Kamu Milikku, Titik!

mocachinosa
Chapter #2

BAB 02

Nuansa feminin begitu kental di ruangan yang di dominasi oleh warna merah muda tersebut. Ranjang berukuran besar dengan kelambu senada mengelilingi setiap sisi kasur. Tentunya lengkap dengan sang pemilik yang masih bergelung cantik dalam selimut.

Audy, putri keluarga Tanujaya yang kehidupannya nyaris menyerupai putri raja. Semua fasilitas dia dapatkan dengan mudah. Audy tidak pernah tidak merasa tercukupi dalam hal materi dan kasih sayang.

Jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Kebiasaan yang sering Audy lakukan adalah tidur kembali setelah melaksanakan ibadah subuh-nya. Wajar jika jam segini dia masih meringkuk dengan ditemani boneka beruang besar di sampingnya.

"Nona, waktu sudah menunjukan pukul enam. Nona harus segera bangun." Suara salah satu pelayan yang dipekerjakan di rumah bak istananya terdengar dari interkom yang terletak di samping kanan tempat tidurnya.

Audy tampak menggeliat, jemarinya bergerak menyingkirkan penutup mata karakter beruang yang selalu dipakainya menjelang tidur. Audy bukan tipe yang butuh dibangunkan berkali-kali, bahkan suara sekecil apapun mampu memengaruhi kesadarannya. "Iya, Bibi aku sudah bangun, Bibi silakan masuk," sahut Audy.

Selepas mendengar perintah sang Nona Muda para pelayan yang bertugas untuk memenuhi keperluannya pun masuk. Dengan sigap mereka membagi tugas untuk menyiapkan kebutuhan Audy.

Hanya dalam hitungan menit Audy sudah terlihat cantik dengan gaun berwarna baby blue yang di satu padukan dengan aksesoris lucu dan elegan, terlebih anting-anting panjang berbentuk bintang tampak cocok untuknya.

"Terima kasih, Bi telah membantu aku bersiap."

Para pelayan mengangguk serentak.

"Sudah tugas kami, Nona," jawab salah satunya mewakilkan.

Audy pun lekas melangkah ke arah ruang makan. Makan bersama adalah rutinitas wajib yang dilakukan oleh keluarga Tanujaya. Sesibuk apapun mereka, kewajiban itu tetap harus dipenuhi.

•••

Audy memarkirkan mobil merah muda-nya di depan sebuah Restoran yang mengusung tema klasik budaya Sunda. Bukan tanpa alasan dia berada di sana—yang mana seharusnya saat ini dia tengah berkutat dengan pekerjaannya sebagai seorang Desainer.

Kaki kecilnya yang dibalut sepatu berhak pendek melangkah masuk. Namun, bukannya duduk dan memesan, Audy malah berjalan ke arah dapur. Tempat dimana Audy dapat menemui sang pujaan hati.

"Ayang Aga!" panggilnya tak memedulikan sekitar.

Salah satu dari teman satu profesi Auriga terlihat melirik Auriga geli karena ekspresi pria itu yang kontan berubah 180 derajat. Sedangkan teman satunya lagi tampak mendengus tak suka.

Auriga bekerja sebagai Koki di sana. Keahliannya dalam mengolah makanan menjadikan Auriga banyak diincar oleh para pendiri usaha kuliner, tapi rupanya, pilihan Auriga jatuh pada Restoran milik keluarga Tanujaya yang mana menjadi Koki di sana merupakan impian sebagian para juru masak. Selain gedungnya yang tampak asri, makanan-makanan khas Sunda juga terkenal dengan kemampuannya yang bisa mengguncang lidah dan bikin candu. Merupakan sebuah kehormatan bagi para Koki untuk bisa menghidangkan makanan dengan kekentalan budaya yang khas.

"Lho, kok, cemberut, sih? Gantengnya mana?"

Perkataan Audy sontak mendapat sorak sorai dari salah satu Koki utama serta lima Asisten Koki yang terlihat masih muda-muda itu.

Kenan, si salah satu Koki utama dari tiga Koki utama lainnya—yang tidak lain Auriga dan Kaivan— ialah merupakan orang yang mendukung penuh Audy untuk mendapatkan Auriga. Dia yang selalu menyambut kedatanga Audy dengan hangat. Gigi bergingsul miliknya selalu terlihat kala Audy berkunjung. Sedangkan, Kaivan, yang lebih condong mendukung keharmonisan hubungan Auriga dan Anggita tampak dingin dan tak acuh pada Audy. Tatapannya persis seperti kucing yang ingin menerkam tikus, tapi lebel anak pemilik Restoran tempatnya bekerja—yang tersemat pada Audy—menjadi alasan Kaivan memilih tidak kebablasan.

"Kebiasaan, calon istrinya datang—"

"Calon perebut pacar orang kali," potong Kaivan. Seperti biasa kata-kata sinis pun kerap kali pria itu layangkan. Koki yang andal dalam membuat makanan penutup itu membenci Audy melebihi Auriga. Namun, bedanya Kaivan hanya sebatas sampai pada bermulut cabai saja, sisanya dia tidak pernah seinci pun berani menyentuh Audy. Jika pun berani, tentu saja Audy tidak akan tinggal diam.

Lihat selengkapnya