptop tergeletak di bawah bangku kopilot; kedua barang penting itu akan diselidiki siapa pemiliknya. Pasukan mengacak-acak seluruh ruang dalam kabin pesawat dengan alat detektor kemungkinan terdapat bom disembunyikan, mengamankan semua barang-barang milik penumpang. Tim medis segera mengevakuasi dua korban ditemukan ke rumah sakit dengan pengawalan superketat.
Tidak ditemukan sosok terlihat dalam foto, tidak juga berada dalam kerumunan penumpang sudah turun. Suasana dalam kabin pesawat berantakan, makanan dan minuman berantakan tidak karuan diambil oleh petugas medis untuk diselidiki di laboratorium kandungan dalam makanan yang disajikan.
Perburuan besar-besaran digelar di seluruh kota, semua orang berada dalam bandara diperiksa identitasnya, juga memburu sosok diketahui telah mendaratkan pesawat ditengarai sebagai otak pembajakan pesawat Boeing 737 membuat seluruh penumpang dan awak kabin, kedua pilot pingsan, salah satunya tewas. Badan intelijen dunia FBI, CIA, staf kedutaan masing-masing negara dari penumpang asing berada dalam pesawat ikut terlibat menyelidiki peristiwa luar biasa ini. Saat ini mereka berada dalam ruang khusus di mana seluruh penumpang dikumpulkan untuk diinterogasi satu per satu.
Setelah itu, para kerabat diperbolehkan menjumpai korban pembajakan, salah satunya Caroline sudah bersama ayahnya, Andreas Frenzel, dan calon ibu barunya, Tina, didampingi staf kedutaan negaranya. Saling berpelukan melepaskan kerinduan dan rasa syukur selamat dalam peristiwa dramatis pembajakan pesawat.
"Pa, Papa cerita mengenal seseorang bernama Bagas di ruang tunggu sebelumnya, apa betul, Pa?"
"Iya, ada apa rupanya, apa kamu mengenalnya? Papa sempat sempat bekenalannya dengannya, tapi anehnya dia tidak ada bersama penumpang lainnya. Papa sedang mencarinya, di mana dia?"
"Pa, ini rahasia, jangan diceritakan kepada orang lain kecuali dengan staf kedutaan, mereka dalam bahaya. Bagas berhasil menyamar untuk keluar dari bandara ini dengan membawa Fransiska temannya ... Mereka saat ini butuh pertolongan dari kita, Pa. Bukankah Bagas telah menyelamatkan Papa, Mama?"
Tina langsung menyela, "Fransiska ... kamu bilang tadi, Nak? Bagas sempat menceritakan ke Mama tentang teman wanitanya Fransiska berencana akan berlibur ke Bali. Mereka berdua terpaksa berpisah sementara waktu, teman gadisnya menggunakan pesawat yang lain .... Apa kamu mengenal?" penasaran Tina.
"Iya, Ma, Caroline sempat berkenalan di ruang tunggu, kasihan sekali keadaannya, sama yang dialami oleh temannya Bagas. Sepertinya keduanya sedang diburu oleh kelompok teroris yang lainnya. Selamatkan keduanya, Pa ... Please! Papa bisa menceritakan ke staf kedutaan agar bisa membawa keduanya ke kampung halaman kita ... Segera, Pa, beritahu kedutaan sebelum terjadi apa-apa dengan mereka!" Caroline mulai menangis sesenggukan di pelukan Tina, ibu barunya.
“Di mana mereka berdua sekarang?”