Kamu Adalah Apa Yang Kamu Pikirkan

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #19

Diburu Gerombolan Bersenjata

Kita mau kemana Bagas?”

“Ada teman sahabat Bagas punya villa di puncak kita akan kesana. Bagas sudah menghubunginya kebetulan dia ada di sana ”

“Tapi mereka mengejar kita terus, Bagas. Bagaimana kalau mereka tahu kita akan menuju puncak?”

“Semoga saja mereka tidak mampu mengejar kita!”

Pada kenyataanya kedua sedan mengejar semakin mendekat ngebut bagaikan setan. Bagas dapat melihatnya dari kaca spion langsung tancap gas melaju kencang zig zag menerobos mobil, truck dan bus yang menghalangi didepannya sambil terus membunyikan sirinenya sontak semua minggir menepi, tapi ada juga yang tidak memberikan jalan.

“Awas Bagas!... Itu ada truk di depan tidak mau memberikan jalan.” 

Berkali-kali Bagas melakukan manuver berbahaya untuk dapat melewati berbagai jenis kendaraan berada di depannya agar tidak terkejar ke dua mobil sedan di belakang. Wajah Siska terlihat pucat pasi melihat aksi yang dilakukan oleh Bagas, tidak menyangka Bagas begitu cekatan mengemudikan mobil ambulans ini meskipun hanya dengan satu tangan.

Namun sepandai-pandai Bagas masih kalah dengan dua pengemudi sedan mengejarnya. Kedua mobil sedan itu sudah berada disamping kiri kanan mobil ambulans. Siska panik begitu mengetahui penumpang di dalam mobil sedan membuka pintu kaca mobil sambil mengacungkan senjata. Bagas juga tidak kalah panik mengetahui penumpang di dalam sedan membawa senjata.

“Nunduk!” Memerintahkan Siska untuk merunduk. Bagas melakukan aksi lebih gila lagi membanting mobilnya ke kiri dan ke kanan sengaja menabrakkan badan mobil ambulans ke arah kedua sedan mengejarnya. Suara benturan, decit roda mobil menggerus aspal tidak terelakkan diselingi suara tembakkan dilepaskan berulang kali.

Kedua mobil sedan oleng menabrak dinding batas pagar jalan tol memberi kesempatan Bagas melaju lebih kencang meninggalkan kedua mobil sedan itu. Siska sempat berteriak histeris tubuhnya terguncang kesana kemari. Tanpa disadari kaca belakang mobil ambulans pecah berantakan dihantam peluru dilepaskan. 

Mobil mobil yang lain melintas di jalan tol menyingkir dengan sendirinya takut terkena peluru nyasar. Kedua mobil sedan masih terus mengejar meskipun kedua bumper terkoyak terlepas dari kedudukannya, terseret ke permukaan aspal menimbulkan percikan api memanjang masih tetap gigih mengejar Bagas meskipun tidak secepat sebelumnya. 

“Ya, ampun Bagas kamu seperti James Bond saja layaknya.” 

Memuji Bagas walaupun merasakan denyut degup jantungnya tidak karuan atas ulah yang Bagas lakukan. Bagas tersenyum mengelus rambut Siska.

“Adik baik-baik saja, kan?”

Lihat selengkapnya