Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #2

Rumah Berdarah

Tahun 2014. Aku berusia dua belas tahun.

Malam itu membelah hidupku menjadi dua bagian: sebelum dan sesudah. Seperti pisau tajam yang memisahkan daging dari tulang.

Namun, sebelum malam itu menjelma menjadi mimpi buruk yang tak pernah usai, pagi itu menipu dengan ketenangannya.

Di rumah yang terlalu sunyi untuk hari Minggu, hanya tinggal aku dan kakakku, Nita, yang lima tahun lebih tua dariku.

Dua tubuh yang berbagi atap, tapi tidak pernah berbagi dunia. Dua hati yang berdetak dalam irama berbeda, tak pernah selaras, tak pernah dekat.

Pada usia dua belas, ketika gadis lain bermimpi tentang cinta pertama dan masa depan yang cerah, aku tidak tahu bahwa pagi itu akan berubah menjadi malam tergelap dalam hidupku.

Tak ada yang memberitahu. Tak ada yang mempersiapkan jiwa kecilku untuk menghadapi kehancuran yang akan datang. Aku hanya tahu, suara-suara yang meledak dari lantai atas akan melekat di kepalaku selamanya. Bagai darah kering yang tak bisa dicuci bersih.

Nita memiliki kebebasan yang tak kumiliki. Dia bisa keluar malam, pulang larut, berteman dengan siapa saja. Sementara aku selalu diawasi ketat, setiap langkahku dipantau, setiap nama yang kusebut dipertanyakan. Namun entah mengapa, di mata Nita, semua itu tak pernah cukup. Yang dia lihat hanyalah aku, anak bungsu yang justru diberi tanggung jawab yang semestinya menjadi beban kakak sulung.

Padahal setiap baju dan barang yang dibelikan ibuku selalu kami terima dalam porsi yang sama. Aku tak pernah mengambil milik Nita, tak pernah merasa lebih berhak. Namun di matanya, aku tetap menjadi anak yang "lebih." Iri itu tumbuh pelan, menggerogoti dari dalam tanpa terlihat.

Di pagi yang cerah, terlalu cerah untuk menyimpan bencana, aku merasakan hantaman pertama menghujam dadaku.

Nita turun dari tangga, setengah telanjang tanpa bawahan, bak hantu yang kehilangan sebagian dirinya. Langkahnya goyah menuju kamar mandi di lantai bawah. Suaranya, yang biasanya jarang ditujukan padaku, kali ini memohon.

"Tolong… panggil Mak Umi."

Kata-kata itu menggantung di udara, tak bisa kugenggam. Aku bingung. Kebingungan itu segera berubah menjadi ketakutan saat menyaksikan kakakku bolak-balik dari atas ke kamar mandi, kesakitan, mengejan. Ada sesuatu yang ingin keluar dari tubuhnya. Sesuatu yang gelap dan mengerikan.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Tubuh kecilku mematung. Rasa takut menancap di kakiku, membuatku tak bisa bergerak, tak bisa berpikir, hanya bisa merasakan. Bahwa ada yang sangat salah.

Waktu berjalan lambat dan kental.

Lalu, Karim pulang, membawa kantong belanja seolah hari itu biasa saja, seakan dunia tak sedang runtuh.

Aku berlari menghampirinya, suaraku gemetar,

"Ayah, Kakak… kesakitan. Aku tidak tahu harus bagaimana. Tolong periksa ke lantai atas."

Karim naik ke lantai atas dengan kantong belanjaan masih di tangan. Detail aneh yang takkan pernah kulupakan: betapa absurdnya momen itu, bagaimana kepingan-kepingan kenyataan tidak pernah cocok satu sama lain.

Kemudian, teriakan itu terdengar,

"Ya Allah, Nita… bayi!"

Kata-kata itu langsung kudengar, meski aku tak berani naik untuk melihat, meski aku tak sanggup menyaksikan. Dalam benakku, aku membayangkan: Nita berdiri di dekat meja komputer yang sudah kuhafal letaknya, tubuhnya bergetar, dan Karim terhenti di dua anak tangga terakhir, membeku dalam keterkejutan.

Lihat selengkapnya