Suasana di desa kalau hujan tuh kayak sengaja bikin orang tenang. Jalanan desa lengang, cuma ada suara air jatuh dari atap dan hembusan angin yang meniup dedaunan. Kadang juga ada suara jangkrik dan katak yang menyegarkan otak. Aku duduk di pojok kamar dekat jendela. Tempat paling aku suka dan paling nyaman buat menyendiri. Kamar adalah tempat paling aman buat anak yang ngak pernah diajak ngobrol di rumah.
Namaku Ayuna, Umurku 23 tahun, aku merupakan anak ke-2 dari 4 bersaudara. Aku adalah anak tengah yang ngak pernah di anggap. Di rumah, aku adalah anak yang menghabiskan waktu di kamar. Aku hanya keluar kamar untuk masak dan bersih-bersih rumah. Ayah sibuk bekerja, Ibu lebih sibuk ngurus adik. Aku hanya di kamar menghabiskan waktu membaca buku dan juga menulis. Terkadang aku juga melukis.
Aku adalah anak yang gak pernahvngobrol sama cowok selain ayah. Aku selalu putar balik jika di jalan aku melihat cowok-cowok yang lagi ngumpul. Aku hanya nunduk ramah saat disapa. Suatu hari aku disuruh Ibu ke warung membeli beberapa bahan masakan. Aku bertemu dengan seorang cowok yang sangat baik dan sopan. Namanya Bima, Bima adalah anak yang ramah dan juga terkenal baik di desa. Bima adalah anak yang _cool_ dan cuek terhadap cewek. Tapi anehnya pada hari itu Bima menyapa aku.
"Hai... kamu Ayuna, kan?"
Aku hanya mengangguk sambil terus menunduk menunggu barang belanjaanku selesai dihitung.
"Kamu cantik juga ternyata, kenapa kamu jarang sekali terlihat?"
Aku hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Bima. Aku meremas baju dan dalam hati, "Tuhan, tolong, aku takut." Ingin rasanya aku berteriak pada saat itu.
Setelah belanjaanku selesai dihitung, aku segera pulang, menaruh belanjaan di dapur, dan kembali ke kamar. Di dalam kamar jantungku deg-degan, entah karena takut atau karena baru pertama ada orang yang bilang aku cantik. Aaaaaa... Rasanya aku ingin teriak dan menangis.
Keesokan harinya aku berencana ke perpustakaan di pinggir desa. Hari itu aku memutuskan untuk meminjam beberapa buku. Aku mengambil beberapa buku, menaruhnya di meja, dan membacanya. Meja di sebelah rak itu terlihat kosong, ngak ada yang nempati. Aku pun duduk dan memutuskan untuk membaca beberapa halaman sebelum dibawa pulang. Tiba-tiba ada seorang cowok yang menarik kursi di sebelah aku. Cowok dengan jaket basah, rambutnya acak-acakan. Dia ngak minta izin, langsung naruh tas di meja dan melepas jaketnya buat disimpan di tas. Dia pergi memilih buku dan kembali duduk di sebelah aku.
“Aku ganggu, nggak ?” tanyanya. Suaranya pelan dan juga dingin. Kayak dia takut ganggu aku yang lagi baca buku.
Aku geleng. Pertama kalinya dalam hidup ada manusia yang peduli keadaanku, meskipun cuma basa-basi atau apalah.
"Masih ingat aku nggak? Kita kemaren bertemu di warung." Aku hanya mengangguk dan diam, pura-pura fokus baca buku.
"Aku biasanya suka gambar pas hujan karena pas hujan jarinya lebih jujur dan otaknya lebih tenang dalam berimajinasi kalau dingin.” Aku ngak ngerti maksudnya. Tapi aku ngangguk aja biar obrolannya ngak panjang. Soalnya udah lama banget ngak ada yang ngajak aku ngobrol tanpa alasan.
Sejak hari itu, pojokan perpustakaan jadi punya dua penghuni. Dia selalu datang pas aku lagi baca buku, entah kebetulan atau sengaja. Lama-kelamaan kami akrab dan mulai ngobrol. Kadang kami tukeran buku buat dibaca.