Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #1

Belajar Diam

Tidak ada yang pernah bertanya bagaimana rasanya tumbuh tanpa rasa aman. Aku bahkan belum sempat memahami arti kata "aman", ketika hidup sudah lebih dulu mengajariku bagaimana rasanya kehilangan.

Aku masih enam atau tujuh tahun, sekitar tahun 2008–2009, ketika aku belajar bahwa suara bisa mengundang amarah.

Aku lahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara di Kota B. Kakak perempuanku bernama Nita. Hampir segala hal dipercayakan kepadaku oleh Ina, ibuku. Bukan kepada Nita, padahal seharusnya tanggung jawab itu jatuh ke sulung, bukan ke bungsu.

Dari situlah rasa iri tumbuh seperti rumput liar di hati Nita. Ia memandangku sebagai anak bungsu yang seolah selalu mendapat apa pun yang diinginkannya. Padahal Nita tahu, aku pun merasakan luka yang sama, menerima perlakuan kasar dan sikap yang tak berbeda.

Namun alih-alih menjadi sekutu, kami justru tumbuh dalam jarak. Nita membawa lukanya sendiri, dan aku membawa milikku. Masing-masing dalam sunyi.

Sosok ibu yang selalu kucintai dengan tulus justru menjadi suara yang paling melukaiku. Kata-kata tajam itu meluncur tanpa ampun. Bukan hanya lewat ucapan. Tubuh mungilku pun pernah mengenal sakit dari tangan yang semestinya melindungi.

Kata-kata itu tidak perlu keras untuk menghantam. Cukup berulang. Cukup dari mulut yang sama, di waktu yang berbeda-beda.

Aku menunduk. Jariku saling menggenggam erat. Napasku mulai gemetar. Mataku memanas. Aku mencoba menahan, seperti biasa. Tetapi kali ini gagal. Setetes air mata jatuh, membasahi pipiku dalam diam.

Menangis pun, bagiku, adalah kesalahan yang harus disembunyikan.

Sejak usia yang terlalu muda untuk melawan, suaraku terkubur di tenggorokan oleh rasa takut yang datang sebelum waktunya. Setiap kali sosok yang kupanggil Ibu pulang dengan beban dari dunia luar, amarah itu pasti menemukan jalannya. Padaku. Pada kakakku. Kami dua anak belajar diam dengan cara masing-masing.

Pernah suatu malam, saat aku tenggelam dalam huruf-huruf pelajaran di ruang dekat televisi, ibuku tiba-tiba datang membawa ember penuh air dingin.

Tanpa peringatan, air itu disiramkan ke tubuhku.

Aku tersentak. Dingin menampar kulitku, membuat tubuh kecilku bergetar. Buku-buku dan catatan ikut luruh, huruf-hurufnya melebur oleh air.

Aku tak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat. Dalam ingatanku, aku hanya duduk dan belajar. Namun aku mengerti satu hal sejak lama: di mata ibuku, apa pun yang kulakukan akan tampak keliru.

Suatu pagi, aku pernah meminta sesuatu yang sesungguhnya wajar bagi anak seusiaku. Keinginan polos dari hati yang masih lapar akan dunia.

Alih-alih mendengarkan, ibuku justru meraih sebotol saus pedas bermerek terkenal, lalu menekannya langsung ke mulutku. Padahal ibuku tahu, aku memiliki riwayat penyakit yang sudah berkali-kali membuatku dibawa berobat.

Aku terpaksa menelan cairan panas itu, menahan perih yang membakar dari lidah hingga ke dada. Mencoba bertahan. Begitu ibuku pergi untuk urusan lain, aku segera memuntahkan semuanya.

Namun, ada kalanya aku dibanjiri hal-hal yang tampak seperti kasih. Baju baru, tas, sepatu, perhiasan, juga segala keperluan sekolah, selalu tersedia. Tak pernah ada yang kurang secara materi.

Tetapi, keinginan yang lahir dari hatiku sendiri tak selalu bisa kumiliki begitu saja. Kadang, sebelum sebuah harapan dikabulkan, aku harus lebih dulu menelan kepedihan.

Kekerasan verbal dan fisik adalah harga yang harus kubayar. Cubitan, pukulan dengan sapu, tarikan rambut, serta kata-kata kasar yang menjelma hinaan: monyet, anjing, babi. Semuanya jatuh silih berganti padaku.

Lihat selengkapnya