Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #4

Tubuhku Bukan Milikku

Musik adalah pelarian pertamaku.

Ketika rumah terasa seperti medan perang dan sekolah menjadi panggung di mana aku harus terus berpura-pura baik-baik saja, musik menjadi satu-satunya tempat di mana aku bisa bernapas tanpa harus menjelaskan mengapa dadaku sesak.

Earphone menjadi tembok tak kasat mata yang memisahkanku dari dunia yang terlalu keras, terlalu kasar, dan terlalu banyak menuntut.

Tujuh belas tahun. Usia di mana orang-orang berkata bahwa kamu sudah cukup dewasa untuk memahami segalanya. Namun tidak ada yang mengajarkanku apa yang harus kulakukan ketika dunia mulai mengambil hal-hal yang tidak pernah kutawarkan.

Di sana, aku bertemu Bara. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Salah satu dari sekian orang yang berada di lingkaran yang sama tanpa pernah benar-benar masuk ke dalamnya.

Aku merasa nyaman karena dia tidak pernah bertanya terlalu banyak, tidak pernah mencoba menembus batas yang tak ingin kubuka. Dan batas itu terasa aman karena tidak ada yang bisa diambil, tidak ada yang bisa dilukai.

Atau begitu kupikir.

Hari-hari berjalan seperti biasa. Sampai suatu hari, ponselku bergetar.

Notifikasi darinya.

Aku membukanya tanpa pikir panjang.

Namun kali ini berbeda.

Foto itu muncul di layar.

Kelaminnya. Di kamar mandi. Eksplisit. Tidak ada yang bisa disalahartikan.

Aku bahkan tidak yakin apakah itu benar-benar miliknya. Namun itu tidak mengubah apa pun.

Waktu berhenti.

Dunia menyempit menjadi layar ponsel di tanganku yang tiba-tiba terasa kotor, sesuatu yang tidak bisa dicuci bersih.

Aku tidak mengerti. Kami tidak sedang dalam percakapan yang intens. Kami bahkan tidak sedang membicarakan apa pun yang mengarah ke sana.

Lalu, tiba-tiba, ini.

Tanpa peringatan. Tanpa konteks. Tanpa alasan.

Hanya foto itu di layar ponselku, memaksaku melihat sesuatu yang tidak pernah kuminta.

Lihat selengkapnya