Beberapa hari ini aktivitas Luna berubah. Sebelum berangkat kerja Luna merawat Bima dulu. Melap badan sebagai pengganti mandi. Dokter bilang kalau luka di jahitan operasi jangan kena air sebelum kering. Bima memang masih libur kerja karena proses penyembuhan. Sementara Umik yang menyiapkan makanan untuk Bima.
Ketika malam hari, Luna tak lupa memberikan terapi tangan untuk Bima. Mengangkat tangan Bima perlahan, karena memang tujuannya untuk kesembuhan. Tak jarang Bima kadang merintih karena sakit. Tapi memang harus dipaksa gerak supaya lekas sembuh.
Selain ke poli bedah tulang, Bima juga perlu datang ke rehabilitas medik untuk terapi gerak. Setiap minggu Luna izin untuk cuti. Sekalian menghabiskan cuti akhir tahun. Hingga beberapa rekan Luna sering menyindirnya. Luna yang mudah kena mental pun, setiap malam sering menangis. Bima yang menjadi sasarannya, Luna bukan marah, tapi lebih ke berkeluh-kesah.
"Yang, kalau aku udah gak bolehin kamu pergi kerja gitu, kamu keberatan nggak?" tanya Bima.
"Maksudnya gimana?" Luna bertanya.
"Kamu fokus aja di keluarga, kamu percaya kalau aku bisa nafkahin kamu," jelas Bima.
"Aku sebenarnya juga pengen yang, jadi istri, tinggal duduk manis dan terima gaji, tapi aku juga gak mau dianggap pengangguran," jelas Luna.
"Nggak ada yang berpikiran gitu yang, aku juga nggak ingin kamu tiap malam gerutu, nangis," jelas Bima, "aku bukannya nggak mau kamu bagi keluh kesah, tapi aku nggak mau kalau kamu merasa terbebani gitu dengan pekerjaan kamu saat ini," jelas Bima.
Memang beberapa hari ini, pekerjaan Luna sangat menumpuk. Sering kali Bima meminta untuk resign. Kalau mau berpenghasilan, tidak apa-apa dari rumah. Pusing dengan usaha sendiri, daripada pusing dengan usaha orang.
"Kata orang, kalau mau program hamil juga tidak boleh stres atau banyak pikiran," jelas Bima.
Luna membenarkan hal itu, Bunda juga pernah bilang kalau harus enjoy dalam menyikapi hari. Tidak boleh berikir buruk pada hari ke depan. Karena kalau terbebani, sel telur susah untuk dibuahi.
"Kamu pertimbangkan ya sayang, percaya sama aku, aku bisa banget kok nafkahin kamu," jelas Bima.
Luna hanya diam, tangannya merangkul suaminya itu. Merasakan kedamaian disetiap balasan rengkuhan tangan Bima. Benar kata orang, kalau usai menikah, sandaran ternyaman ya bahu suami. Meskipun di luar sana juga banyak sebagian yang salah memilih suami. Luna berharap sih mereka bisa kuat menjalani hidupnya.
*
"Sayang, air hangat sudah siap," Luna berjalan memanggil Bima yang masih rebahan di kamar.
Bima pikir mumpung Luna libur kerja, jadi tidak seberapa buru-buru untuk mandi pagi. Sesampai di kamar mandi, Luna segera menyeka Bima. Bima masih belum bisa mandi sendiri, karena gerakan tangan harus diperhatikan.
Sesakit-sakitnya tangan Bima, tangan lain pun jarinya bisa nakal. Lihat saja, Luna yang fokus membasuh badan Bima pun tak lepas dari grayangan tangan suaminya itu.
"Sayang, nanti kedengaran Umik," Luna mencoba menghindar.