Kanvas Bekas Luka

vaelorar
Chapter #6

Yang Memilih Diam

Keesokan harinya, aku dan Ares masuk di jadwal yang sama. Kebetulan, mungkin. Atau mungkin tidak.

Aku sedang memotong buah di ruangan chef de partie. Pisau bergerak otomatis di tanganku. Potong. Pisahkan. Buang.

Tak berapa lama, Ares datang. Berkali-kali memanggil namaku. Suaranya membuat pisau di tanganku nyaris tergelincir. Jantungku berhenti sedetik, lalu berdetak terlalu cepat.

"Hmm."

"Kamu kenapa? Marah sama aku ya?"

Aku tidak melihatnya. Mataku terpaku pada buah di hadapanku. Potong. Pisahkan. Buang.

"Nggak."

"Kamu marahnya sama aku? Maafin aku ya. Maafin aku ya tentang kemarin."

Maaf. Kata yang jatuh seperti kerikil di danau. Membuat riak, tapi tidak mengubah apa-apa di bawah permukaan.

Aku diam. Pisau di tanganku terus bergerak.

"Maafin aku ya. Aku salah kemarin."

Diam.

"Maaf ya."

Diam.

Ares menunggu. Menunggu kata-kata yang tidak akan pernah datang dari mulutku. Lalu dia pergi.

Setelah itu, aku tidak lagi dekat dengan Ares. Hanya saja, Ares tetap ingin dekat. Aku mencoba menjaga jarak. Mencoba membangun tembok.

Ares mengirim pesan kepadaku. Tak pernah kubalas lagi.

Aku pernah membalas sekali. Satu kali saja. Kesalahan yang akan kusesali.

Dan Ares langsung meminta sesuatu yang membuat dadaku mual.

"Fotoin payudara kamu dong, aku mau liat."

Aku membeku. Kata-kata itu membuat perutku melilit.

Tak lama kemudian, muncul pesan lagi.

"Kemaluan kamu juga."

Kata-kata itu mendarat bagai ludah di wajah.

Aku sengaja mengirimkan foto kain yang ada di dekatku, sebagai tanda tegas bahwa aku menolak. Hanya itu.

"Ga keliatan, fotonya coba yang bener."

"Nggak mau."

Sejak itu, aku tak lagi membalas pesan dari Ares. Hapus. Blokir. Pergi. Berharap dengan itu aku bisa menghapus semua yang sudah terjadi.

Aku salah.

Beberapa minggu setelah Ares meminta maaf yang tidak pernah kuterima, suatu hari aku sedang menyiapkan potongan bahan di dapur.

Pisau melaju cepat. Terlalu cepat. Tanganku ikut tersayat.

Darah mengalir. Lumayan banyak. Merah cerah yang kontras dengan putihnya talenan.

Aku tidak kaget. Tidak teriak. Bahkan tidak merasa sakit pada awalnya. Hanya menatap darah yang mengucur dengan tatapan kosong.

"Eh, tanganmu!" Pak Johan, staf pastry yang sudah berumur, yang sering jahil tapi tidak pernah membuatku risih, berteriak panik.

Baru saat itu aku tersadar. Baru saat itu rasa perih datang. Tajam. Menyengat.

Sesaat kemudian, Ares muncul. Matanya tertuju pada tanganku yang masih menetes darah.

Tanpa banyak bicara, Ares membawaku ke ruangan chef de partie. Membersihkan luka. Membalutnya dengan hati-hati. Tangannya lembut. Tidak seperti tangan yang pernah menyentuh pahaku tanpa izin.

Aku diam saja. Membiarkan Ares membalut lukaku.

Karena ini membingungkan.

Ares bisa begini. Peduli. Seperti orang yang berbeda. Seakan ada dua Ares. Yang satu baik, yang satu menakutkan. Dan aku tak pernah tahu yang mana yang akan muncul.

Itulah yang paling menakutkan. Bukan konsistensi kejahatan. Tapi inkonsistensi kebaikan.

Lalu suatu hari, aku dan Pak Ilyas, chef de partie-ku, sedang bersebelahan di meja dapur. Menyiapkan sajian. Tanganku sibuk memotong, memisahkan, mengupas.

Tiba-tiba Pak Ilyas menampar bokong kiriku.

Dunia berhenti.

Kaget. Tubuhku membeku di tempat. Jemariku yang memegang pisau bergetar.

Ada saksi di situ. Ares. Tapi Ares pun diam. Seolah tidak melihat apa-apa. Seperti ini hal yang wajar.

Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Marah? Berteriak? Menampar balik?

Tapi ini chef de partie-ku. Ini atasanku. Orang yang bisa menentukan nilai PKL-ku, yang bisa menentukan masa depanku.

Tidak ada yang aman. Tidak pernah ada. Tidak di rumah. Tidak di sini.

Aku merasa najis. Dikhianati oleh tempat yang selama ini kuanggap sebagai rumah kedua.

Lihat selengkapnya