Kamu Adalah Apa Yang Kamu Pikirkan

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #21

Dewa Eros


Di sebuah ruang ICU (Insentive Care Unit) rumah sakit Balikpapan, seorang pemuda tergeletak tubuhnya dipenuhi dengan alat bantu pernapasan. Detak jantungnya termonitor di layar, naik turun lemah nyaris berhenti total. Di balik dinding kaca transparan, seorang wanita muda memandang dengan penuh kecemasan. Kelopak mata bening basah mulai turun perlahan membasahi pipi.

Berharap sosok terbaring lemah dalam ranjang segera sadar kembali, akan tetapi sudah hampir seminggu lamanya belum sadar juga.

“Bagaimana Dokter, apa masih ada harapan untuk sadar kembali?” sambil berurai air mata.

“Jangan khawatir Nona, kami akan berusaha menanganinya sebaik mungkin. Kita sama-sama doakan bersama cepat pulih kembali.”

“Apakah ada masalah dengan jaringan otaknya, Dokter?”

“Dari hasil scan memang terjadi pendarahan pada jaringan otaknya. Dimungkinkan akibat benturan keras dialaminya, tapi fungsi otak terlihat masih stabil. Semoga setelah sadar masih mampu mengingat kejadian dialaminya.”

“Berapa lama kemungkinan bisa sadar kembali, Dokter?”

“Sulit memprediksi kemungkinannya. Pada banyak kasus bisa terjadi koma sampai berminggu-minggu lamanya, bahkan sampai lebih dari satu bulan.”

Fransiska berada di balik dinding ICU tidak mampu membayangkan kemungkinan terjadi pada diri temannya, Bagas Aji Pangestu, ketika berangkat pagi hari dari Bontang menuju Balikpapan berencana akan berlibur bersama ke Bali gagal total.

Kendaraan travel ditumpangi Bagas mengalami kecelakaan, hampir saja bertabrakan dengan sebuah bus ketika pengemudi travel dengan sembrono akan menyalip mobil di depannya berpapasan dengan bus dari arah berlawanan. Berusaha tidak terjadi benturan dengan bus sudah berjarak beberapa meter, membanting mobilnya ke kanan tanpa disadari sebuah jurang dalam siap menyambutnya.

Tidak ayal lagi, kendaraan travel ditumpangi Bagas bersama empat penumpang lainnya terbalik jatuh ke dalam jurang dalam, curam. Sopir bersama keempat penumpang lainnya meninggal, hanya Bagas sendiri yang masih hidup berhasil dievakuasi oleh tim SAR. Namun kondisinya mengkhawatirkan, sudah hampir seminggu lamanya belum sadarkan diri alias koma!

Menjelang minggu ketiga tampak perubahan positif. Bagas mulai menggerak-gerakkan jari jemari seakan ingin meraih sesuatu, sekali-kali kedua kelopak matanya terbuka menatap langit-langit kemudian terpejam lagi. Pergerakan denyut jantung pada layar monitor berangsur membaik, menunjukkan kesadarannya berangsur-angsur akan pulih kembali.

Sudah merencanakan sebaik mungkin akan pergi bersama dengan Fransiska, akan bertemu di bandara nanti setelah sekian lama tidak berjumpa. Meskipun nanti berangkat ke Jakarta tidak menggunakan pesawat yang sama. Fransiska akan terbang lebih dahulu, Bagas menyusul kemudian.

Jadwal waktu cuti bersamaan memungkinkan keduanya untuk mengisi liburan. Kali ini akan bersama menikmati keindahan pulau dewata Bali sambil mengabadikan tempat eksotik dengan kamera dibawanya. Namun apa daya takdir menentukan lain, berakhir dengan pertemuan di ruang ICU. Bagas dalam kondisi koma.

Pada hari kedua puluh tiga, Bagas telah pulih kembali kesadarannya. Sebuah mukjizat di luar perkiraan semua orang termasuk para dokter yang menanganinya. Bayangkan, seseorang dalam mobil terjatuh ke dalam jurang lebih dari seratus meter dalamnya, terguling berapa kali sampai kandas ke dasar jurang.

Kini Bagas sudah dirawat di ruang kelas satu atas tanggungan perusahaan. Meskipun kecelakaan dialami di luar jam kerja, namun sudah masuk dalam perjanjian kontrak perusahaan menanggung keseluruhan biaya bilamana karyawan tersebut mengalami musibah kecelakaan baik di site maupun selama dalam perjalanan cuti.

Dengan setia Fransiska selalu berada di sampingnya, tidak menyangka temannya, Bagas, akan mengalami kejadian seperti ini.

“Habiskan sajian menu makan hari ini agar kamu semakin cepat pulih kembali. Sudah lebih dari dua puluh hari kamu hanya menerima asupan makanan cair melalui selang.”

“Bagas cuma merepotkanmu saja, seharusnya Adik tidak berada di sini.”

“Apaan sih… sudah jangan memikirkan itu. Siska berharap kamu lekas sembuh, bisa bekerja kembali seperti sedia kala. Nanti kapan waktu kita bisa pergi bersama lagi, tapi jangan sembarangan memilih mobil travel, sebaiknya minta diantar mobil perusahaan saja.”

“Siapa yang akan mengira akan terjadi musibah. Maafkan Bagas telah mengecewakanmu, malah membuat susah dirimu saja.”

Lihat selengkapnya