Terkadang seseorang sibuk memohon apa yang menjadi keinginannya. Sedangkan mereka lupa atas nikmat yang sudah diterimanya. Lupa mensyukuri, selalu melihat doa yang belum terkabul. Sungguh tidak tau malu.
Begitu pun dengan Luna, kadang kala dirinya terlalu sibuk untuk memohon keinginan. Merasa bahwa dirinya sudah pantas untuk diamanahi seorang bayi. Tapi yang Luna lupakan, Sang Pencipta tentu memberi manusia sesuai kebutuhannya, bukan keinginannya.
Kadangkala dia merasa iri dengan seseorang yang baru menikah, langsung diamanahi buah hati. Termasuk seseorang yang hamil duluan, sementara Luna yang jelas-jelas menikah secara sah justru lama hamil. Dalam hatinya kadang terbesit, apa yang harus dia siapkan. Kadang pula timbul pertanyaan, kenapa dia tidak segera hamil.
"Kan kita dikasih waktu luang untuk pacaran dulu yang," selalu hal seperti itu yang Bima katakan.
"Pacaran sambil momong bocil kan bisa yang," Luna masih berusaha debat.
"Mana bisa, aku pasti rebutan ini," tangan Bima sudah menakup dada istrinya itu.
Kadang Luna berpikir, kenapa suaminya itu sangat mesum kalau udah dekat gini. Tangan jahilnya itu selalu membuat Luna kalang kabut untuk mencegah. Tapi ya Luna juga suka dengan ulah suaminya itu.
Kadang hati Luna menerima, kadang juga tak menerima. Namanya hati pasti berbolak-balik sesuai keadaan. Luna bersyukur karena tak merasa waktunya tersita untuk mengurus buah hati. Kadang ada teman yang curhat, untuk sekedar makan saja harus buru-buru. Mau jajan seblak pun mikir, karena lebih baik digunakan beli pampers. Belum lagi waktu dengan teman lain yang jelas-jelas tak dipunya.
"Jangan melamun," senggol Bima pada bahu Luna.
Luna terhenyak dari lamunan, mengembalikan posisi kacamata yang turun. Hidung Luna memang mansung ke dalam sih. Bima memberikan air putih pada istrinya itu.
Sudah sekitar satu jam yang lalu, Abah, Umik, Papa dan Mama berpamitan meninggalkan lokasi bandara Juanda. Luna dan Bima sedang menunggu datangnya pesawat yang membawa keduanya dan para jamaah ke tanah suci.