Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #5

Umpan

Masih tujuh belas. Dan aku sudah belajar bahwa tempat yang terasa seperti pelarian hampir selalu berubah menjadi sesuatu yang lain.

PKL di hotel bintang empat selama enam bulan, masih di kota yang sama, tapi terasa seperti dunia yang berbeda dari rumah.

Kupikir aku butuh itu. Tempat baru. Orang baru. Rutinitas yang tidak menyimpan kenangan siapa pun yang pernah menyakitiku. Bukan rumah yang penuh tuntutan, bukan sekolah yang sudah tidak terasa aman. Tempat di mana aku bisa bernapas tanpa harus waspada setiap detik.

Aku tidak tahu waktu itu bahwa predator tidak mengenal batas kota.

Dan pada awalnya, aku benar.

Di hotel, bagian dapur terbagi menjadi dua: pastry dan kitchen. Aku di kitchen, sesuai jurusanku.

Di pastry, ada chef pastry bernama Pak Rudi, dan seorang staf pastry bernama Pak Johan. Pak Johan suka jahil, tapi dengan cara yang tidak pernah membuatku tidak nyaman, bercanda soal adonan gagal atau kue gosong, tidak lebih dari itu. Ada juga satu staf pastry wanita yang sudah cukup berumur, perannya di pastry cukup penting meski ia lebih banyak bekerja tanpa banyak bicara. Anak PKL di pastry ada tiga orang, perempuan semua.

Di kitchen, ada seorang chef bernama Pak Hendra (kepala dapur), Pak Ilyas sebagai chef de partie (kepala bagian), lima staff kitchen termasuk Aufar dan Ares, serta dua steward. Selain itu, ada kami, anak PKL di kitchen yang semuanya perempuan. Awalnya kami berlima, tapi salah satu sudah selesai masa PKL-nya lebih dulu, jadi sekarang tinggal berempat, termasuk aku.

Dan ada Aufar dan Ares.

Keduanya bekerja di kitchen, sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun. Aku tujuh belas tahun.

Keduanya sama-sama aktif dan banyak bicara.

Mereka berbeda dari staf lain. Lebih perhatian. Tidak dalam cara yang mencolok, tapi dalam hal-hal kecil yang membuatku merasa... dilihat. Seperti ada orang yang peduli apakah aku baik-baik saja atau tidak.

Aku merasa aman di sana. Lebih aman dari rumah, di mana ibuku bisa meledak kapan saja. Lebih aman dari sekolah, di mana Bara mengajarkan bahwa tidak ada yang bisa dipercaya, dan Pak Arka mengajarkan bahwa tubuhku bukan milikku.

Di kitchen, aku bisa fokus pada pekerjaan. Pada bahan-bahan yang harus disiapkan. Pada tugas-tugas yang jelas.

Tidak ada yang ambigu.

Atau begitu kupikir.

Suatu kali, aku sedang membawa bahan yang cukup berat dari gudang ke kitchen. Tanganku gemetar. Wadah plastik besar berisi sayuran hampir terpeleset. Aufar segera datang.

"Sini, biar aku bantu."

Tangannya mengambil alih beban di tanganku. Tidak bertanya. Langsung membantu.

"Makasih."

"Sama-sama. Lain kali bilang aja kalau berat. Jangan dipaksain sendiri."

Suaranya lembut. Tidak menggurui. Hanya peduli.

Aku merasa... dihargai. Seperti ada orang yang melihatku bukan hanya sebagai anak PKL yang harus mengerjakan apa saja, tapi sebagai manusia yang bisa capek, yang bisa butuh bantuan.

Beberapa hari kemudian, Aufar mendekat saat aku sedang menyiapkan bahan di meja.

"Kamu denger musik apa sih biasanya?"

Pertanyaan yang tidak kuduga. Jarang ada yang bertanya soal musik.

"Hard rock. Kayak Guns N' Roses gitu."

Mata Aufar berbinar.

"Serius? Kok bisa sama."

Dan seperti itu, kami mulai bicara tentang musik. Aufar ternyata sering pakai studio bersama teman-temannya.

"Kapan-kapan mau ke studio nggak? Weekend depan kalau kosong, mau ikut?"

"Boleh aja sih."

"Yaudah gampang. Nanti tinggal diatur jadwal pastinya."

Akhirnya ada tempat untuk melampiaskan segalanya lewat musik.

Tapi rencana itu dibatalkan oleh Aufar sendiri. Beberapa hari sebelum weekend, dia bilang ada urusan mendadak.

"Lain kali aja ya."

"Nggak apa-apa."

Tapi setelah itu, Aufar mulai jaga jarak. Seperti dia tahu sesuatu. Seolah mundur dengan sengaja. Dia masih ramah, tapi tidak lagi mengajak bicara panjang. Tidak lagi personal.

Dan Ares mengambil alih.

Ares yang lebih sering mengajak bicara. Yang lebih sering bertanya kabar. Yang lebih sering... ada.

Aku tidak curiga.

Lain waktu, aku sedang datang bulan. Hari pertama yang selalu paling menyiksa. Perutku kram. Wajahku pucat. Aku mencoba bertahan, memotong bahan dengan tangan yang tidak stabil, tapi Ares sepertinya tahu.

"Kamu masih kuat?"

"Masih kuat."

Ares diam sebentar. Lalu pergi. Tak lama kemudian, dia kembali dengan segelas air hangat.

"Nih, minum. Biar perutnya enakan."

Aku tidak menyangka. Laki-laki jarang peduli dengan hal seperti ini. Jarang tahu. Atau kalau tahu pun, jarang mau repot.

"Makasih."

"Kalau masih sakit, istirahat aja sebentar. Biar aku yang handle."

"Nggak usah. Aku masih kuat."

"Yaudah. Nanti kalau mau istirahat, istirahat aja."

Lalu tangannya, sekilas, menyentuh kepalaku. Bukan lama. Hanya sesaat. Seperti gerakan refleks.

Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Jadi aku hanya diam. Minum air hangatnya. Merasakan kehangatan yang asing.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ada orang yang peduli pada tubuhku. Bukan untuk menyakiti. Bukan untuk mengambil. Tapi untuk menjaga.

Aku hanya mengangguk. Menyerap perhatian yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Atau setidaknya, begitu yang kupercaya.

Aku berpikir: ini yang namanya teman baik. Ini yang namanya orang yang peduli.

Aku tidak pernah punya itu sebelumnya. Jadi aku tidak tahu bahwa kepedulian bisa menjadi jebakan. Bahwa kebaikan bisa punya harga.

Lama-kelamaan, Ares dan aku semakin dekat. Atau lebih tepatnya, dia yang semakin dekat. Aku hanya merespons. Menerima kebaikannya dengan hati yang lapar akan perhatian.

Lihat selengkapnya