“Ah, yang bener Flo … lo halu kali,” sahut Yuli dari ujung telepon.
“Beneran Yul, gue ga halu … sumpah, gue lihat banget … itu tangan ngusap-ngusap paha gue! Mana banyak darahnya lagi, hiiii,” kata Flo bergidik. “Padahal siang dan terang ya di situ, emang sih kalau malem itu perpus rada angker, tapi kok siang … aneh ya,” heran Yuli sambil garuk-garuk ketiaknya. “Yaelah Yul, setan mana tau waktu sih,” tukas Flo karena temannya seperti yang tak percaya. “Ok, ok … sekarang lupain soal itu … gue mau nanya, sama Dimas gimana, lo berhasil deketin dia ngga?’ tanya Yuli penasaran.
“Hehehe,” kekeh Flo sambil menyandarkan punggungnya di kursi kamarnya. “Dih uler keket, malah ketawa … berarti sukses dong? Gimana ih, cerita dong,” desak Yuli. “Sukses dong … kita malah udah sempet denger lagu Pamungkas bareng di satu earphone,” cerita Flo. “Wah yang bener lo?” seru Yuli tak percaya.
“Tapi belum sempet gue ngomong lebih jauh, eh gue udah keburu kabur, huh,” sesal Flo. “Ga sangka sih, biasanya Dimas itu susah dideketin loh, beberapa temen gue malah sempet diusir sama dia hahaha,” tawa Yuli, “trus apa rencana lo selanjutnya untuk menyelamatkan mister idaman lo itu dari kesedihannya?”
Flo tersenyum. “Kayaknya dari sini let it flo aja,” jawab Flo mengganti ‘flow’ menjadi ‘Flo’, namanya.
“Hehehe, bisa aja lo uler keket, ok deh, kalau lo perlu bantuan gue, call aja, gue ready for you Baby,” ujar Yuli. Flo tertawa dan mereka menyudahi teleponnya. Setelah telepon genggam ditutup. Flo mematikan lampu kamar dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya menarik selimutnya. Bibirnya menyungging senyum. Matanya menatap langit-langit kamar yang dipenuhi bintang-bintang “glow in the dark”. Flo yakin besok di kampus segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah baginya untuk mendekati Dimas.
Srek. Srek.
Flo terdiam. Senyumnya menghilang dari bibirnya seketika. Ia terpaku mendengar sebuah suara.
Srek. Srek.
Tubuh Flo menjadi tegang. Jantungnya berdebar takut. Ia seakan tak bisa menggerakkan tubuhnya hanya bola matanya yang bergerak ke kanan kiri. Suara apa itu? Seperti langkah kaki, Batinnya. Tapi kaki siapa? Karena di kamar ini ia hanya sendiri.
Hhhhhhhh.
Jantung Flo seakan berhenti berdetak ketika mendengar helaan nafas pelan itu di dalam kamarnya. Kini ia yakin, ia tak sendiri di kamar ini! Dengan gemetar Flo meraih telepon genggamnya, menyalakan lampu senternya dan mulai menyoroti sudut-sudut kamarnya, tapi tidak ada apa pun atau siapa pun. Flo memberanikan diri untuk turun dari tempat tidurnya, berjongkok. Lalu pelan-pelan ia menyorot kolong tempat tidur.
Cahaya senter menerangi kolong tempat tidur, tetap tidak ada apa pun.
Flo mengerutkan kening, ia yakin tadi tak salah dengar. Ia mendengar suara langkah kaki dan desahan nafas, tapi setelah dicari tidak ada apa-apa, lalu suara apa itu? Flo duduk di pinggir tempat tidurnya, berpikir. Tiba-tiba di kasur tampak rembesan darah yang perlahan membesar tanpa Flo sadari. Dari rembesan darah tersebut keluar jari-jari tangan yang tiba-tiba memegang pundaknya dari belakang.
Flo terkesiap. Pada kaca rias besar yang berada tepat di depannya, ia bisa melihat jari jemari itu bergerak di bahunya. Jari dengan kuku-kuku panjang yang sama seperti yang ia lihat saat di perpustakaan! Flo menjadi gemetar ketakutan. Gerahamnya terasa mengatup, sulit untuk digerakkan bahkan hanya untuk berteriak minta tolong saja. Perlahan dari belakang kepalanya muncul sebentuk wajah perempuan berambut panjang, berkulit pucat pasi, dengan darah menetes dari hidungnya. Bibirnya menyeringai.