Audy berlari dengan pikiran yang sudah kosong. Satu-satunya yang tersisa hanyalah membiarkan Auriga untuk tetap baik-baik saja. Kaki mungil yang biasanya melangkah dengan anggun kini tampak berlari bak harimau mengejar mangsa.
Selang beberapa saat, suara dentuman terdengar keras. Suasana mendadak mencekam, aktivitas mendadak beku. Tubuh rapuh Audy melayang bersamaan dengan bunyi benturan yang kembali terdengar. Jeritan silih bersahutan kala menyaksikan tubuh Audy yang kini tergeletak nyaris tak sadarkan diri dengan darah yang menggenang dari belakang kepalanya.
Detik pertama Audy merasa mati rasa hingga kemudian rasa panas bak timah yang disiramkan ke tubuh terasa membakar urat syarafnya—yang dalam sepersekian detik mematikan fungsi geraknya. Rasanya terlalu menyakitkan, sampai-sampai Audy sulit membuka mata.
"Apakah aku akan meninggal? Jika iya, bolehkah aku meminta jangan sekarang, aku belum pernah merasakan indahnya dicintai."
Audy samar-samar mendengar teriakan orang-orang disekitarnya, tapi itu hanya sebentar karena setelahnya telinga Audy berdengung hingga menciptakan lengkingan yang amat sangat menyakitkan. Tak lama Audy pun tak sadarkan diri.
Sementara itu, Auriga memandang Audy dengan raga yang nyaris tanpa jiwa. Auriga terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pemandangan Audy dengan darah yang bersimbah membuat Auriga diam mematung. Fungsi tubuhnya mendadak kacau balau. Bahkan untuk menyerukan nama perempuan itu pun Auriga tak mampu, lidahnya kelu. Dadanya begitu sakit, seperti ada tangan yang tak kasat mata meremasnya hingga lebur menjadi serpihan tak berharga. Jantung Auriga bertalu-talu, ada ketakutan yang teramat sangat dalam dirinya.
Audy Maharani Tanujaya, Auriga tidak hanya mengenalnya sebagai perempuan gila saja, melainkan sebagai sahabat masa kecilnya yang manis dan ceria.
•••
"Ada apa ini, Aga? Kenapa Audy bisa tertabrak? Kenapa bisa? Apa yang kamu lakukan hingga lalai dalam menjaganya? Harusnya Audy bisa aman saat bersama kamu, bukan malah sebaliknya, kamu ada di sana saat kejadian, seharusnya ini tidak terjadi," berondong Anjani. Dia benar-benar terkejut dengan kabar yang didengarnya satu jam yang lalu. Baru kemarin malam semua begitu baik-baik saja dan dalam hitungan jam semua kacau balau. Memang, manusia tidak bisa menjamin apapun, bahkan satu detik ke depan sekalipun.
Auriga tak mampu menjawab, bahkan untuk sekadar berdeham pun dia tak bisa. Kemeja yang biasanya selalu terpasang rapi kini terlihat awut-awutan. Dia terduduk lesu di kursi tunggu dengan ke dua orang tua serta kakak Audy—yang sedari tadi hanya membisu dengan Anindya yang terus menangis tanpa henti.
Lampu operasi sudah berganti warna, semua yang ada di sana kontan melangkah menghampiri Sang Dokter yang masih lengkap dengan baju operasi.
"Dok ..." panggil Anindya menggantung.
"Alhamdulillah operasinya lancar, kondisi saudari Audy sudah melewati masa kritisnya, nanti setelah dipindahkan ke kamar rawat inap pihak keluarga bisa langsung menjenguknya," ucap Sang Dokter disertai senyuman menenangkan yang membuat mereka menghela napas lega. Rasanya tujuh jam dengan kekhawitaran kini terbalaskan mendengar kabar yang sesuai harapan. Audy tertolong pun sudah merupakan sebuah keajaiban.
"Namun, saya perlu bicara dengan salah satu pihak keluarga untuk kemungkinan kondisi saudari Audy pasca operasi."
Sigap Argantara berdiri, laki-laki jangkung itu melangkah mengikuti Dokter.
"Bunda butuh bicara sama kamu!" Anjani masih belum bisa melepaskan Auriga begitu saja, karena menurut cerita Kenan, Anggita ada di lokasi kejadian. Anjani tentu mengenalnya. Dia perempuan yang di pilih putranya sebagai seorang kekasih. Namun, tak mendapatkan restunya.
•••
Tanpa terasa kejadian yang sempat mengguncang jantung keluarga besar Tanujaya dan Prayoga itu telah berlalu sepuluh hari lamanya. Yang mana, di akhir minggu ini juga Auriga baru bisa memberanikan diri untuk menampakan diri di hadapan Audy.
Auriga mengetuk pintu pelan, tangan kirinya terlihat menenteng bunga mawar putih segar kesukaan Audy.
"Masuk!" sahut Audy.
Auriga pun masuk. Netra-nya langsung disuguhi Audy yang tengah memakan buah apel dengan santai. Luka-luka yang didapatnya beranjak membaik. Bahkan Audy sudah tampak sehat seperti sedia kala—jika tak ada perban yang bertaburan di lengan, kaki, dan sedikit di bagian pelipisnya. Proses sembuh Audy cukup pesat, karena memang perempuan itu tidak rewel dalam mengkonsumsi obat maupun dengan metode pengobatan yang disarankan.
"Hai," sapa Audy pada Auriga terdengar terlalu biasa saja untuk ukuran seseorang yang—secara tidak langsung—telah menyebabkan dirinya masuk Rumah Sakit. Apalagi kecelakaan hari itu cukup parah. Raut Audy masih tampak bersahabat, meskipun Auriga tidak menemukan binar antusias seperti biasanya di setiap kali Audy melihat kehadirannya ... apa Auriga salah lihat?
"Mau jenguk, ya? Gue udah sembuh, kok, gak usah tegang gitu mukanya."
Auriga mengerutkan keningnya dalam. Gue? Apakah Auriga tidak salah dengar?
"Ah iya, nama lo siapa? Hubungan kita sebelumnya apa?"
Auriga mematung sejenak. Apa Audy sedang berpura-pura tidak mengenalnya? Atau perempuan itu sedang berusaha mengelabuinya? Sesaat Auriga tersadar akan sesuatu, dia tersentak ... Apa kecelakaan itu telah merenggut ingatan Audy? Jika, ya, kenapa tidak ada yang memberitahunya tentang fakta itu?
Audy memicingkan matanya. "Jangan bilang kalau lo mantan gue? Terus lo gagal move on? Tapi kayaknya muka modelan kayak gue setia, deh, jadi kalau kita putus berarti lo yang bikin ulah."
Bersamaan dengan selesainya ucapan Audy pintu ruangan terbuka.
"Oh, eh, hai Ga!"
Auriga semakin dibuat bingung dengan kehadiran Kenan di sana. Kenapa Kenan ada di sini? Auriga rasa Kenan lebih berhak berada di Restoran dari pada di sini. Pikir Auriga.
"Ngapain lo di sini?" Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir penuh milik Auriga.