Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #3

Doa yang Tak Dikabulkan

Waktu berjalan tanpa suara, merayap di sudut-sudut kehidupan, menunggu untuk merenggut apa yang paling kucintai.

Kali ini, ia datang untuk Kakek Haris.

Kabar itu merembes perlahan. Kakek Haris sakit. Tubuh yang dulu menjadi bentengku kini berubah menjadi reruntuhan. Penyakit merenggut kekuatannya satu per satu, napas demi napas. Aku menyaksikannya layu, bagai bunga yang kehilangan air.

Hari-hari pengobatan dijalani dengan harapan yang rapuh. Ua Rivan, kakak kandung ibuku, adalah anak sulung dari tiga bersaudara yang kini hanya tersisa berdua setelah adik bungsu mereka pergi saat masih bayi. Ia dan ibuku bergantian mengantar Kakek Haris ke rumah sakit, membawa doa yang terasa bak bisikan sia-sia yang tersisa.

Suatu hari, di rumah yang terasa seperti ruang tunggu kematian, berkumpullah aku, Ua Rivan yang baru tiba dari jauh, dan Ina yang sedang tidak bekerja. Momen itu terukir bagai bekas luka bakar di ingatanku, permanen, menyakitkan.

Kakek Haris sedang bersiap ke rumah sakit. Kemeja sudah terpasang rapi di tubuhnya yang semakin kurus. Namun ketika tiba giliran celana bahan itu, tangannya gemetar. Tubuh yang pernah kuat itu berlutut pada rasa sakit.

Tetapi yang paling mencabik hatiku: Kakek Haris masih bisa tertawa.

Tawa yang tulus meski raganya telah dijajah penyakit. Suaranya serak, parau, namun masih menyimpan kehangatan.

Ia tertawa, "Masa saya tidak bisa pakai celana."

Aku mendengar kata-kata itu dan merasa ada yang robek di dalam dadaku. Ua Rivan segera membantu, tangannya menyentuh Kakek Haris yang ringkih.

Tak lama kemudian, mereka berangkat, meninggalkan rumah yang tiba-tiba terasa kosong.

Bulan-bulan berlalu dengan kekejaman yang terukur. Setiap hari adalah perhitungan mundur. Kakek Haris, sosok yang biasa berjalan kaki ke mana pun ia mau, menggunakan angkutan umum dengan semangat yang menolak padam.

Aku dan ibuku selalu khawatir. Takut ia terjatuh. Takut ia kelelahan. Takut hal buruk menerkamnya di jalan.

Dan kekhawatiran itu menjadi kenyataan.

Suatu waktu, ketika Kakek Haris tampak prima, atau setidaknya demikian, ia memutuskan pergi ke rumah Nenek Jumi yang jaraknya cukup jauh. Di tengah perjalanan, tubuhnya ambruk. Pingsan di tempat yang asing.

Beruntung, orang-orang yang mengenalnya karena profesinya sebagai ustad langsung membawanya ke rumah Nenek Jumi. Kakek Haris menolak dibawa ke rumah sakit. Keras kepala, sifat yang kuwarisi darinya. Syukurlah, kondisinya masih stabil. Kelelahan, mungkin. Lalu kembali bugar.

Namun badai hitam belum usai.

Suatu hari, ketika Kakek Haris tinggal di rumahku, ia ingin ke kamar mandi. Lantai keramik yang licin menjadi jebakan. Ia terjatuh. Kepalanya terbentur keras.

Langsung dilarikan ke rumah sakit.

Di rumah sakit yang cukup jauh dari rumahku, Kakek Haris dirawat intensif di ICU. Kondisinya naik turun, kadang stabil, kadang memburuk, terus berjuang melawan penyakit yang melemahkan tubuhnya.

Aku menolak setiap kali diajak menjenguk.

Entah mengapa tubuhku begitu keras menolak. Mungkin aku tak sanggup melihat Kakek Haris dalam keadaan koma, tubuh penuh selang, wajah yang tak lagi tersenyum.

Mungkin aku pengecut.

Mungkin ketakutanku pada kehilangan terlalu besar untuk kuhadapi.

Hingga suatu hari, aku mendengar kabar yang menyentak: Kakek Haris ingin bertemu denganku.

Nenek Jumi pernah bercerita bahwa aku adalah cucu yang paling disayang Kakek Haris, lebih dari yang lain. Rasa sayang yang begitu dalam, terlihat di tatapannya setiap kali kami bertemu.

Kenapa aku? Aku tidak tahu. Mungkin karena aku yang paling membutuhkan, yang paling sering bersembunyi di balik punggungnya saat amarah ibuku meledak.

Aku tiga belas tahun. Belum tahu cara menghadapi kehilangan.

Akhirnya, aku memberanikan diri.

Bersama ibuku dan Ua Rivan, kami melangkah ke rumah sakit. Setiap langkah adalah perjuangan melawan insting yang berteriak untuk lari.

Ketika aku memasuki ruangan itu, hatiku remuk.

Kakek Haris terbaring dengan selang-selang menempel di tubuhnya. Kulitnya pucat, cekung. Namun ketika matanya menangkap sosokku, wajahnya berubah.

Sumringah. Gembira.

Cahaya yang sudah lama padam tiba-tiba menyala di matanya. Bibirnya membentuk tawa, suaranya lemah tapi tetap membawa kehangatan yang kukenal.

Tangannya yang kurus meraih tanganku. Genggamannya tak sekuat dulu, namun masih ada kelembutan di sana.

Kakek Haris mencoba berbicara dengan suara parau yang hampir tak terdengar,

"Nak... Kakek kangen."

Kata-kata itu merobohkan semua pertahananku. Aku ingin menangis, tapi aku tahu Kakek Haris tak ingin melihat air mataku. Ia selalu benci saat aku menangis, selalu mengusap pipiku dengan ibu jari yang kasar namun penuh kasih.

Nenek Jumi yang berdiri di samping tempat tidur berkata pelan,

Lihat selengkapnya