Kanksa

Tika Lestari
Chapter #26

Rawat Jalan

Malam hari, pertama kalinya menginap di rumah sakit. Sedari tadi Bima sudah pulas tidurnya. Tidak dengan Luna, tidur beralaskan karpet di bawah bed. Meskipun punya uang untuk upgrade kamar VIP, Luna tidak mau. Katanya takut kalau jaga sendirian. Mending di ruangan umum, biasa komunikasi dengan keluarga pasien lain.

Kelas kamar untuk peserta BPJS ketenagakerjaan menggunakan kelas 2. Satu ruangan diisi 4 orang, pikir Luna sudah pas, tidak terlalu sepi dan tidak terlalu rame. Selain karena lebih suka berjaga ada teman, ngapain melewatkan fasilitas yang setiap bulan kita rutin bayar?

Jadwal operasi besok pukul 8 pagi. Sejak pukul 10 malam Bima sudah puasa, jadi memilih tidur dari pada merasa lapar. Sementara Luna, dalam hatinya masih saja bergejolak. Rasanya ingin menangis, tapi tak ada air mata yang hendak keluar.

Luna memilih menjaga Bima sendirian, melarang Umik datang ke rumah sakit. Kalau ada Umik, khawatir akan kesehatannya. Jadi cukup Luna saja yang menjaga. Urusan kerja hari Senin, Luna bisa ambil cuti. Lagian urusan edit masih bisa Luna kerjakan saat di rumah sakit.

Deadline pekerjaan numpuk, merawat suami, bagaimana tidak pusing kepala Luna ini.

*

Sesampainya di ruang operasi, Luna membantu Bima melepas pakaian. Menggantinya dengan kostum operasi yang berwarna hijau. Memasang penutup kepala dengan hati-hati.

"Jangan kepikiran gitu, operasi cuma bentar ini," ucap Bima.

Luna mana bisa tidak kepikiran, seumur hidup baru ini berhadapan dengan ruang operasi. Apalagi menyangkut orang yang teramat dia cintai. Luna hanya menunduk sambil melanjutkan aktivitas.

"Ini operasi ketiga kali yang," Bima berkata lagi.

"Ya tetap saja aku kepikiran," Luna ingat, Bima memang pernah operasi mata kanan dan kiri yang dilakukan dengan waktu berbeda.

"Harusnya aku lihat kamu senyum sebelum terhalang pintu operasi," Bima memohon.

Luna tidak bisa berpura-pura, direngkuh tangan Bima yang begitu dingin. Dicium dengan hormat.

"Aku tunggu di depan sampai kamu sadar yaa, banyakin istighfar, sholawat," Luna berkata.

"Oke, tunggu yaa di depan," jelas Bima.

Perawat kemudian mendong bed yang Bima tiduri menuju ruangan operasi. Usai pintu ditutup, Luna segera menuju ruang tunggu sadar pulih. Tak henti-hentinya berdoa untuk diberikan kelancaran operasi suaminya itu.

Satu jam operasi berlangsung, perawat menginformasikan untuk kembali ke ruang rawat inap. Luna melihat Bima tersenyum.

"Gimana tadi," tanya Luna.

"Aku bermimpi makan seblak yang, jadi laper," ucap Bima.

Lihat selengkapnya