KAMU SUDAH MATI, AKU BELUM!

ken fauzy
Chapter #2

BAB 2. FIX YOU

Debu beterbangan dari lapangan ketika angin bertiup.

Menerbangkan juga daun-daun kering yang tadi telah ditumpuk oleh petugas kebersihan kampus hingga berhamburan lagi ke berbagai arah. Di ujung lapangan di bawah pohon tua berdaun lebat itu hanya ada seorang pria yang sedang duduk termenung di kursi dari besi tepat di bawah pohonnya. Ia memandangi daun-daun yang terbang kesana kemari dimainkan angin. Tatapannya pada dedaunan tetapi pikirannya melayang jauh, mengingat waktu-waktu yang telah menghilang cepat.

Keramaian suasana kampus di sana tidak terdengar di sini meski jaraknya tidak terlalu jauh. Semua tawa dan perbincangan yang ramai menghilang begitu saja. Seakan ketika kau melangkahkan kaki di bawah pohon tua ini maka semua keramaian itu terhisap lenyap lalu berganti menjadi sepi. Seperti masuk ke dimensi lain. Di sini telingamu hanya mendengar hening.

Keramaian di sisi sana dan kesunyian di sisi sini.

Ia termenung sendiri. Senyum kekasih terbias di antara angin-angin yang berhembus. Suara tawanya terdengar di antara gemerisik dedaunan. Hangat sentuhan tangan kekasih yang mengusap kepalanya di atas pangkuan terasa lembut di antara bulir-bulir rambut hitamnya.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Terbayang detik-detik terakhir saat sang kekasih pergi di malam yang penuh gemuruh. Hujan tak lama turun setelah itu. Jerit kesakitan bercampur muncratan darah dari hidung dan mulut mengharu biru perasaan yang melihatnya. Bunyi roda ranjang yang didorong tergesa masuk ke dalam ruang operasi menggema sepanjang lorong rumah sakit. Genggaman tangan yang terlepas tak bisa dihindarkan. Ia bersimpuh ketika pintu ruang operasi ditutup, menangis memohon.

Dua seperempat jam kemudian.

Wajah kekasih yang terbaring diam di atas ranjang terlihat begitu damai.

Ia menatapnya dalam sedih yang gelisah. Sembuh kamu harus sembuh, bisiknya pada sang kekasih. Tak lama dari situ, ketika hujan masih saja turun, ia harus berhadapan dengan rasa dukanya yang dalam. Patah hatinya malam itu.

Ia membuka kedua tangan yang menutup wajahnya.

Menghela nafas dalam untuk ingatan-ingatan yang menyakitkan. Terdengar lembut namanya disebut, dibawa angin yang menghembus. Ia menoleh ke kanan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada dirinya dan sunyi. Mungkin hanya perasaan saja, begitu bisik hatinya. Ia memakai earphonenya, berdiri dari duduknya, meletakkan tas ranselnya di bahu lalu melangkah pergi.

Selepasnya pergi,

Satu dua bercak darah menetes pada kursi besi itu.    

 

***

 

Flo menatap telepon genggamnya.

Ia baru saja mem-browsing mencari nama Dimas Aditya di Instagram atau pun di Facebook, tetapi tidak ditemukannya. Flo duduk bersila di atas tempat tidurnya, meletakkan guling di atas pangkuannya lalu satu tangannya diletakkan di atas guling untuk menopang dagunya, ia pun berpikir; berarti betul kata Yuli, Dimas telah menghapus semua akun sosial medianya sejak kekasihnya meninggal karena foto-foto kekasihnya banyak di situ. Sepertinya ia tak sanggup melihat wajah kekasihnya setiap saat. Tak bisa dibayangkan bagaimana rasa sedihnya Dimas saat itu. Setahun sudah lewat tapi Dimas masih saja berduka dan belum bisa melupakan kekasihnya.

Flo membayangkan wajah Dimas yang telah menggetarkan hatinya dan ia bertekad untuk membantu pria itu melalui kesedihannya agar tidak berkepanjangan.

 

Lihat selengkapnya