Kamu Milikku, Titik!

mocachinosa
Chapter #1

BAB 01

"Aku suka sama kamu! Aku cinta sama kamu, karena itu kamu harus menjadi milikku! Sudah jelas, bukan?"

Rahang Auriga terlihat mengeras. Bahkan pria itu sempat menggeram marah saat mendengar pernyataan wanita pemilik tubuh mungil—yang mana berbanding terbalik dengan ambisinya yang besar. Sedangkan Audy tampak tak acuh, dia terlihat tetap sibuk dengan baju rancangannya yang tersampir indah di sebuah manekin.

"Kamu tahu, bukan, kalau saya sudah punya seorang kekasih? Saya mohon Audy berhenti bertingkah seperti wanita murahan! Saya akan membencimu jika kamu bertindak lebih jauh," ancam Auriga dengan harapan Audy akan berhenti.

Audy sama sekali tidak tersinggung atau pun merasa terintimidasi dengan ancaman pria tinggi itu. Audy tampak melangkah pelan ke arah Auriga, lalu satu kecupan tanpa permisi berhasil wanita itu daratkan di pipi sang pujaan hati.

Tentu saja, Auriga sangat marah. Netra hitam pekatnya kontan memandang Audy tajam. Seolah-olah jika bisa mengeluarkan pedang maka Audy sudah tercabik-cabik.

"Lancang kamu!" bentak Auriga. Sontak tangan berurat-nya mendorong bahu Audy kasar, yang membuat tubuh Audy terjerembab tepat di atas sofa.

Audy tersenyum manis, menampilkan lesung pipi yang hanya terdapat di sebelah kirinya saja. "Aku cinta kamu, itu yang hanya perlu kamu tahu Auriga. Satu lagi, aku tidak peduli dengan kekasihmu itu. Selamanya kamu hanya milikku! Titik! Dan kamu harus tahu, apapun yang aku inginkan akan selalu berada dalam genggaman. Termasuk kamu."

"Wanita gila!" desis Auriga, telapak tangannya masih tertempel di bekas kecupan wanita itu, bola matanya berlarian ke sana kemari. Ada rasa yang sulit dirinya jelaskan.

"Ya, karena itu aku butuh obat. Kamu adalah penawar dari kegilaan-ku, Aga Sayang."

Demi tuhan, sepertinya Auriga tidak menyangka Audy kecil yang manis bisa berbuat nekat dan terkesan lancang seperti barusan. Dia datang dengan maksud ingin berdamai, tapi perkataan dan tingkah Audy berhasil membuatnya nyaris hilang kesabaran.

Entah apa yang telah terjadi pada wanita itu. Tidak bertemu nyaris sepuluh tahun lamanya membuat Auriga tak mengenali sosoknya.

Bocah manis yang gemar tersenyum di masa lalu itu kini telah bertransformasi menjadi wanita ambisius tak berperasaan.

"Kamu akan menjadi milikku, atas izin atau tidak dari dirimu."

Auriga benar-benar tak habis pikir dengan wanita itu. Wanita yang sialnya punya kendali akan hidupnya. Wanita yang berani menukar apapun hanya untuk dirinya. Seorang pria yang jelas-jelas menolaknya.

•••

Audy tahu, bahwa cinta tidak musti memiliki. Hanya saja itu tidak berlaku untuknya. Bagi Audy, cinta itu harus egois, karena jika tidak, maka kehancuran di depan mata. Tentu saja, Audy tidak akan pernah dengan suka rela menghancurkan dunianya untuk kebahagiaan orang asing. Terlebih Audy tahu betul kekasih Auriga sangat tidak layak memiliki Auriga.

Anggita Suherman. Manusia tengik yang berhasil memasuki hidup Auriga Prayoga. Dengan lancangnya wanita itu mengambil alih posisi yang bahkan belum sempat dirinya tempati.

Audy akui, Anggita memang cantik. Dia tampak anggun dan terpelajar. Namun, bagi Audy hanya dirinyalah yang pantas bersanding dengan Auriga. Tidak peduli seberapa kuat tembok yang dibangun Auriga untuk menghalaunya, Audy akan tetap menerobos, dan bila perlu menghancurkannya hingga menjadi kepingan debu tak berarti. Audy bisa menyewa ribuan bison untuk meruntuhkan tembok-tembok tinggi yang Auriga bangun.

Audy terlihat menawan dengan gaun putihnya. Kulit bersinar hasil dari mandi susunya membuat semua baju tampak cocok untuknya. Rambut panjang hitam legamnya pun tak kalah memesona. Sebuah jepitan mahkota kecil berhiaskan mutiara tersemat cantik disisi kiri rambutnya.

"Aga, sebenarnya apa yang membuat kamu mati-matian menolak ku. Aku cantik, tentu saja. Bahkan seratus juta lebih cantik jika dibandingkan dengan kekasihmu itu. Aku juga baik hati, percayalah selain sedang memperjuangkan kamu untuk kebahagiaanku, aku juga sedang memperjuangkan kebahagiaan kamu."

"Tapi tidak apa-apa, sebentar lagi kamu akan benar-benar berada dalam genggamanku. Kamu akan menjadi milikku sepenuhnya. Sudah aku bilang bukan? Bahwa apapun yang aku inginkan akan berada dalam genggaman." Senyuman miring terbit di birainya.

Interkom berbunyi, kontan lipatan bergelombang milik Audy tersungging. Kali ini benar-benar sebuah senyuman manis.

"Nona, keluarga Prayoga sudah datang."

Lihat selengkapnya