Kanvas Bekas Luka

Ravienna Vaelora
Chapter #7

Aku Ikut Mati Bersamanya

Hari itu datang tanpa aba-aba.

Aku sembilan belas tahun. 24 April 2021. Ramadan.

Tidak ada firasat yang benar-benar siap. Tidak ada kalimat pamungkas yang sempat disusun rapi di kepala. Semuanya terasa terlalu cepat, tapi juga anehnya seperti hal yang sudah lama menunggu waktunya sendiri.

Hipertensi sudah menemaninya bertahun-tahun. Tekanan darah yang naik turun, obat yang harus diminum rutin, pantangan-pantangan kecil yang kadang dia ikuti, kadang tidak.

Aku tahu itu. Tapi mengetahui dan sungguh percaya bahwa tubuh seseorang bisa menyerah adalah dua hal yang berbeda. Aku selalu pikir Ina terlalu keras untuk tubuhnya. Terlalu keras untuk menyerah pada sesuatu sekecil tekanan darah.

Setahun sebelum malam itu, kondisi ibuku sudah mulai menurun. Tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Akhirnya, Teh Fira, seseorang yang dulu pernah bekerja di kantor ibuku, mulai bekerja di rumah kami sebagai ART. Tugasnya bukan sekadar mengurus rumah, tapi juga merawat ibuku. Seperti suster pribadi. Membantu minum obat, menemani kontrol ke dokter, mendampingi sehari-hari.

Malam itu, sebelum semuanya jatuh, ibuku memintaku menghubungi dokter langganannya.

"Hubungi dokter. Bilang Mamih mau kontrol."

Aku langsung mengambil ponsel dan menelepon. Nada sambung berbunyi beberapa kali. Lalu diangkat. Aku menyampaikan bahwa ibuku ingin membuat jadwal kontrol. Tapi jawabannya singkat: dokternya sedang cuti, belum bisa dijadwalkan.

Aku kembali ke kamar ibuku.

"Mih, dokternya sedang cuti. Belum bisa."

Ibuku diam sebentar. Lalu hanya mengangguk pelan.

Beberapa jam kemudian, kondisinya tiba-tiba drop.

Ia terus memintaku membetulkan bantalnya. Berkali-kali. Setiap kali kugeser, setiap kali kuperbaiki posisinya, ia masih merasa ada yang salah. Tidak ada posisi yang benar. Tidak ada yang cukup nyaman. Raganya seperti sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak bisa dilihat.

Aku selalu di sampingnya. Membetulkan lagi, menyelimuti ulang, tidak beranjak.

Lalu ia bicara.

"Itu... banyak semut di dinding."

Aku menoleh ke arah yang ditunjuknya. Dinding itu kosong. Tidak ada apa pun. Tidak ada semut.

Aku diam. Tapi ada yang bergeser di dalam dadaku. Seperti nada yang salah di tengah lagu yang sudah kuhafal. Perasaanku sudah tidak enak sejak saat itu. Tubuhku tahu sebelum pikiranku mau mengakui.

Aku minta Teh Fira membangunkan Nita dan Gilang.

Ternyata tidak mudah. Tidur mereka terlalu nyenyak untuk malam yang seperti ini.

Aku tidak berkomentar. Tidak ada yang kuucapkan tentang itu. Tapi aku catat, di tempat yang tidak mudah dilupakan.

Tak lama setelah itu, ibuku dibawa ke rumah sakit.

Di rumah sakit, ibuku langsung masuk ICU. Dokter bergerak cepat, melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menjaga jantungnya tetap berdenyut. Aku terpaku di luar, di antara bau antiseptik dan suara alat medis yang berdengung tanpa henti, menatap pintu yang memisahkan kami.

Lalu dokter keluar dan bilang, pihak keluarga boleh masuk mendampingi. Maksimal dua orang.

Aku langsung tahu harus masuk. Ayahku juga.

Tapi aku menunggu sebentar. Menunggu kakakku bersuara. Menunggu ia mengajukan diri, mengatakan bahwa ia juga ingin ada di sana, bahwa ini momen yang tidak bisa diulang.

Lihat selengkapnya